Tag Archives: Perjalanan

Manusia Kereta

Laki-laki paruh baya terkantuk-kantuk di dalam kereta. Ibu muda melemparkan pandangan ke luar, entah apa yang dilihatnya. Pria tua sibuk dengan berlembar-lembar berita koran. Bapak-anak berbisik-bisik di tengah deru laju kereta. Rohaniwati berpegangan erat pada gantungan seperti kekuatan iman yang tak tergoyahkan. Kondektur berkeliling penuh curiga. Anak muda nglesot di lantai kereta dan eksekutif muda di depanku sibuk dengan gadgetnya.

Apa yang mereka cari. Apa yang mereka harapan. Mereka larut dalam dunia mereka sendiri-sendiri. Para manusia kereta memadati gerbong-gerbong yang sempit dengan urusan mereka masing-masing. Aku terjebak di antara mereka.

Di luar sana hanya ada hamparan sawah, permukiman yang muram, lalu lintas yang terhenti laju kereta dan stasiun yang masih lesu. Semuanya cepat berlalu dan aku hanya bisa duduk termangu.

Banyak burung terbang ke sana ke mari, namun tak kudengar nyanyian paginya. Kabut tebal belum tersibak seperti meninggalkan tanda tanya yang tak terjawab. Hanya bayangan tipis pohon dan lari-lari kecil bocah menuju sekolah yang terlintas. Aku tak bisa memaknai nuansa pagi ini tapi masih ada sebersit harapan dari perjalanan ini.

Kereta terus melaju tanpa kenal waktu, membawa serta laki-laki paruh baya, ibu muda, eksekutif muda, rohaniwati, pria tua, anak muda dan kondektur kereta tentunya. Aku melihat itu semua dengan penuh tanya. Bolehkah aku berharap pagi ini?

Mentari sudah datang dan manusia-manusia kereta telah pergi dengan cara mereka sendiri. Aku berharap kau datang dari balik kabut yang mulai menipis dengan seberkas senyuman manis.

Iklan

Solo-Jogja, antara BST, Prameks & Trans Jogja

Pagi ini saatnya melawan dinginnya air. Mandi terpagi selama beberapa bulan terakhir demi petualangan naik angkutan massal yang katanya bisa menyatukan dua kota, Solo-Jogja.
Batik Solo Trans (BST). Angkutan massal ini menyapa publik Solo dan sekitarnya sejak beberapa bulan yang lalu. Banyak pihak berharap angkutan ini bisa menjadi angkutan alternatif bagi publik yang bosan dan jengah dengan angkutan kota konvensional.
Apek, pengap, ugal-ugalan dan sarang copet. Itulah gambaran umum angkutan kota di negeri ini. Bagi Pemkot Solo, BST adalah sebuah proyek besar sistem transportasi di Kota Bengawan. BST diharapkan bisa menjadi pengganti angkutan kota yang memang sangat menyebalkan.
Selter warna biru dengan kaca nako hitam berdiri lesu di depan RSI Yarsis Kartasura. Tak ada satu orang pun petugas yang membantuku memberitahu tentang rute bus. Maklum ini adalah pengalaman pertamaku naik BST. Nekat dan tekadlah yang membuatku tetap bertahan di selter itu menunggu datangnya BST.

Bus warna biru dengan nuansa batik akhirnya datang juga. Hanya ada 2 penumpang di dalam bus itu. Suasana lapang begitu terasa. Alunan musik dari Andra and The Backbone menjadi teman perjalanan. Jadi nyaman aku dibuatnya. Selter di Kleco di depan mata. Lagi-lagi selter itu sepi dari petugas. Bus yang hendak melaju akhirnya kembali karena ada 3 penumpang yang lari-lari mengejar bus itu.
Ini lucu pikirku. Bus yang memiliki sarana khusus dengan disediakan selter masih harus maju mundur menunggu penumpang. Setahuku jadwal bus ini sudah diatur sehingga jarak antara satu bus dengan bus lainnya bisa disesuaikan. Petugas yang menjadi kondektur mulai beraksi. Dia mengadahkan tangan minta bayaran. Rp 3.000 tarifnya. Aku diberi karcis tanda bukti pembayaran.
Ini membingungkan. Katanya angkutan massal modern, tapi model pembayaran penumpangnya masih “kampungan” dan rawan kebocoran. Bayar di atas bus pakai karcis.
Di selter Faroka bus kembali berhenti. Tidak mulus rupanya. Bus AKAP menghalangi BST untuk mendekati selter. Tanpa rasa berdosa, bus AKAP itu dengan santainya menurunkan penumpang tepat di depan selter. Butuh beberapa menit, sopir bus AKAP akhirnya memberi ruang untuk BST.
Aku kembali tertegun. Bus ini berhenti agak lama di selter itu. Rupanya gaya konvensional belum juga hilang untuk bus modern ini. Ngetem sejenak menunggu penumpang, meski pada akhirnya total penumpang tak lebih dari 10 orang.
Aku berhenti di selter Purwosari. Ada petugas jaga di selter itu. Ada poster yang menunjukkan rute BST, ada pula digital ruuning teks tentang jadwal pemberangkatan BST. Agak lumayan dibandingkan selter lainnya.
KA Prameks tujuan Jogja dari Stasiun Purwosari sudah mau berangkat. Tepat saat kaki ini menginjak tangga KA, pluit berbunyi dan KA yang penuh sesak itu segera berlari. Sudah biasa tiap akhir pekan atau liburan, penumpang akan uyel-uyelan, tapi kecepatan dan kondisi Prameks masih lumayan sehingga perjalanan tetap terasa nyaman.
Tak lebih dari satu jam perjalanan, aku sudah tiba di Stasiun Maguwoharjo. Stasiun ini terintegrasi dengan Bandara Adisucipto dan selter Trans Jogja. Nah, Trans Jogja yang merupakan kakaknya BST (karena lebih dahulu beroperasi) yang akan aku tumpangi. Petugas tiket menyodoriku smartcard setelah aku menyerahkan uang Rp 3.000. Smartcard itu dimasukkan ke pintu masuk agar bisa terbuka. Ini mirip dengan model busway di Jakarta yang sempat aku tumpangi beberapa tahun lalu.

Selain petugas jaga loket pembayaran ada pula petugas lainnya yang membantu memberitahukan kedatangan Trans Jogja beserta rutenya. Kalaupun malas bertanya, ada pula papan pengumuman jalur-jalur Trans Jogja.
Model Trans Jogja sama persis dengan BST, tapi sepertinya Trans Jogja lebih ramping sehingga kalau penumpang penuh akan begitu terasa berdesak-desakan. Dan kenyataannya, Trans Jogja selalu dijejali penumpang. Tak ada lagu pengiring selama perjalanan sehingga penumpang akan sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri. Untungnya di dalam bus, penumpang tak perlu lagi berurusan dengan sodoran tangan kondektur yang minta bayaran.
Beberapa selter Trans Jogja sudah terlewati. Setiap kali mendekati selter, kondektur dengan nyaringnya memberitahukan selter akan segera tiba. Tak lupa pula ada ucapan terima kasih dari sang kondektur itu. Ini juga sama persis dengan busway di Jakarta. Bedanya, kalau busway pakai alat seperti speaker, di Jogja pakai suara manusia.
Rasanya memang kondektur itu ditugaskan seperti itu, mengatur penumpang di dalam bus dan mengabarkan selter-selter yang dilalui, tanpa harus repot memunggut pembayaran penumpang di dalam bus layaknya bus kota pada umumnya.
Di Subterminal Condong Catur perjalananku dengan Trans Jogja terhenti. Lumayan menikmati perjalanan dengan angkutan massal yang katanya lebih modern dari angkutan umum lainnya.
Aku tidak bermaksud membandingkan antara BST dengan Trans Jogja. Aku hanya mencoba menelusuri angkutan massal yang digadang-gadang bisa menyatukan Solo-Jogja yaitu BST-Prameks-Trans Jogja. Kalaupun ada yang berbeda antara BST dan Trans Jogja, aku tidak tertarik membahasnya lebih lanjut mengapa itu terjadi. Kalau memang angkutan massal itu saling terintegrasi seharusnya pelayanannya sama hingga pada akhirnya publik juga yang merasakan keuntungannya.
Maka kalau kebetulan liburan di Solo atau Jogja, BST atau Trans Jogja bisa jadi alternatif perjalanan keliling kota. Takutnya, kalau naik kendaraan pribadi malah menambah kemacetan dan kemacetan begitu menjengkelkan. Selamat Liburan!


Mengenal Norman Edwin, Menjadi Sahabat Alam

Norman Edwin. Nama itu begitu asing bagiku. Belum pernah aku mendengar nama itu sebelumnya. Aku mengetahui nama itu dari sebuah sampul buku di tumpukkan buku di pojokan toko buku.

“Norman Edwin Catatan Sahabat Sang Alam”. Itulah tulisan di sampul buku itu. Rasa penasaran di dalam otak menstimulus tanganku untuk mengambil buku setebal 423 halaman itu.

“Nama Norman Edwin pada 1976-1992 identik dengan pendaki gunung, pengembara ilmiah, pelayar lautan, dan penulis kisah perjalanan andal yang sudah punya “umat”-nya sendiri.” Itulah kalimat yang tertulis di sampul belakang buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) itu.

Rasa ingin tahu dan penasaran semakin tebal untuk membuka lembar demi lembar buku itu. Karena masih tersegel dengan plastik, satu-satunya jalan agar bisa membaca buku itu adalah membelinya (maaf saya bukan tipikal pembaca nakal yang hobi merobek segel plastik buku).

Dari catatan pembuka di buku itu saya mulai mengenal Norman. Baru aku tahu, Norman Edwin adalah satu satu legenda “pecinta alam” Indonesia. Petualangannya di alam bebas begitu komplet dan lengkap, dari menjelajahi atap-atap dunia mulai Puncak Carstensz di Papua hingga Gunung Elbrus yang menjadi atap Benua Biru, Eropa. Belum lagi perjalanannya menembus arus liar sungai-sungai di Kalimantan, Aceh dan Jawa serta menyeruk-nyeruk di perut bumi, menelusuri gelapnya gua. Termasuk juga petualangannya di Yosemite yang merupakan “Mekkah”-nya pemanjat rock climbing, membuat perjalanan hidupnya di alam bebas begitu lengkap.

Buku ini memuat 70-an catatan perjalanan Norman dari berbagai petualangannya. Di bagian 1, Norman mengajak kita menjelajahi atap-atap dunia yang dikenal dengan 7 Summits. Mulai dari Pegunungan Carstensz di Papua dan Gunung Kilimanjaro. Dua gunung yang tidak jauh dari garis khatulistiwa, namun puncaknya diselimuti salju abadi. Dalam catatannya, Norman menyelipkan kekhawatirannya mulai punahnya salju-salju itu.

“Sulit memperkirakan penyebab penyusutan ini. Penambangan tembaga oleh Freeport Inc sekarang ini boleh jadi mempengaruhinya, tapi tak boleh dilupakan bahwa penyusutan itu sendiri telah berlangsung jauh sebelum usaha penambangan ini,” tulis Norman dalam tulisan berjudul Gunung Salju di Irian Jaya yang dimuat Suara Alam edisi Desember 1988.

Selain petualangannya di dua gunung itu, perjalanan Norman ke Gunung McKinley di Alaska dan Elbrus juga patut disimak pula. Di Gunung Elbrus, Norman gagal mencapai puncak karena terserang penyakit gunung.

Di bagian dua, Norman mengajak kita melibas liarnya sungai-sungai di Kalimantan, Aceh dan Jawa. Salah satu perjalanannya yang fenomenal adalah melakukan Ekspedisi Lintas Kalimantan, melintasi Sungai Kapuas dan Kayan yang memiliki riam (jeram) yang sangat ganas. Ada catatan duka dari Sungai Alas, Aceh saat dua teman Norman meninggal saat melibat riam. Gelapnya gua-gua di perut bumi juga menjadi bagian dari perjalanan Norman.

Lautan luas juga tidak lepas dari petualangan Norman. Dengan perahu phinisi, Norman ikut ekspedisi Tanjung Benoa, Bali hingga Madagaskar, Afrika. Catatan lainnya adalah permasalahan alam lainnya.

Kekuatan dari tulisan Norman yang sudah dimuat di Kompas, Suara Alam dan Mutiara adalah dia terlibat langsung dalam setiap petualangannya. Norman mengkisahkan setiap ekspedisinya dengan detail seakan kita ikut bersama Norman menjelajahi sudut-sudut bumi yang sulit terjangkau itu. Setiap ekspedisi, Norman menyatu dengan alam sehingga catatannya begitu kuat kala dikisahkan. Dan diakhir kisah hidupnya, sahabat sang alam ini “menyatu” dengan alamnya di dekat puncak Gunung Aconcagua 21 Maret 1992.

 


%d blogger menyukai ini: