Tag Archives: pers

T.A.S., Sang Pemula & ¼ Abadku…

Tirto Adhi SoerjoBeberapa hari yang lalu, dalam sebuah obrolan di wedangan depan Yahoo Kalitan seorang kawan mengusulkan adanya sebuah kegiatan dari kawan-kawan jurnalis di Solo untuk mengenang seseorang yang bernama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS).

Kawan dari sebuah media online terkemuka itu menceritakan tentang peran besar TAS dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Peran TAS yang begitu besar bagi bangsa ini terutama dunia jurnalistik ternyata belum terlalu terdengar gaungnya hingga saat ini. Meski sudah mendapatkan gelar pahlawan nasional, namun nama TAS masih terlalu asing bagi masyarakat umum, bahkan terasa asing bagi sebagian kalangan jurnalis.

“Terlalu sayang jika begi saja melupakan peran TAS. Mungkin belum banyak diungkap karena sebagian pengikutnya condong kiri, termasuk Mas Marco (Mas Marco Kartodikromo),” seloroh dia.

Obrolan mengenai TAS malam itu seakan membawaku kembali ke masa lalu, beberapa tahun yang lalu. Masih teringat jelas kisah Minke dalam Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer (PAT). Masih teringat juga sebuah buku pemberian dari seorang kawan yang berjudul Sang Pemula karya PAT pula. Buku-buku itu mengisahkan tentang seseorang yang bernama TAS.

“Dialah Sang Pemula! Dialah Sang Penyuluh itu!” kata Muhidin M Dahlan dalam pengantar buku Sang Pemula.

Buku-buku itu kebetulan terbaca saat harapan menjadi jurnalis membumbung tinggi. Ketika impian sejak SMA mulai terasa jelas arahnya. Dan buku-buku itu seakan menjadi ‘kitab suci’ pengawal diri menuju dunia jurnalisme sambil berharap bisa menjadi ‘Sang Pemula Baru’. Betapa tidak aku punya mimpi menjadi ‘Sang Pemula Baru’, ketika itu TAS yang mempunyai nama kecil Djokomono sejak umur 14-15 tahun telah mengirimkan berbagai tulisan ke sejumlah surat kabar terbitan Betawi.

Aksi tulis menulis, TAS yang mengenyam pendidikan di Stovia (sekolah dokter) itu berlanjut dengan membantu menulis di Chabar Hindia Olanda, kemudian pembantu di Pembrita Betawi, pembantu tetap Pewarta Priangan yang hanya berumur pendek. Salah satu karya jurnalistiknya yang gilang gemilang adalah membongkar skandal Residen Madiun JJ Donner. Kala itu, Donner menurunkan Bupati Madiun Brotodiningrat dengan membuat persekongkolan dengan Patih dan Jaksa Kepala Madiun.

Begitu tajamnya pena TAS hingga akhirnya dia harus berhadapan dengan pengasa Hindia Belanda. Namun, itu semua tidak menyurutkan langkahnya. Hingga Januari 1907, menjadi tonggak berdirinya surat kabar pertama di Indonesia yang dibidani TAS dengan lahirnya Medan Prijaji. Surat kabar ini disebut sebagai koran pertama di Indonesia karena semuanya dikelola oleh pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri.

Medan Prijaji

Tidak bisa aku bayangkan, di tengah sikap represif dari penguasa ditambah lagi belum adanya UU Pers yang melindunginya, TAS tak gentar memperjuangkan nasib bangsanya melalui tulisan. Dan kalau boleh aku meminjam istilah anak muda jaman sekarang, saya ngefans dengan TAS.

Aku masih punya mimpi menjadi ‘Sang Pemula Baru’ meski belum melakukan apa-apa. Meski belum berbuat apa-apa hingga umur ¼ abad, tapi mimpi menjadi seperti Sang Pemula itu tak pernah padam. Punya mimpi bisa menjadi seperti TAS seperti yang dikatakan Mas Marco,

“Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, jang seorang bangsawan asali dan joega bangsawan kafikiran, Boemipoetra jang pertama kali mendjabat Journalist; boleh bilang toean T.A.S. indoek Journalist Boemipoetra di ini tanah Djawa, tadjam sekali beliau poenya penna, banjak Pembesar-Pembesar jang kena critieknja djadi moentah darah dan sebagian besar soeka memperbaiki kelakoeannja jang koerang senonoh.”

Iklan

“Surat Cinta” dan Akurasi Berita

Kalau Einstein punya rumus EM=C2 yang menjadikannya melegenda,

maka jurnalistik punya rumus a+b=c yang wajib hukumnya.

Berproses sebagai seorang jurnalis yang baik dan benar aku pikir bukan merupakan hal yang mudah. Setelah pekerjaan mencari berita yang kemudian dilanjutkan dengan menuliskan berita tersebut kadang ada saja pikiran yang mengganjal memikirkan apakah tulisanku benar-benar sudah clear atau belum. Jawaban itu kadang baru terjawab pagi harinya saat koran memuat tulisanku. Kalau udah clear syukur, kalau tidak, maka bayangan datangnya “surat cinta” menggelayuti pikiran.

Istilah “surat cinta’ merupakan istilah familier di tempatku bekerja jika seorang reporter atau redaktur mendapatkan surat peringatan (SP) karena melakukan kesalahan, terutama dalam proses jurnalistik. Kata “surat cinta” menjadi sebuah plesetan yang sering digunakan di ruang redaksi untuk sekedar menghibur diri. Namun, plesetan SP menjadi “surat cinta” bukan berarti mengesampingkan arti dari SP itu sendiri, kata “surat cinta” dirasakan lebih terasa indah dan familier sehingga bagi yang menerimanya akan terasa tidak terlalu menyakitkan.

Sudah sekitar 2,5 tahun, aku berproses sebagai seorang jurnalis di sebuah koran lokal. Selama itu pula, aku belum pernah merasakan dag dig dug-nya mendapatkan “surat cinta”. Namun, kisah perjalananku selama 2,5 tahun yang clear dari “surat cinta” runtuh gara-gara uang palsu (Upal). Ya, kasus Upal yang aku tulis pekan lalu membawaku merasakan mendapatkan “surat cinta”.

Harus diakui, aku memang layak mendapatkan “surat cinta”. Aku melakukan kesalahan yang cukup fatal, yaitu saat itu aku menulis uang pecahan Rp 50.000 terbitan lama bergambar Ki Hajar Dewantoro. Padahal, seharusnya uang pecahan Rp 50.000 terbitan lama bergambar WR Supratman. Satu hari setelah berita itu keluar, koranku melakukan ralat dan tiga hari setelah kejadian itu, “surat cinta” itu datang kepadaku.

Setelah kejadian itu, aku ingat betul dengan rumus a+b=c yang pernah diberikan dosen kuliah jurnalistik cetak saat aku kuliah. A artinya adalah akurasi, b artinya balance dan c adalah clearity. Ya, rumus tersebut merupakan rumus paten, yaitu ketika menulis berita dengan akural dan berimbang (balance) maka akan menghasilkan berita yang clear alias aman alis baik dari segi jurnalistik. Namun, saat itu aku melupakan komponen a, sehingga berita yang ada menjadi tidak clearity.

Rumus a+b=c bisa jadi rumus yang simpel dan tidak ribet. Namun, dalam penerapannya, memang tidak semudah pengucapannya. Melakukan proses jurnalistik dengan berpatokan pada akurasi bukan hal yang enteng. Ketika dihadapkan pada fakta yang rumit dan kadang saling bertentangan, akurasi sangat penting, maka perlu ada pemikiran dan pemahaman yang lebih mendalam, agar berita yang diproses dari kumpulan fakta-fakta yang kadang berkeping-keping, dapat ditulis dengan akurat.

Menulis berita dengan balance atau imbang juga bukan perkara mudah. Ada istilah dalam jurnalisme yaitu cover both side yang saat ini sudah berkembang lagi menjadi cover all side. Istilah itu sama artinya dengan jurnalis menuliskan fakta dengan melihat dari berbagai sudut pandang agar beritanya menjadi imbang. Bagi orang awan, imbang kadang diartikan dengan memuat tulisan dua belah pihak yang sama besar dan sama panjang tulisannya.

Bahkan, beberapa perusahaan atau orang yang merasa dirugikan dengan media dan meminta adanya hak jawab yang besarnya sama dengan berita awal tersebut dimuat. Ini artinya sama dengan ketika berita yang dipermasalahkan merupaka berita headline, maka hak jawab yang keluar juga harus headline. Ya, betapa kompleksnya masalah balance hingga kadang tidak sedikit masalah balance berujung pada masalah hukum. Nah, ketika akurasi dan keberimbangan ikut menghiasi atau bahkan telah menjadi dasar atau pondasi dari sebuah berita, maka dapat dikatakan berita tersebut telah clear.

Kini, ketika aku baru saja mendapatkan “surat cinta”, rumus a+b=c selalu aku pikirkan. Mungkin selama ini aku sudah mulai melupakan rumus simpel tersebut dalam berproses. Aku anggap saja “surat cinta” itu telah me-refersh ingatan dan pemahamanku soal rumus a+b=c karena bagaimanapun itu rumus tersebut merupakan rumus wajib dalam jurnalistik, seperti halnya rumus EM=C2 dalam dunia fisika.


%d blogger menyukai ini: