Tag Archives: Prosa

Tolak Bungkam

Ketika ketidakadilan diciptakan

Saat kekerasan menjadi sebuah kebiasaan

Kala pemasungan jadi tradisi

Janji-janji manis hanya impian

Hanya kemiskinan dan pemiskinan

Tinggal kebodohan dan pembodohan

Tersisa kenistaan dan penistaan

Untuk kemunafikan dan pemunafikan

Kerasnya suara tidak lagi terdengar

Semuanya membisu dan terbisu

Semuanya mendiamkan diri dan terdiam

Saatnya kebungkaman ditolak dan dilawan


“Chairil Anwar” Jalanan

Bus Suharno jurusan Jogja-Solo melaju dengan kencang, pagi itu. Begitupula, lagu Honky Tonk Women-nya Rolling Stone, aku nikmati hentakan rock n roll-nya dari headset MP3-ku.

Perjalanan belum juga jauh. Cewek yang duduk di sampingku masih juga sibuk merapikan rambutnya yang terkena tiupan angin. Paling tidak, aku mencatat sudah lima kali dia harus mengeluarkan sisir dari tasnya untuk merapikan rambutnya yang diblonde mirip Dian Sastro. Tak kusapa dia, dia tak menyapaku. Kali ini aku menikmati lagunya Ipang, Ada Yang Hilang, dia sibuk melumeri bibirnya dengan lipgloss. Aku terpaku dengan diriku, dirinya juga, begitupula penumpang lainnya.

Penumpang silih berganti naik turun. Candi Prambanan tampak ujung mata. Laki-laki yang menurutku tampak kumal, tiba-tiba berteriak-teriak tak jelas di dalam bus. Sebenarnya suara lelaki itu cukup jelas, tapi efek lagu Me & Peny-nya Slank dari MP3-ku membuat lelaki itu hanya seperti membuka mulut tanpa suara.

Puisi. Kata itu yang sayup-sayup terdengar dari mulut yang kehitam-hitaman (mungkin banyak terbakar oleh rokok) lelaki yang mari kita sebut saja dia, Lelaki Sang Pembaca Puisi. Aku pun sedikit mengamati apa yang akan diperbuat selanjutnya. Tas ransel yang ada dipunggungnya langsung dibuka. Dua buku yang bentuknya teramat sangat kumal dibukanya.

Headset yang sedari tadi aku pakai, pun telah aku lepaskan lima detik sebelumnya. “Doa karya Chairil Anwar,” kata Lelaki Sang Pembaca Puisi.

“Doa”

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

di pintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling*

Begitu dahsyatnya puisi itu dibawakan Lelaki Sang Pembaca Puisi sehingga deru bus Suharnopun tak juga terdengar. Lagu-lagu dari MP3-ku seakan menciut mengetahui sebuah puisi dengan begitu dahsyatnya diperdengarkan.

Paling tidak tiga buah puisi dideklamasikan di atas bus Suharno pagi itu. Namun, sayang aku hanya mengenai satu puisi yang dibacakannya. Sedangkan dua buah puisi lainnya yang katanyanya karyanya baru kudengar pagi itu. Sangat mengelora pikirku,tiga puisi dipertunjukkan di atas bus yang melaju dengan kecepatan sekitar 80 Km/jam. Kadang mengerem mendadak, kadang gas menyendal-nyendal dengan liar. Sebuah penbacaan puisi dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Puisi-puisi itu akhirnya ditutup dengan sebuah kata-kata “Salam Budaya” yang terus diucapkan Lelaki Sang Pembaca Puisi sambil menyodorkan sebuah kantong plastik warna hitam kepada penumpang. Sebenarnya, aku ingin berdiri, memberikan standing aplouse kepada Lelaki Sang Pembaca Puisi, tapi aku sedikit malu melakukannya jadinya aku hanya bertepuk tangan dalam hati saja. Aku lihat hampir semua penumpang memberikan apresiasi atas apa yang telah dilakukannya.

Sampai Solo aku masih terus saja kepikiran lelaki itu. Melihat apa yang dilakukannya dan apa yang dilakukan pemumpang. Bagiku, lelaki itu telah “membumikan” sebuah karya sastra kepada masyarakat secara langsung. Dan saat bersamaan pula, masyarakat mengapresiasikan apa yang telah dilakukan lelaki itu.

Aku pikir, masyarakat kita juga mencintai karya sastra dan mengapresiasikannya. Bisa jadi sebenarnya, masyarakat kita juga haus akan karya sastra untuk bisa melepaskan kepenatan hidup. Namun, kadang sastra seperti “makhluk luar angkasa” bagi masyarakat kita. Aku tak tahu apakah sastra yang tidak “membumi” atau masyarakat kita yang tidak “menyastra”. Aku hanya ingin angkat topi untuk Lelaki Sang Pembaca Puisi dan juga untuk penumpang bus yang telah memberinya apresiasi, termasuk juga cewek di sampingku yang kali ini sibuk dengan kaca dan bedak putih saat dia bersiap untuk turun di Kartasura.

Seperti kata Lelaki Sang Pembaca Puisi, “Salam Budaya”.

*Puisi Doa yang dibacakan Lelaki Sang Pembaca Puisi, aku sadur dari Buku “Aku Ini Binatang Jalang” karya Chairil Anwar.


Persimpangan

AKU MASIH BERGELUT DENGAN GULINGKU, DENGAN BUKUKU, DENGAN ROKOKKU, DENGAN KOPIKU, DENGAN KOMPUTERKU, DENGAN MIMPIKU.

AKU BERHENTI DI PERSIMPANGAN, AKU BINGUNG, AKU RESAH, AKU GELISAH, MAU KE MANA AKU.

KABUT TEBAL TAK JUGA TERSIBAK, CAHAYA BULAN ENGGAN BERSINAR, AKU TERTATIH-TATIH MENCARI JALAN, AKU DI PERSIMPANGAN.

AKU BERTANYA, SIAPA MAU MENJAWAB, AKU BERJALAN PELAN UNTUK MEMASTIKAN, KABUT MASIH SAJA TEBAL.

AH, SUDAHLAH AKU HARUS BERJALAN, AKU MESTI JALAN, TAK MUNGKIN SELAMANYA AKU BERADA DI PERSIMPANGAN. LAMPU HIJAU MENYALA.


%d blogger menyukai ini: