Tag Archives: PSK

Cerita pelacur kaya

Aku tak bisa membayangkan seperti apa wajah perempuan itu. Kalau boleh aku menduga, perempuan itu memiliki nilai sempurna untuk dapat dikatakan sebagai perempuan cantik secara fisik. Atau paling tidak, kaum adam tidak begitu saja memalingkan muka saat melihat wajahnya.

Rambut panjang lurus, kulit putih mulus, wajah bersih tanpa cela dan tubuh proporsional yang akan menggugah naluri kebinatangan lawan jenisnya. Mungkin dia seperti itu. Itulah parameter cantik secara fisik pada umumnya. Perempuan itu memiliki modal yang lebih dari cukup untuk menjalani pekerjaannya. Pekerjaan yang katanya profesi paling kuno sejak umat manusia ada. Pekerjaan yang oleh kebanyakkan orang disebut pekerjaan hina. Pekerjaan yang akan membuka kedok manusia kalau naluri binatang masih mengalir dalam diri makhluk yang katanya paling sempurna di dunia.

Khalayak umum biasanya menyebutnya perempuan malam. Orang menganggap perempuan itu hanya menjual tubuhnya semata. Namun, apa jadinya kalau perempuan itu memiliki intelegensia di atas rata-rata. Memiliki pengetahuan yang luas, melebihi perempuan-perempuan lain yang kadang hanya pamer kecantikan fisik, tapi lupa mengisi otaknya. Kalau memang seperti itu adanya, perempuan itu masuk kategori perempuan sempurna idaman para pria. Cantik secara fisik, cantik pula jeroannya atau biasa disebut memiliki innerbeauty.

“Tiga hari bersamanya, kau bisa jatuh cinta kepadanya. Diajak ngobrol apapun bisa nyambung. Bahkan, dia tau perkembangan politik dalam dan luar negeri. Aku pikir dia pasti baca Kompas tiap pagi,” kata seorang kawan kala bercerita tentang perempuan itu.

Perempuan itu tak menampik, pengetahuan luasnya tentang berbagai hal juga menjadi modal untuk ‘mengimbangi’ para kliennya yang berasal dari golongan kelas atas. Tapi, ternyata perempuan itu memang memiliki minat untuk menggali ilmu dan pengetahuan di muka bumi ini. “Bahkan dia tau masalah politik di Inggris, soal perdana menteri yang ramai dibicarakan itu,” lanjut kawanku.

Apapun alasan dan motif dari perempuan yang telah mengasah innerbeauty-nya itu, dia membuktikan tak hanya memiliki kecantikan fisik semata. Dia bahkan telah menelanjangi kaumnya yang kadang mengolok-oloknya (mungkin karena iri dengan kecantikannya). Dia juga telah menggugurkan vonis dari para manusia pada umunya yang sering menjadi hakim atas pekerjaannya.

Sampai kini aku tidak tau bagaimana awalnya perempuan itu bergelut dengan dunia malam. Yang aku dengar, dia terlahir dari keluarga kaya raya. Keluarga broken telah membawanya menuju sebuah kota yang jauh dari rumahnya. Di sebuah hotel berbintang, perempuan itu tinggal. Menikmati segala kemewahan hotel dari keringat pekerjaannya. Di luar pekerjaannya, dia menghabiskan waktu untuk menonton TV, baca majalah dan koran. Dunia malam memang sudah menjadi bagian dari hidupnya, tapi bukan berarti seluruh hidupnya untuk dunia malam. “Dia tidak suka dugem. Kadang minum. Bir katanya,” cerita kawanku itu.

Dari cerita temanku itu pula aku tahu kalau perempuan cantik itu sangat sadar akan pekerjaannya. Perempuan itu juga memimpikan kehidupan rumah tangga meski dia sempat berkecil hati, masih adakah manusia yang mau menerima keadaannya. “Dia masih jomblo. Dia bilang, siapa yang mau denganku yang seperti ini,” ucap kawanku.

Malam itu, ketika aku mendengar semua cerita tentang perempuan itu, aku membayangkan sedang apa perempuan itu. Apakah dia sedang menemani kliennya di ranjang kamar sebuah hotel. Ketika aku menulis cerita ini, aku bertanya, sedang apa gerangan perempuan ini. Apakah dia sedang melahap lembaran-lembaran koran nasional. Perempuan yang hingga kini belum bisa aku bayangkan seperti apa wajahnya itu telah meluruhkan seluruh prasangka-prasangka kepada mereka yang menggeluti dunia malam. Paling tidak aku tidak ikut-ikutan menjadi hakim yang memvonis “bersalah” perempuan itu.

 


Balada (Razia) PSK…

Dua tubuh perempuan yang telah kaku diangkat dari Sungai Kali Anyar, Solo. Sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan, mereka sudah tenggelam di sungai itu lebih dari 10 jam.

Namanya Dita dan Winarsih. Tak ada tanda pengenal yang ditemukan dari tubuh Winarsih yang tuna wicara. Dari kantong celananya hanya ada secarik kertas dari Panti Wanita Karta Utama Solo, sebuah panti rehabilitasi bagi pekerja seks komersial (PSK) di Solo.

Dalam surat itu, tertera jelas namanya. Dari surat itu pula diketahui, Winarsih adalah penghuni panti itu yang sedang cuti Lebaran. Sedangkan Dita, meski tidak ada kartu pengenal karena polisi hanya menemukan sebuah Ponsel dan uang Rp 50.000, tapi ibunya, Marni yang melihat proses evakuasi dengan mudah mengenali wajah anaknya. Tangis histeris Marni tidak lagi tertahan melihat Dita sudah tak bernyawa.

Nasib Dita dan Winarsih memang tidak beruntung. Bersama empat teman mereka yang biasa mangkal di pangkalan travel Gilingan, mereka lari tunggang langgang hingga puluhan meter menyelamatkan diri dari razia.

Saat terpojok, hanya ada sungai yang ada di depan mereka hingga akhirnya menceburkan diri ke sungai adalah pilihan. Namun, nahas, tempat mereka menyebur adalah kedung yang memiliki kedalaman lebih dari dua meter. Empat PSK bisa diselamatkan warga dan Dita serta Winarsih harus meregang nyawa.

Tidak ada yang bisa memastikan aparat mana yang melakukan razia. Beberapa warga bilang jika Satpol PP yang merazia, namun pihak Satpol PP membantah melakukan razia, Sabtu malam. Polisipun mengaku tidak melakukan razia malam itu. Beberapa orang mengaku melihat mobil Satpol PP melinta tidak jauh dari lokasi, namun tidak diketahui apakah mereka hanya melintas atau razia.

Sedangkan mobil polisi juga sempat melintas di daerah itu, namun polisi mengaku jika mereka menuju daerah lain untuk operasi hasil-hasil hutan, bukan razia PSK. Keluarga memang telah menerima kematian dua orang itu, namun apakah ini akhir dari kisah duka mereka. Tak ada yang tahu…


%d blogger menyukai ini: