Tag Archives: Resensi buku

Dear Diary

Diary. Mendengar kata itu, imajinasi pikiranku adalah sebuah tulisan yang dituangkan dalam buku dengan sampul tebal dengan pengait gembok lengkap dengan gemboknya sehingga hanya pemegang kunci gembok alias pemilik diary yang bisa membukanya.

Ada semacam kerahasiaan dalam sebuah diary. Meski tak miliki diary, aku masih berpikir ada sebuah kesakralan dari sebuah diary. Membaca diary orang itu artinya menelanjangi orang itu. Kalau perilaku orang itu diibaratkan sebuah sampul buku, maka isi hati dan perasaan orang itu akan tertuang dalam berlembar-lembar diary itu.

Dulu ketika aku masih SD, di lingkunganku, laki-laki yang memiliki diary akan menjadi bahan ejekan. Ada kesan laki-laki yang memiliki diary bukan laki-laki macho. Mungkin karena kala itu tren buku yang digunakan untuk menulis diary kebanyakan berwarna pink dan sering juga ada bau wangi dari kertas buku sehingga kesannya girly. Mungkin juga karena sering ada kesan menulis di diary artinya menulis curahaan hati soal cinta (yang kata Tipatkai deritanya tiada akhir hehehehe).

Menulis diary artinya menulis tentang hidup. Menulis tetek bengek kehidupan dengan segala permasalahannya. Tidak ada yang salah jika ada orang yang hanya berkisah soal kehidupan asmaranya dalam diary. Tidak salah pula orang yang mencaci maki pemerintah lewat diary.

Saat diary kehilangan “kesakralan” yaitu kala tulisan-tulisan itu tidak hanya dibaca pemegang kunci gembok (baca: pemilik diary), maka diary sudah tak lagi urusan privat. Bahkan ada diary yang dibukukan mulai dari catatan asmara hingga diary tentang orang yang melawan penyakit ganas.

Menginspirasi. Itulah alasan yang digunakan mengapa diary-diary itu dibukukan dan dibuka untuk publik. Kisah hidup seseorang yang tertuang dalam diary itu diharapkan mampu menjadi kekuatan inspirasi pembacanya. Catatan perjalanan hidup seseorang yang dibukukan sehingga mirip sebuah diary juga banyak bertebaran di toko-toko buku. Ada coretan-coretan Soe Hok Gie dalam buku Catatan Seorang Demonstran, kisah Tan Malaka dalam Dari Penjara Ke Penjara I-III, petualangan Kang Zhengguo dalam Confessions ataupun kisah Solzhenitsyn yang melegenda dalam buku Gulag.

Gie yang merupakan aktivis mahasiswa tahun ’60-an menuangkan kisah hidupnya sehari-hari dalam buku itu. Mulai dari keluh kesah masa kecil hingga pemberontakan diri masa muda. Ada soal anjing miliknya, soal cinta, soal petualangannya di gunung-gunung hingga caci makinya kepada pemerintah kala itu.

4 Maret 1957

Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu. Ulangan Ilmu Bumiku 8 tapi dikurangi 3 jadi tinggal 5. Aku tidak senang dengan itu. Aku iri karena di kelas merupakan orang ketiga terpandai dari ulangan tersebut. Aku percaya bahwa setidak-tidaknya aku yang terpandai dalam Ilmu Bumi dari seluruh kelas. Dendam yang tersimpan, lalu turun ke hati, mengeras sebagai batu. Kertasnya aku buang. Biar aku dihukum, aku tak pernah jatuh dalam ulangan (Catatan Seorang Demonstran: 58).

Tan Malaka, bapak revolusi bangsa ini juga punya kisah hidup yang harus tinggal dari penjara ke penjara. Petualangannya dari negara satu ke negara lain, diburu intel dari berbagai negara. Ada kegelisahan yang teramat dalam terhadap bangsa Indonesia yang kala itu berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan, ada kemarahan yang begitu dalam soal Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memberontak tahun 1927, ada kisah asmaranya yang kering karena tidak pernah menikah hingga akhir hayatnya demi perjuangan bangsa serta ada cerita perjuangannya untuk menulis buku Madilog yang melegenda itu.

Kira-kira jam 12, ketika saya berbicara dengan beberapa teman, datanglah sebuah mobil berhenti di depan sekolah itu. Belanda PID yang tadi juga keluar dari mobil itu. Dengan hormat dan muka sedih Belanda itu memperlihatkan surat perintah menangkap saya. Saya dipersilakan masuk mobil (Dari Penjara Ke Penjara I: 122).

Kerasnya Partai Komunis China selama masa kepemimpinan Mao juga dituangkan secara rinci dan detail oleh Kang Zhengguo. Kang yang sejak awal tertarik dengan dunia sastra harus berkali-kali mengalami serangkaian pemeriksaan oleh polisi karena kepemilikan buku-buku “haram”. Bahkan pembuangannya juga disebabkan karena dia memesan buku di Perpustakaan Moskow. Namun, Kang tidak hanya melulu bercerita soal sikap politiknya yang menentang Mao dan Partai Komunis China saja, petualangan asmaranya, kesulitan hidup selama masa tahun ’70-an juga teruang secara apik dalam buku Confessions.

Sebelum aku sadar, pemimpin brigade mengunci tanganku dengan rantai. Lalu ia dan kepala polisi dengan cepat memaksaku beranjak ke belakang barak untuk penyelidikan, dimulai dengan menginspeksiku. Sambil membuka bungkus rokok Albania milikku, kepala polisi meremas pelan setiap batang dengan jari-jarinya, seperti tokoh film yang sedang menyelidiki seorang mata-mata Guomindang yang dilatih di Amerika karena tuduhan menyimpan mikrofilm (Confessions: 185).

Peraih Nobel Sastra, Solzhenitsyn juga mengaduk-aduk rasa kemanusiaan ketika mengisahkan hidupnya dalam buku Gulag. Sistem penjara dan kekejaman Uni Sovyet kala itu terekam secara rinci oleh Solzhenitsyn.

Sel pertama tempat Anda ditahan adalah sel yang punya arti khusus bagi Anda sebab itu adalah tempat Anda pertama kali bertemu dengan orang yang bernasib sama seperti Anda, yang dijebloskan ke dalam situasi yang sama seperti Anda. Sepanjang hidup Anda, Anda akan mengenangnya seperti orang terkenang pada cinta pertamanya (Gulag: 115).

Mereka Soe Hok Gie, Tan Malaka, Kang Zhengguo dan Solzhenitsyn menceritakan tentang hidup mereka masing-masing. Mereka bercerita kepada diary tentang perjuangan hidup, tentang kehidupan dengan seabrek masalahnya karena mereka hidup di bumi manusia dan di bumi manusia semua manusia akan menghadapi berbagai permasalahan dan mencoba menyelesaikan masalah.


Mengenal Norman Edwin, Menjadi Sahabat Alam

Norman Edwin. Nama itu begitu asing bagiku. Belum pernah aku mendengar nama itu sebelumnya. Aku mengetahui nama itu dari sebuah sampul buku di tumpukkan buku di pojokan toko buku.

“Norman Edwin Catatan Sahabat Sang Alam”. Itulah tulisan di sampul buku itu. Rasa penasaran di dalam otak menstimulus tanganku untuk mengambil buku setebal 423 halaman itu.

“Nama Norman Edwin pada 1976-1992 identik dengan pendaki gunung, pengembara ilmiah, pelayar lautan, dan penulis kisah perjalanan andal yang sudah punya “umat”-nya sendiri.” Itulah kalimat yang tertulis di sampul belakang buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) itu.

Rasa ingin tahu dan penasaran semakin tebal untuk membuka lembar demi lembar buku itu. Karena masih tersegel dengan plastik, satu-satunya jalan agar bisa membaca buku itu adalah membelinya (maaf saya bukan tipikal pembaca nakal yang hobi merobek segel plastik buku).

Dari catatan pembuka di buku itu saya mulai mengenal Norman. Baru aku tahu, Norman Edwin adalah satu satu legenda “pecinta alam” Indonesia. Petualangannya di alam bebas begitu komplet dan lengkap, dari menjelajahi atap-atap dunia mulai Puncak Carstensz di Papua hingga Gunung Elbrus yang menjadi atap Benua Biru, Eropa. Belum lagi perjalanannya menembus arus liar sungai-sungai di Kalimantan, Aceh dan Jawa serta menyeruk-nyeruk di perut bumi, menelusuri gelapnya gua. Termasuk juga petualangannya di Yosemite yang merupakan “Mekkah”-nya pemanjat rock climbing, membuat perjalanan hidupnya di alam bebas begitu lengkap.

Buku ini memuat 70-an catatan perjalanan Norman dari berbagai petualangannya. Di bagian 1, Norman mengajak kita menjelajahi atap-atap dunia yang dikenal dengan 7 Summits. Mulai dari Pegunungan Carstensz di Papua dan Gunung Kilimanjaro. Dua gunung yang tidak jauh dari garis khatulistiwa, namun puncaknya diselimuti salju abadi. Dalam catatannya, Norman menyelipkan kekhawatirannya mulai punahnya salju-salju itu.

“Sulit memperkirakan penyebab penyusutan ini. Penambangan tembaga oleh Freeport Inc sekarang ini boleh jadi mempengaruhinya, tapi tak boleh dilupakan bahwa penyusutan itu sendiri telah berlangsung jauh sebelum usaha penambangan ini,” tulis Norman dalam tulisan berjudul Gunung Salju di Irian Jaya yang dimuat Suara Alam edisi Desember 1988.

Selain petualangannya di dua gunung itu, perjalanan Norman ke Gunung McKinley di Alaska dan Elbrus juga patut disimak pula. Di Gunung Elbrus, Norman gagal mencapai puncak karena terserang penyakit gunung.

Di bagian dua, Norman mengajak kita melibas liarnya sungai-sungai di Kalimantan, Aceh dan Jawa. Salah satu perjalanannya yang fenomenal adalah melakukan Ekspedisi Lintas Kalimantan, melintasi Sungai Kapuas dan Kayan yang memiliki riam (jeram) yang sangat ganas. Ada catatan duka dari Sungai Alas, Aceh saat dua teman Norman meninggal saat melibat riam. Gelapnya gua-gua di perut bumi juga menjadi bagian dari perjalanan Norman.

Lautan luas juga tidak lepas dari petualangan Norman. Dengan perahu phinisi, Norman ikut ekspedisi Tanjung Benoa, Bali hingga Madagaskar, Afrika. Catatan lainnya adalah permasalahan alam lainnya.

Kekuatan dari tulisan Norman yang sudah dimuat di Kompas, Suara Alam dan Mutiara adalah dia terlibat langsung dalam setiap petualangannya. Norman mengkisahkan setiap ekspedisinya dengan detail seakan kita ikut bersama Norman menjelajahi sudut-sudut bumi yang sulit terjangkau itu. Setiap ekspedisi, Norman menyatu dengan alam sehingga catatannya begitu kuat kala dikisahkan. Dan diakhir kisah hidupnya, sahabat sang alam ini “menyatu” dengan alamnya di dekat puncak Gunung Aconcagua 21 Maret 1992.

 


Gelang Giok Naga, kisah tentang empat perempuan Tionghoa

Judul : Gelang Giok Naga

Pengarang : Leny Helena

Halaman : 316 halaman

Tahun terbit : November 2006

Penerbit : Qanita

Apa jadinya jika empat perempuan Tionghoa berbeda generasi bertemu dalam satu rangkaian kejadian yang saling berkaitan? Mungkin jawaban itu akan hadir dalam novel Gelang Giok Naga ini, kisah dengan latar belakang kekaisaran China hingga huru hara reformasi 1998 di Indonesia.

Kisah bermulai dari Dinasti Ching tahun 1723 yang menceritakan tentang seorang selir yang bernama Yang Kuei Fei. Fei hanyalah satu dari puluhan bahkan ratusan selir yang dimiliki Sang Putra Langit Jia Shi. Awalnya Fei bukan siapa-siapa, namun dengan trik yang digunakannya, Fei bisa memikat Putra Langit sehingga sang Kaisar menjadi kepincut dengan Fei. Namun, usaha Fei tercium oleh Kasim Fu. Dan cerita mulai menarik karena kisah Fei dan Kaisar mulai dibalut dengan intrik-intrik politik kekaisaran.

Intrik-intrik kekaisaran akhirnya membawa Kaisar tewas dan hal itulah yang menjadikan Fei harus pergi dari istana dalam kondisi mengandung anak kaisar. Semua perhiasan Fei ditinggalkan, namun sebuah giok berbentuk sebuah naga tetap dibawa. Fei pergi meninggalkan istana ditemani dengan Kasim Fu. Dua orang itu terlibat asmara setelah keluar dari istana.

Kisah kemudian beranjak pada A Sui dan A Lin, dua orang perempuan yang harus datang ke Batavia (Jakarta) dengan alasan yang berbeda. A Sui datang ke Batavia mengikuti suaminya yang bertugas di Jakarta. Sedangkan A Lin terpaksa datang ke Batavia karena kondisi di China yang sangat memprihatinkan.

Dua perempuan tersebut kemudian ditautkan menjadi sebuah keluarga setelah anak perempuan A Sui menikah dengan anak laki-laki A Lin. Pasangan muda tersebut kemudian melahirkan anak yang kemudian diberi nama Swanlin. Kisah kemudian berputar-putar kepada tiga tokoh itu A Sui, A Lin dan Swanlin.

Kadang peristiwa dalam novel tersebut diambilkan dari sudut pandang A Sui, A Lin hingg Swanlin sehingga semakin memperkaya sudut pandang masalah. Konflik-konflik antara A Sui dan A Lin yang muncul pun juga menjadi tampak nyata ketika giok berbentuk naga yang semula dipegang A Sui jatuh ke tangan A Lin. Dan Swanlin lah yang akhirnya mengambil peranan terhadap konflik kedua neneknya itu.

Kisah Swanlin kemudian diambilkan dari latar tahun 1998 saat kerusuhan Jakarta terjadi. Swanlin mengambil peran tentang kerusuhan yang sebagian ditujukan kepada etnis Tionghoa. Kisah percintaan Swanlin pun tak luput dari novel ini.

Namun, kekuatan dari novel ini sebenarnya ada pada dua hal yaitu perempuan dan Tionghoa. Sudah cukup lama rasanya perempuan dan Tionghoa termarjinalkan di Indonesia dan kisah itu yang akhirnya diangkat penulis. Perempuan sepertinya masih dianggap sebelah mata dan kalau etnis Tionghoa di negara ini, tak perlu dipertanyakan lagi, mereka sering dianggap sebagai “anak tiri”. Novel ini tidak hanya menarik untuk dibaca, namun bisa menambah wawasan dan sudut pandang baru tentang perempuan dan etnis Tionghoa.


%d blogger menyukai ini: