Tag Archives: sastra

(Masih) ada sastra di antara kita

Photo by Warung Ngopi Bjong

Aku duduk sendiri di tengah riuh rendah keramaian warung kopi. Itulah dunia warung kopi. Dunia di mana berbagai macam dunia berkumpul dan bergumul menjadi satu. Hanya kopilah yang menyatukan dunia mereka.

Di sebelah kananku, deretan manusia peselancar dunia maya asyik dengan laptopnya masing-masing. Mereka teralienasi dari dunia mereka berada. Jangan salahkan mereka, toh pemilik warung kopilah yang menyediakan fasilitas hotspot kepada mereka. Di belakangku, kumpulan pemuda ramai berbicara. Entah apa yang mereka perbincangkan. Ada gelak tawa dan canda di antara mereka. Dan warung kopilah yang mempersatukan mereka dalam tawa.

Di ujung utara sana, samar-samar terlihat para manusia membentuk lingkaran menghabiskan waktu dengan barmain kartu. Tenang saja, itu bukan judi karena memang mereka hanya ingin melewatkan malam dengan sedikit kegembiraan dari lembaran-lembaran kartu yang disediakan sang empu warung kopi itu. Agak jauh dari tempat dudukku, kumpulan manusia berbicara serius seperti sedang berada di dalam gedung tempat adu debat. Dahi mengkerut tanpa canda apalagi tawa. Tapi itu juga bukan dosa karena bicara soal politik tak melulu di seminar-seminar ataupun di tepi jalan sambil membawa poster hujatan.

Di antara keramaian warung kopi malam itu, di tengah warung kopi, anak-anak muda silih berganti naik panggung yang dibangun ala kadarnya. Ada yang bercerita tentang Jogja lewat puisi indah mereka, ada yang bercerita tentang Jakarta dengan menukil karya Seno Gumira Ajidarma. Semuanya bercerita dan berkata-kata sastra.

Malam itu mereka membumikan sastra kepada kami semua pengunjung warung kopi. Mereka membawa sastra yang bagi sebagian orang adalah dunia antah berantah ke dalam sebuah ruang sosialisasi bernama warung kopi. Mereka melucuti kesakralan kata sastra. Ada yang memperhatikan dengan seksama, ada yang menengok mereka kala teriakan sajak-sajak semakin menggema ada pula yang tetap membisu tanpa kata. Tapi riuh rendah tepuk tangan sebagai tanda apresiasi tak pernah sepi meski kadang aku dan mungkin sebagian pengunjung lainnya tak begitu memahami apa yang ditampilkan di panggung mini itu.

Itulah dunia warung kopi yang aku temui malam itu. Dunia dengan berjuta dunia di dalamnya. Dunia yang memberikan ruang ekspresi kepada setiap para pengunjungnya. Dan malam itu, dunia warung kopi tak hanya dunia obrolan, dunia berselancar, dunia kartu remi tapi juga dunia sastra karena memang masih ada sastra di antara kita.

Iklan

Valentine abu-abu

“Teeeeeeeet…” Bel tanda jam istirahat kedua berbunyi.

Obrolanku dengan Rendi saat jam pelajaran Sosilogi mengganggu pikiranku. Kata-kata tentang cokelat, Valentine Day, Hari Kasih Sayang masih terus terngiang-ngiang dibenakku.

“Kamu sudah beli cokelat untuh Asih belum?” tanya Rendi teman sebangkuku saat Bu Mita, guru Sosilogi kami menjelaskan teori perubahan sosial.

“Emangnya ada apa beli cokelat segala?” jawabku.

“Hari ini itu Hari Valentine. Kamu harus menunjukkan rasa kasih sayang kamu pada orang yang kami cintai. Biasanya ngasih cokelat. Kamu cinta sama Asih kan,” kata dia sambil menunjukkan sebuah kotak yang dibungkus rapi berwarna pink.

Kotak itu berisi paket cokelat yang dibeli dari supermarket ternama di kota kami. Rendi akan menyerahkan bungkusan itu kepada pacarnya, Siska. “Aku tidak tahu pasti harganya karena mama yang beliin. Paling sekitar 60 ribuan,” ujar Rendi menjawab pertanyaanku, berapa harga paket cokelat ukuran sedang itu.

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar angka 60 ribu. Uang sebanyak itu adalah uang sakuku selama sebulan. Aku tidak berani menuntut meminta uang saku lebih karena sadar pekerjaan kedua orangtuaku sebagai buruh tani tidak bisa menghasilkan banyak uang seperti orangtua Rendi yang bekerja sebagai pegawai bank. Bisa sekolah sampai SMA saja aku patut bersyukur. Selama ini, biaya sekolah ditutup dari beasiswa dan keringanan SPP karena mengajukan surat keterangan tidak mampu.

Bunyi bel tanda istirahat menghentikan obrolan kami tentang cokelat. Rendi langsung pergi keluar kelas sambil menenteng kotak cokelat itu. Aku yakin dia akan menghampiri Siska, siswi Kelas X-1, adik kelas kami.

Dengan malas aku melangkahkan kaki keluar kelas. Aku masih bimbang soal cokelat. Aku terus melangkah meninggalkan kelasku yang berada di paling ujung kompleks sekolah. Kedua tanganku tersimpan di saku depan celana berharap keajaiban hadir, ada uang puluhan ribu tersimpan di saku itu. Aku terhempas dalam kenyataan, hanya satu lembar uang ribuan yang tersisa.

Langkahku semakin berat. Tanpa terasa sudah di depan koperasi sekolah yang ada di ujung lain sekolahku. Tanpa ada kepastian aku masuki ruang sempit yang sepi itu. Aneka jajanan tertata rapi di meja dan etalase. Pandanganku terhenti pada sebuah kotak kecil bertuliskan “Milk Chocolate” berwarna merah. Bukankah itu juga cokelat, pikirku. Cokelat yang akan mewakili rasa sayangku kepada Asih. “Berapa harga “Milk Chocolate” itu, mbak?” tanya ku kepada penjaga koperasi.

“500,” jawabnya dengan acuh.

Tanpa pikir panjang aku membeli dua batang “Milk Chocolate” dengan uang yang tersisa. Aku tersenyum puas. Dengan dua batang cokelat dalam genggaman, aku tak sabar ingin segera bertemu Asih seusai sekolah.

Tiga bulan silam, aku resmi mengutarakan perasaanku kepada Asih, teman satu angkatan di sekolahku. Lewat sebuah surat, aku mengutarakan perasaanku pada Asih. Itu adalah surat pertamaku untuk seseorang yang isinya mengungkapkan rasa cinta. Setelah surat itu diterima Asih, sepulang sekolah aku bertemu Asih di gerbang sekolah. Dia tersenyum simpul, sambil menganggukkan kepalanya. Dua teman yang mengapitnya ketawa-ketiwi melihat kami berdua beradu mata. Mereka bertiga berlari meninggalkan aku dengan penuh tawa, entah apa yang yang mereka bicarakan.

Aku gembira bukan kepalang. Asih menerima cintaku. Senyumannya. Anggukkan kepalanya terus terngiang-ngiang di pikiran. Terbawa dalam mimpi. Muncul tiba-tiba saat makan. Wajah Asih bisa muncul tiba-tiba dari buku-buku pelajaran. Setelah itu, aku beberapa kali main ke rumah Asih atau sekadar jalan-jalan melihat pasar malam. Di sekolah kami hanya bisa papasan saat istirahat karena beda kelas. Setelah pulang sekolah kami jarang pulang bersama karena rumahku dengan rumahnya berlainan arah.

Kadang ingin rasanya berkomunikasi lebih dengan Asih, seperti teman-temanku lainnya yang sering SMSan, telepon-teleponan atau chating dengan pujaan hatinya. Namun, HP saja aku tidak punya. Asih juga tidak punya HP. Di rumahnya Asih hanya kakaknya yang bekerja sebagai buruh pabrik tekstil yang punya HP. Alhasil pertemuan singkat di sekolah atau kala aku menyambangi rumahnya menjadi sarana komunikasi antara kami. Tapi itu semua tak melunturkan perasaanku dan aku yakin hal yang sama juga dirasakan Asih. Setiap kali kami bertemu, dia selalu tersenyum simpul. Senyum khas yang membuat darahku berdesir dan dada berdegup kencang.

Aku berharap hari ini menemukan lagi senyumnya. Senyum yang bisa memberikan keteduhan. Pelajaran terakhir sebelum sekolah bubar terasa begitu lama. Waktu terasa melambat. Pikiranku sudah melayang jauh membayangkan waktu berdua bersama Asih.

“Teeeeeeet…teeeeeeet…teeeeeeeeet.” Bel tanda bubaran sekolah terdengar nyaring.

Tanpa menunggu waktu terlalu lama aku berlari menuju parkiran. Sepeda jengki warisan dari bapakku aku sambar. Buru-buru kukayuh menuju gerbang sekolah dan berharap Asih belum pulang. Satu persatu temanku meninggalkan gerbang sekolah. Ada yang bergerombol, namun ada juga yang berduaan. Sambil memboncengkan Siska, Rendi melambaikan tangan dari sepeda motornya. Andi, teman bermain sepak bola berjalan beriringan dengan Watik. Ada juga Boby, anak juragan pasir yang membuka kaca mobilnya sambil melemparkan senyum meninggalkan sekolah bersama Indi, gadis tercantik di sekolah kami.

Gerbang sekolah penuh sesak dengan siswa berpakaian abu-abu putih. Di tengah kerumunan itu, aku melihat gadis berkulit sawo matang. Rambut cepak terkesan tomboi. Tak salah lagi, itulah Asih. Dari kejauhan senyum khasnya sudah mengembang, membuat degup jantungku kembali mengencang. Aku melambaikan tangan memberikan tanda kepada Asih. Lambaian tangan itu disambut degan siulan dan sorak-sorai beberapa temanku. Asih tertunduk malu. Pipinya memerah dan aku hanya senyum-senyum tanpa dosa.

Di apit dua temannya yang selalu ketawa-ketiwi, Asih menghampiriku. “Aku antar pulang ya?” kataku kepadanya.

Tanpa memberikan jawaban, Asih malah menengok ke kanan-kiri melihat wajah dua sahabatnya. Seakan memberikan jawaban, kedua sahabatnya tertawa dan mendorong Asih maju dan mereka meninggalkan kami berdua. “Kalau kamu antar aku pulang, nanti kamu pulangnya gimana? Rumah kita kan beda arah,” jawab Asih.

“Sudah tidak usah dipikirkan. Pokoknya naik saja dulu,” jawabku sambil mempersilakan Asih membonceng sepeda bututku.

Sepeda tua itu membawa kami meninggalkan sekolah. Kayuhan terasa berat karena aku harus memboncengkan Asih. Tapi itu tidak menyurutkanku. Api asmara sudah membakar hatiku sehingga kelelahan dan keringat yang bercucuran tidak aku rasakan. Dalam perjalanan kami larut dalam diam. Aku tak bisa banyak bicara karena harus mengayuh sepeda dan semakin banyak aku bicara semakin banyak pula tenaga yang harus kukeluarkan. Asih sepertinya mengetahui hal itu.

Sepeda berbelok meninggalkan jalan raya menuju jalan desa arah rumah Asih. Jalan tanah dengan bebatuan membuat sepeda bergoyang-goyang. Pohon-pohon rindang menemani perjalanan kami.

Tepat di tengah pematang sawah aku menghentikan laju sepeda. “Kok berhenti?” tanya Asih.

“Sih, istirahat dulu di gubuk itu dulu ya,” jawabku beralasan sambil menunjuk gubuk petani tak jauh dari tempat itu.

“Istirahat di rumah saja, kan udah dekat,” kata Asih.

“Ayo sebentar saja. Ada sesuatu untukmu,” kataku.

Tanpa menjawab Asih tersenyum. Senyum khas yang selama ini selalu membuaiku. Sepeda akhirnya aku tuntun menuju gubuk. Kami duduk bersebelahan. Aku menyeka keringat yang membasahi dahiku. Dan Asih menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Sesaat dia berpaling dan menatap wajahku. Dia kembali tersenyum. Ah, sungguh senyum yang bikin aku mabuk kepayang. Setelah aku cukup beristirahat. Tas ranselku aku buka. Aku meminta Asih menutupkan matanya. Sempat dia menolak, tapi sedikit aku paksa, dia akhirnya menurutinya. Dua batang “Milk Chocolate” yang aku beli dari koperasi aku tempelkan di telapak tangannya dan berkata “Selamat Hari Valentine.”

Saat itu pula Asih membuka mata. Di pandanginya dalam-dalam dua bungkusan cokelat itu, Asih menatap ke arah wajahku. Aku menunggu kata-katanya, tapi Asih masih diam seribu bahasa. Yang aku rasakan tangannya menggenggam erat tanganku dan dia tersenyum. Senyum terindah yang pernah aku lihat.

 


Akulah pelacur itu

Azan subuh baru saja menggema. Aku masih terkulai lemas di salah satu kamar hotel murahan di sudut kota ini. Ku bakar rokok mild menthol untuk mengembalikan kesadaranku yang belum sepenuhnya pulih.

Sepertinya terlalu banyak alkohol kutenggak malam ini. Banyak juga pelanggaran yang minta service lebih. Sungguh malam yang melelahkan.

Lampu temaram kamar tak membantuku mencari pakaian dalamku. Entah di mana BH-ku berada. Entah di mana celana dalamku berada. Yang aku tahu pasti pelanggaran terakhirku telah pergi beberapa menit sebelum azan menggema sambil meletakkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan di meja samping tempat tidur.

Asap rokok memenuhi kamar yang berbau apek. Rokok mild menthol di tangan sudah hampir habis. Entah mengapa, pagi ini aku malas meninggalkan hotel murahan ini. Aku sedang ingin menikmati kesendirian ini setelah semalaman bekerja. Tanpa pelanggan, tanpa alkohol, tanpa kondom, hanya rokok mild menthol saja.

Tanpa sehelai pakaian aku menuju kamar mandi, mencuci muka, kencing dan berharap bisa membuang dosa malam ini. Ya, dosa malam ini dan semoga juga dosa malam-malam sebelumnya. Dari kaca kamar mandi aku bisa memandangi seutuhnya tubuh ini, tubuh bugil, tubuh yang sering diolok-olok tubuh seorang pendosa.

Aku maklum saat orang-orang menanggilku dengan sebutan pelacur. Aku sadar sepenuhnya profesi yang aku jalani karena aku memang seorang pelacur. Pelacur jalanan yang semalam bisa melayani lima hingga enam orang berturut-turut. Pelacur murahan yang dibayar setelah orang-orang menikmati tubuhku. Orang yang dibayar karena bisa memberi kenikmatan tubuh bagi orang lain. Itulah aku. Aku tidak menampiknya sama sekali.

Aku tidak akan membela diri dengan mengatakan “Aku melakukan ini semua karena alasan ekonomi.” Meski harus kukatakan, aku membutuhkan uang untuk hidup, aku melakukan ini semua dengan kesadaran diri seutuhnya.

Dalam lapisan masyarakat beradab, aku mungkin berada paling bawah dalam lapisan itu. Manusia hina yang menjual tubuhnya. Apakah aku memang sehina itu?

Aku tidak menggugat keadaanku. Kalau aku dikatakan orang hina, akupun terima, meski kadang masyarakat menjadi hakim yang salah menilai dan mengambil keputusan.

Aku adalah aku. Pelacur jalanan yang menjual tubuh, namun tetap memiliki harga diri. Ya, harga diri. Silahkan tidak percaya, tapi aku memegang teguh harga diriku. Tubuhku bisa dinikmati orang. Setiap inci lekukan tubuhku bisa dijamah orang, tapi tidak jiwaku.

Aku memang penjual tubuh, tapi bukan penjual jiwa. Aku menawarkan seni bercinta, namun aku tidak memberikan cinta. Aku mengajak untuk menikmati malam dengan segala keliarannya, namun aku tidak menawarkan kasih sayang.

Aku memang hina, tapi bukan paling hina. Aku memang pelacur, tapi tidak menjual jiwa. Dan terhinalah orang-orang yang menjual jiwa mereka.

“Kukuruyukkkkkkkk…..”

Kokok ayam jago membuyarkan lamunanku pagi ini.


Balada PHK

Dua polisi yang mengapit tubuh Har, menjadikannya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Mobil polisi dengan suara sirine meraung-raung melaju kencang menuju kantor kepolisian. Kedua tangannya dipegang erat oleh kedua polisi itu.

Bercak darah masih terlihat membekas di pakaian perawat bagian ICU itu. Kedua tangannya pun masih penuh cipratan darah yang mulai mengering. Ini bukan darah pasien yang masuk ICU. Bukan pula darah korban kecelakaan yang ditangani Har. Namun darah itu adalah darah lima orang yang menjadi sasaran Har untuk menumpahkan segala kekalutan hatinya. Darah yang keluar dari mereka yang akan mengetokkan palu “kematian” pemecatan Har dari sebuah rumah sakit.

Mobil warna coklat tua itu tiba-tiba direm mendadak. Dengan cekatan, anggota polisi itu membuka pintu mobil dan langsung membawa Har keluar menuju sebuah bangunan yang di bagian atasnya tertulis “Satuan Reskrim”. Tangan kanan anggota polisi itu memegang erat leher Har, seperti memiting dan Har hanya bisa tertunduk sambil mengikuti jalannya polisi itu.

Lampu blitz dari kamera para jurnalis terus mengarah ke wajah Har. Mungkin karena malu, dengan segala upaya, Har mencoba menutupi wajahnya. Pintu sebuah ruangan langsung dibuka dan Har dibawa ke dalamnya. “Jangan difoto…jangan difoto,” ujar Har beberapa kali.

Namun, perkataan Har tersebut seakan tertelan oleh kesibukan yang tiba-tiba menyeruak di ruangan yang namanya cukup menyeramkan. Ruang Unit Kejahatan Dengan Kekerasan (Jatanras). Kepalanya terus tertunduk mencoba menghindar dari jepretan kamera yang terus menghujam ke arahnya. Bagi jurnalis mungkin ini adalah adegan yang paling menarik, sebuah borgol telah disiapkan dan dengan begitu cepatnya borgol itu telah melekat di kedua tangannya, secepat rana lensa kamera mengabadikan momen itu dengan foreground sebuah parang yang masih penuh darah.

***

Surat dengan amplop warna coklat itu masih dipandanginya terus. Seakan ada kebimbangan, Har berkali-kali membaca tulisan dalam surat itu untuk sekedar memastikan kalimat demi kalimat dalam surat itu. Kalimat yang begitu menghujam perasaannya adalah kalimat “meminta Saudara Har untuk datang ke Bagian Personalia jam 12.30 WIB.”

Bagi Har, surat panggilan itu seperti surat pengantar menuju “jurang kematian”. Surat yang mengabarkan sebuah dukalara seorang perawat yang telah mengabdi selama 14 tahun di rumah sakit. Skorsing selama 1 bulan telah dijalaninya dan kini surat panggilan itu akan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan tentang masa depannya di rumah sakit swasta itu.

Keputusan skorsing dari manajemen rumah sakit yang diterimanya bulan lalu kembali muncul dalam memori otaknya. Skorsing itu datang hanya beberapa hari setelah ada laporan jika bapak dua anak ini melakukan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi yang sedang magang di rumah sakit itu.

Hatinya kalut ketika menerima keputusan skorsing itu meski Har juga tahu jika perbuatan asusilanya memang salah dan merupaka kategori pelanggaran berat. Hari-hari skorsing dihabiskan dengan merenung. Selain itu, Har juga beberapa kali mendatangi rumah para petinggi rumah sakit tersebut untuk meminta maaf dan memohon “pengampunan dosa”.

Rasa takut akan adanya PHK begitu terasa pada diri Har. Bukan saja soal tidak adanya tanggapan positif dari para petinggi rumah sakit itu, namun gaji yang diterima hanya 50% dari biasanya sejak skorsing juga menjadikannya semakin kalut.

Apalagi anak pertamanya masuk rumah sakit setelah menderita demam berdarah dan anak keduanya yang baru berumur 10 bulan masih membutuhkan susu yang harganya terus meroket. Memang isterinya juga bekerja. Namun, perhitungan matematika tidak masuk logika sehingga Har begitu khawatir ekonomi keluarganya bakal carut marut.

***

Sebelum berangkat ke rumah sakit memenuhi panggilan dari manajemen, Har sempat menyalami isterinya. “Yang sabar ya mas. Apapun hasilnya nanti, pasti Tuhan memberikan hal yang terbaik untuk kita,” pesan isterinya.

Bayang-bayang menjadi pengangguran terus menggelayuti pikiran. Usianya tak lagi muda, sudah 39 tahun dan Har tahu betul, dengan usianya itu, dirinya tidak akan mudah mencari pekerjaan baru. Jangankan pekerjaan baru, dari berita-berita di koran dan televisi, Har mendengar jika ribuan pekerja di negeri ini terancam kena PHK.

Sepeda motor yang dibeli secara kredit telah distater. Har sudah siap berangkat. Ada kebimbangan yang begitu besar dalam diri Har. Ketakutan akan PHK, kekhawatiran akan nasib anak dan isterinya dan bayang-bayang kesuraman masa depannya.

Roda sepeda motor itu mulai berputar pelan. Namun, hanya beberapa meter motor itu berjalan, Har langsung menghentikannya. Har langsung turun dari motornya dan kembali ke rumah. Dengan ayunan langkah kaki yang cepat, Har menuju dapur. Sebuah parang yang sudah mulai berkarat diambilnya dan dimasukkannya ke dalam tas. Dengan kemantapan hati, Har kembali menaiki sepeda motornya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Kali ini Har sudah mengambil keputusan. Dirinya akan menjadi “hakim” atas kebenaran yang diyakininya sebelum pimpinannya menjadi “hakim” yang akan mengetokkan palu vonis PHK terhadapnya.


Bukan Intel Sukab

Ini bukan cerita tentang Intel Sukab yang melegenda setelah dikisahkan Seno Gumira Ajidarma. Bukan sebuah kisah tentang seorang intel polisi yang mencoba mengendus gelagat aksi kejahatan atau intel polisi yang memilih menjadi beking di tempat hiburan malam.

Ini cerita tentang intel yang biasa mengamankan aksi demonstrasi. Intel yang suka memanggul kamera video untuk kepentingan kepolisian. Sosok intel muda yang “salah mengambil langkah”. Intel Dudung namanya.

Baru dua tahun, Intel Dudung bertugas di kota ini. Kota yang sedang menggeliat sebagai penyangga dua ibukota provinsi di Jawa. Tak ada yang terlalu menonjol dari Intel Dudung, dia layaknya polisi pada umumnya, dan anggota intel pada khususnya.

Ketidakmenonjolkan Intel Dudung ini menjadikannya tidak menjadi pusat perhatian. Tak banyak yang mengenalnya. Anggota satu korps yang berlainan satuan saja belum banyak yang mengenalnya.

Namun, kejadian disuatu malam, membalikkan itu semua. Dari yang tidak menonjol, menjadi dicari-cari. Dari yang tidak dikenal menjadi ingin tahu. Pagi itu berhembus kabar, Intel Dudung ditangkap. Kabar yang beredar, dia diduga ikut terlibat kasus perampokan taksi.

Tak ada yang menyangka. Tak ada yang menduga. Semuanya bertanya-tanya. Bahkan, pimpinannya pun dibikin bingung bukan kepalang karena belum bisa mengkonfirmasikan kabar penangkapan itu. Dua buah handphone milik Intel Dudung tak bisa dihubungi. Kecurigaan akan penangkapan itu semakin menguat. Hari itu dan mungkin hari-hari berikutnya Intel Dudung bakal jadi buah bibir di kantor kepolisian kota ini.

Semuanya bertanya-tanya mencoba menelisik akan kepastian kabar itu. Ada yang mencoba menghubungi wartawan yang dianggap lebih tahu tentang kabar itu. Ada yang berbisik-bisik kecil di tengah bekerja sambil mengkisahkan tentang keseharian Intel Dudung. Ada yang merayu jurnalis foto yang mungkin memiliki foto penangkapan itu atau setidaknya foto Intel Dudung.

Ada yang langsung menjadi “hakim” dengan menyalahkan perilakunya. Ada yang mencoba bersikap netral, ada yang melihat dari sudut pandang pendapatan anggota polisi dan ada pula yang acuh tak acuh. Namun, pertanyaan besar akan penangkapan itu belum juga terjawab. Mungkin sore itu, mereka pulang dengan tanda tanya besar di kepala mereka.

Hari itu, mungkin ribuan kali orang-orang di kantor kepolisian itu menyebutkan nama Intel Dudung. Dan pagi harinya, seakan memberikan jawaban, semua koran di kota ini mengkisahkan tentang penangkapan Intel Dudung.


Namanya Mus

Panggil saja dia dengan panggilan Mus. Usianya baru 15 tahun. Untuk anak seukuran dia, tubuhnya tergolong bongsor. Kulit wajahnya hitam, menunjukkan sinar ultraviolet sering membakar kulitnya. Wajahnya tidak memancarkan wajah anak yang tampak tanpa dosa. Namun, wajahnya juga tidak menunjukkan keberingasan anak-anak. Wajah standar anak Indonesia pada umumnya, terlihat takut pada orang yang lebih tua dan malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya.
Borgol besi melilit kuat di kedua pergelangan tangannya. Kepalanya tertunduk lesu seakan menyesali perbuatan yang dia lakukan pagi itu. Kalau bisa dan boleh mengungkapkan kata sumpah serapah, Mus ingin berkata-kata, “Mengapa…mengapa harus berakhir seperti ini.”
Di pagi yang buta, kala langit belum sepenuhnya terang, saat kabut pagi masih menyelimuti Kota Solo, tubuh Mus menggigil ketakutan. Ketakutan yang luar biasa besar karena ini menyangkut hidup dan mati. Atap rumah menjadi persembunyiannya selama dua jam. Suara pentungan diseret, gesekan pedang dengan aspal yang bikin telinga miris, semakin menyiutkan nyalinya. Belum lagi, teriakan yang saling bersahutan, menjadikan Mus ingin kencing di celana.
Pilihan hidup memutuskan Mus merampok malam itu. Namun, sial bagi dia dan kawannya Teguh. Korban memberikan perlawanan dan membuat Teguh tak berdaya hingga akhirnya pingsan dipukuli massa. Mus bisa selamat dari kejaran massa setelah naik ke atap rumah dan kini atap rumah sebelah yang habis disatroninya menjadi tempat persembunyiannya.
Kedua kakinya sebenarnya sudah kesemutan dari tadi. Namun, untuk menggerakkan kakinya saja, Mus takutnya bukan kepalang. Satu gerakan bisa menimbulkan suara dan itu merupakan bahaya besar. Sepatu lars polisi beberapa kali terdengar keras. Instruksi dari seseorang yang mungkin komandan polisi terdengar begitu dekat, “Coba dikepung, ada yang dari barat, utara, selatan, timur. Semuanya bergerak.”
Perintah itu diikuti suara sepatu lars seperti orang baris berbaris. Seperti ada ritme-nya, namun bagi Mus itu adalah ritme kematian. Mus terlalu bimbang untuk memutuskan, apakah tetap bertahan terus atau akhirnya mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Mus tidak memiliki sapu tangan putih sebagai tanda dia menyerah kalah, seperti dalam film-film perang yang sering ditontonnya.
Seluruh tubunya sudah terasa pegal. Mus belum ingin menyerah, namun begitu pegalnya tubuhnya sehingga Mus memutuskan untuk memutar badannya. “Itu di atap kelihatan topinya,” teriak seseorang.
Teriakan itu seperti panggilan kematian. Tiba-tiba jantung Mus seperti berhenti. Matanya terpejam kuat seakan tidak berani menghadapi kenyataan yang akan segera terjadi. Suara orang berteriak-teriak semakin terdengar keras. “Ambil tangga..ambil tangga.”
Nyalinya semakin mengkeret. Tak tahu lagi harus berbuat apa, Mus sudah pasrah. “Sudah, semuanya mundur. Semua anggota mendekat, cepat.” Mus mendengar suara itu, seperti suara orang yang tadi memberi perintah untuk mengepung. Tinggal menunggu waktu saja, bagi Mus untuk tertangkap. Namun, ia masih belum tahu, apakah ia akan “habis” pagi itu, atau Tuhan masih memberi kesempatan lain.
Suara anak tangga dinaiki begitu membahana di telinganya. Inilah akhir dari segalanya pikir Mus. Belum sempat Mus mengambil nafas untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk, Mus telah melihat moncong pistol di depannya. Mukannya pucat pasi dan dengan langkah gontai Mus berdiri. “Habisi saja,” teriak orang-orang.
Polisi yang bersiap seperti membuat barikade menenangkan massa yang terlanjur geram dan marah. Satu anak tangga terakhir dan kini Mus kembali menginjak bumi seakan membawa kembali dalam dunia nyata. Polisi tak berseragam yang menodongkan pistol tadi memegang erat lengannya dan tanpa ada komando, Mus diseret lari. Polisi memberikan pengamanan yang super ketat kepada Mus, seperti artis yang diserbu penggemarnya.
Sinar matahari mulai muncul di ufuk timur. Menandakan pagi sebenar-benarnya pagi segera tiba. Di atas truk polisi yang menyelamatkannya dari kejaran massa, Mus melihat matahari yang bersinar cerah.


Bidadari & Bunga di Telinga Kanannya

Dalam gelapnya malam, bidadari itu seperti turun dari langit. Seperti kilat yang muncul begitu tiba-tiba kala hujan, bidadari itu tiba-tiba hadir di tengah nyanyian jangkrik malam. Bintang dan bulan yang tadinya malu-malu menampakkan diri, kini perlahan mulai memancarkan cahayanya begitu bidadari itu menapakkan kakinya di bumi. Dalam temaram lampu petromaks, bidadari itu berjalan pelan menuju arahku.

Bidadari itu tampak siluet karena seperti ada cahaya di belakangnya yang sengaja dipancarkan untuk menembus kabut tebal. Langkah kakinya tampak anggun. Seperti pakaian adat Jawa, selendang yang melingkar di kedua pundaknya berkelebatan terkena angin pegunungan yang berhembus agak kencang.

Aku terpaku dalam diam, seperti menunggu bidadari itu menghampiriku. Seperti ada nuansa lain yang muncul, entah itu magis entah itu malah romantis. Aku sedikit berkeringat karena gugup, meski hawa dingin pegunungan seperti menusuk-nusuk hingga tulang.

Bidadari itu terus mendekat. Jarak kami kini tak lebih dari 10 meter. Aku masih saja belum bisa melihat secara jelas wajahnya. Yang aku lihat hanya bentuk tubuhnya, pakaian kebesarannya dan suara langkah kaki yang kini semakin jelas. Aku hanya menunggu dan menunggu.

Lampu petromaks yang ada di dekatku tiba-tiba meredup dan akhirnya padam. Cahaya terang yang ada di belakang bidadari itu begitu menyilaukan mata hingga aku tak kuasa lagi untuk memejamkan mata. Hanya kegelapan yang ada ketika mataku tertutup rapat. Suara nyanyian jangkrik tak lagi terdengar. Aku merasakan adanya kesunyian yang sebenar-benarnya sunyi.

Kuberanikan diri untuk kembali membuka mata dan bidadari itu telah ada di depanku. Cahaya terang yang menyilaukan mata hilang entah kemana. Bisa ku lihat secara jelas wajah bidadari itu. Wajah yang mencerminkan keanggunan seorang perempuan. Kecantikan sempurna yang memberikan keteduhan bagi siapa saja yang melihatnya.

Pakaian yang dikenakannya begitu serasi dengan tubuh dan wajahnya. Seperti ada mahkota yang melingkar di kepalanya. Dan ada bunga yang terselip di daun telinga kanannya. Bunga yang sangat indah karena mekar dengan sempurna. Begitu indahnya bunga itu hingga aku bisa melihat tekstur dan detail bunga yang seakan menghembuskan wewangian di sekitarnya.

Mata beningnya menatap lurus ke arahku. Senyuman dari bibir indahnya mengembang. Begitu terpukaunya aku hingga aku membatu, tak ku balas juga senyuman itu. Tangan kanannya mengambil bunga yang terselip di daun telinganya. Entah apa maksudnya, dia mencoba membaui bunga yang dipegangannya. Kepalanya tertunduk seperti menikmati wewangian bunga itu.

Senyuman kedua kembali meluncur begitu bidadari itu selesai membaui bunga itu. Diulurkan tangan yang memegang bunga itu ke arahku. Seperti memberikan sandi, bidadari itu menganggukkan kepala. Kulit tangannya terasa begitu lembut ketika tanpa sengaja aku menyentuhnya saat menerima bunga itu.

Tak tahu atas dasar apa, aku tiba-tiba mendekatkan bunga itu ke hidungku. Aku tiba-tiba ingin membaui bunga itu. Begitu wanginya bunga itu hingga aku memejamkan mata saat membauinya. Satu, dua, tiga menit telah berlalu dan aku kembali membuka mata. Bidadari itu tak lagi berada di hadapanku. Aku mencoba melihat ke arah langit dan berhadap menemukannya lagi. Bukan bidadari yang kutemukan, namun butir-butir air yang jatuh dari langit yang datang sebagai pertanda hujan akan segera tiba.


%d blogger menyukai ini: