Tag Archives: sejarah

Tan Malaka dan operanya

Kontroversial. Itulah kata yang pas untuk menggambarkan Bapak Revolusi Indonesia, Tan Malaka. Kontroversi memang selalu menyelimuti setiap liku laki-laki kelahiran Suliki ini. Mulai dari perpecahannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Komunis Internasional (Komintern), petualangannya ke berbagai negara karena diburu intel hingga kematiannya yang masih misterius. Kini, kontroversi kembali menyeruak, Opera Tan Malaka dilarang disiarkan di TV lokal  di sejumlah daerah oleh aparat negara.

Melihat dengan mata kepalanya sendiri, Tan Malaka begitu berduka saudara-saudaranya sebangsa ditindas di perkebunan di Sumatra. Kenyataan di perkebunan itu membuat hatinya berontak dan datang ke pusat pergolakan perjuangan bangsa, Jawa. Dia pun bergabung dengan tokoh-tokoh PKI untuk mengkoordinasi buruh-buruh. Tak hanya itu, Tan Malaka juga mendirikan sekolah-sekolah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sang Penjajah Belanda yang khawatir dengan kegiatan Tan Malaka akhirnya menangkap dan membuangnya.

Tan Malaka pun memulai operanya di Belanda saat pembuangan. Beberapa kali bergabung dengan Komintern, dia ditunjuk sebagai Pimpinan Komunis Asia Tenggara. Namun, hubungannya dengan PKI dan Komintern pecah setelah PKI berniat memberontak 1927. Partai Republik Indonesia (Pari) didirikannya sebagai alat perjuangan. Puluhan tahun Tan Malaka berpetualang ke berbagai negara menghindari kejaran intel. Baru menjelang kemerdekaan bangsa ini, Tan Malaka bisa masuk Indonesia.

Setelah kemerdekaan, Tan Malaka berhubungan dengan tokoh-tokoh perjuangan mulai dari Soekarno hingga Jenderal Soedirman. Sikap kerasnya dan tak mau kompromi dengan penjajahan akhirnya mengantarkannya ke ujung maut oleh sesama anak bangsa. Kematiannya masih penuh misteri. Ada yang menyebutnya dia ditembak dan dibuang ke Kali Brantas. Namun, peneliti Belanda, Harry A Poeze menduga Tan Malaka dimakamkan di Semen, Kediri. Hingga kini, teka-teki kematiannya pun belum terungkap.

Kini, kala sejumlah TV lokal hendak menayangkan Opera Tan Malaka, mereka yang dikenal dengan aparat negara melarang penayangan opera yang mengawinkan antara musik dan sastra itu. Rupanya bangsa ini masih belum benar-benar belajar dari sejarah. Segala sesuatu yang berbau PKI adalah haram hukumnya. Anak-anak muda bangsa ini dipaksa untuk tidak mengenal Tan Malaka yang sebenarnya sudah menyandang gelar pahlawan nasional. Bangsa ini terlalu berpikiran kerdil ketika tokoh yang bisa menginspirasi anak-anak muda tentang totalitas perjuangan dan nasionalisme selalu diasingkan dari rakyatnya.

Bangsa ini tak boleh lupa, Tan Malaka memang seorang komunis, namun juga nasionalis sejati. Mereka para aparat negara tak boleh lupa, proklamator bangsa ini, Soekarno selalu menenteng buku Aksi Massa karya Tan Malaka untuk menggerakkan semangat rakyat menjelang kemerdekaan. Anak-anak muda yang memaksa Soekarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan juga “dikompori” Tan Malaka. Soekarno pun sudah menyerahkan mandat kepada Tan Malaka dan tiga orang lainnya untuk memimpin bangsa ini jika suatu ketika Soekarno menghadapi masalah.

Kita selalu mendengungkan diri sebagai bangsa yang besar karena menghargai perjuangan para pendiri bangsa ini. Namun, negara lewat aparat-aparatnya telah melarang rakyatnya untuk menonton sepenggal kisah tentang pahlawan nasional itu. Benarkan kita bangsa yang besar?

 

Iklan

Bertemu Tan Malaka di PMI

Mungkin bangsa ini lupa kalau pernah punya anak bangsa yang bernama Tan Malaka. Mungkin para sejarawan hilang ingatan, proklamator Soekarno selalu menenteng buku karya Ibrahim Datuk Tan Malaka untuk mengobarkan semangat kemerdekaan. Mungkin para anak muda negeri ini lebih bangga mengenakan kaus oblong bergambar Che Guevara daripada bergambar laki-laki kelahiran Suliki, Sumatra Barat ini.

Kalau kau bertanya siapakah Tan Malaka itu pada anak SD atau SMP, mungkin mereka menjawab, “Nama lain dari Selat Malaka.” Kalau kau bertanya pada pelajar SMA, mungkin mereka hanya bergumam, mengerutkan dahi, tersenyum dan menggelengkan kepala. Wajar mereka pelajar SD-SMA tak tahu siapa Tan Malaka karena memang nama itu tidak pernah disebut dalam buku pelajaran buatan Departemen P&K atau Kementerian Pendidikan. Kalau kau bertanya pada mahasiswa, bisa jadi mereka menjawab, “Jelas Tan Malaka itu tokoh PKI, temannya Aidit,” jawab mereka sok tau.

Tan Malaka adalah legenda. Tan Malaka adalah tokoh misterius seperti tokoh Pendekar Tanpa Nama dalam novel Nagabumi-nya Seno Gumira Ajidarma. Tokoh yang menyandang 23 nama palsu dan hampir 20 tahun (1923-1942) menjadi seorang pelarian yang selalu berpindah tempat mulai dari Kanton, Filipina, Singapura, Thailand, kembali ke Filipina, Shanghai, Hongkong, Pulau Amoy, kembali ke Singapura, Burma, ke Singapura lagi dan terakhir Penang, Malaysia sebelum akhirnya masuk ke Indonesia melalui Medan dengan nama Legas Hussein.

Dialah tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebelum Indonesia merdeka. Bukan tokoh PKI era Aidit seperti kata mahasiswa yang sok tau itu. Maka, jangan heran kalau namanya sama sekali tidak ada dalam buku pelajaran sejarah resmi dari pemerintah karena Tan Malaka seorang komunis.

Bagi sebagian orang, Tan Malaka layak disejajarkan dengan Che Guevara sebagai tokoh revolusioner dan tak kenal kompromi. Namanya dikenal mulai di Moskow ketika masih ada Komunis Internasional (Komintern), disebut-sebut di Belanda setelah sempat mencalonkan diri menjadi anggota DPR Belanda, di Filipina disejajarkan dengan Jose Rizal, pahlawan negeri itu.

Nasib Tan Malaka yang namanya tidak membumi di negerinya sendiri lebih karena dia seorang komunis. Namun, karyanya mulai dari 100% Merdeka, Gerpolek, Dari Penjara Ke Penjara hingga karya masterpiece-nya, Madilog layak dihargai. Dalam karya itu tertuang pemikiran-pemikiran seorang Tan Malaka. Bahkan, seorang Soekarno pun diketahui sering menenteng buku-buku karya Tan Malaka saat persiapan kemerdekaan bangsa ini.

Buku-buku yang berisi pemikirannya sudah banyak menjejali toko-toko buku. Dan khazanah tentang Tan Malaka semakin lengkap dengan terbitnya novel Pacar Merah Indonesia (PMI) karya Matu Mona. Novel kuno yang terbit tahun 1930-an ini, diterbitkan ulang oleh penerbit Beranda, Februari 2010. Dari tiga buku PMI, baru menemukan dua buku yaitu PMI buku 1 dan PMI buku 2 yang beredar di pasaran.

Dalam novel itu, Tan Malaka digambarkan sebagai sosok bernama Pacar Merah. Seperti dalam kehidupan nyata, di berbagai negara tempat pelariannya namanya selalu berganti-ganti menggunakan nama palsu untuk menghindari kejaran intel-intel internasional yang memburunya.

Membaca novel ini, kau akan dibawa dalam hiruk pikuk peta perpolitikan internasional tahun 1930-1932. Dari Moskow, Paris, Thailand, Filipina, Singapura, Palestina, India hingga Iran. Kau akan dibawa berlari dari satu kota ke kota lain, dari negara satu ke negara lain, dari satu pulau ke pulau lain. Layaknya sebuah cerita petualangan, ada kalanya Pacar Merah rehat sebentar dari kejaran intel, ada kalanya terkepung dalam rumah, terjebak dalam peperangan China-Jepang, tertangkap intel, dipenjara dan bebas untuk melanjutkan perjuangan.

Dalam novel itu digambarkan pula bagaimana sosok Pacar Merah yang begitu memiliki pengaruh di berbagai negara hingga selalu ada orang yang membantunya dalam pelarian. Selalu ada lubang tikus saat intel internasional memburunya. Namun, sayang, dalam novel itu digambarkan sosok Pacar Merah yang seperti memiliki ilmu mistik sehingga selalu bisa selamat dari tangkapan intel meski sudah terjepit. Mungkin itu jadi alasan M Sjarqawi (penerbit PMI tahun 1938) untuk mengatakan jika tokoh yang ada dalam novel itu adalah fiksi belaka. Padahal dalam buku Madilog, Tan Malaka menentang keras dunia mistik yang membelenggu bangsa ini.

Bagi Harry A Poeze, peneliti Belanda yang menaruh perhatian lebih soal Tan Malaka, PMI selayaknya roman picisan yang sedang berkembang tahun 1930-an. Namun ada kelebihan roman PMI yaitu menggabungkan antara fakta, khayalan dan ilmu pengetahuan seperti yang dilakukan Karl May, Victor Hugo ataupun Alexandre Dumas kala itu.

Dan seperti roman-roman pada umumnya, bumbu-bumbu asmara dan percintaan juga menjadi kisah menarik dalam PMI. Kisah cinta antara Ivan Alminsky (tokoh yang menggambarkan tokoh PKI lainnya Alimin) dan Marcelle dengan kata romantis j’ai deux amorus juga mengisi beberapa lembar buku ini. Atau kisah tentang Pacar Merah dengan Si Cantik Ninon. Ketika Alminskyberkata kepada Marcelle ,”J’ai deux amorus. Aku memiliki dua cinta yaitu cinta kepada negeriku dan kepadamu.”, maka Pacar Merah memilih mengesampingkan perasaannya kepada Ninon karena begitu besar rasa cintanya kepada negerinya. Hingga akhir hayat, Pacar Merah hanya memiliki satu cinta, cinta kepada negerinya, Indonesia.

Ketika buku-buku karya Tan Malaka dianggap sebagai buku berat, buku yang dijejali doktrinasi dan “kalah pamor” dengan buku picisan, maka novel PMI bisa menjadi obat. Obat untuk lebih mengenal Si Macan, Tan Malaka.


T.A.S., Sang Pemula & ¼ Abadku…

Tirto Adhi SoerjoBeberapa hari yang lalu, dalam sebuah obrolan di wedangan depan Yahoo Kalitan seorang kawan mengusulkan adanya sebuah kegiatan dari kawan-kawan jurnalis di Solo untuk mengenang seseorang yang bernama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS).

Kawan dari sebuah media online terkemuka itu menceritakan tentang peran besar TAS dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Peran TAS yang begitu besar bagi bangsa ini terutama dunia jurnalistik ternyata belum terlalu terdengar gaungnya hingga saat ini. Meski sudah mendapatkan gelar pahlawan nasional, namun nama TAS masih terlalu asing bagi masyarakat umum, bahkan terasa asing bagi sebagian kalangan jurnalis.

“Terlalu sayang jika begi saja melupakan peran TAS. Mungkin belum banyak diungkap karena sebagian pengikutnya condong kiri, termasuk Mas Marco (Mas Marco Kartodikromo),” seloroh dia.

Obrolan mengenai TAS malam itu seakan membawaku kembali ke masa lalu, beberapa tahun yang lalu. Masih teringat jelas kisah Minke dalam Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer (PAT). Masih teringat juga sebuah buku pemberian dari seorang kawan yang berjudul Sang Pemula karya PAT pula. Buku-buku itu mengisahkan tentang seseorang yang bernama TAS.

“Dialah Sang Pemula! Dialah Sang Penyuluh itu!” kata Muhidin M Dahlan dalam pengantar buku Sang Pemula.

Buku-buku itu kebetulan terbaca saat harapan menjadi jurnalis membumbung tinggi. Ketika impian sejak SMA mulai terasa jelas arahnya. Dan buku-buku itu seakan menjadi ‘kitab suci’ pengawal diri menuju dunia jurnalisme sambil berharap bisa menjadi ‘Sang Pemula Baru’. Betapa tidak aku punya mimpi menjadi ‘Sang Pemula Baru’, ketika itu TAS yang mempunyai nama kecil Djokomono sejak umur 14-15 tahun telah mengirimkan berbagai tulisan ke sejumlah surat kabar terbitan Betawi.

Aksi tulis menulis, TAS yang mengenyam pendidikan di Stovia (sekolah dokter) itu berlanjut dengan membantu menulis di Chabar Hindia Olanda, kemudian pembantu di Pembrita Betawi, pembantu tetap Pewarta Priangan yang hanya berumur pendek. Salah satu karya jurnalistiknya yang gilang gemilang adalah membongkar skandal Residen Madiun JJ Donner. Kala itu, Donner menurunkan Bupati Madiun Brotodiningrat dengan membuat persekongkolan dengan Patih dan Jaksa Kepala Madiun.

Begitu tajamnya pena TAS hingga akhirnya dia harus berhadapan dengan pengasa Hindia Belanda. Namun, itu semua tidak menyurutkan langkahnya. Hingga Januari 1907, menjadi tonggak berdirinya surat kabar pertama di Indonesia yang dibidani TAS dengan lahirnya Medan Prijaji. Surat kabar ini disebut sebagai koran pertama di Indonesia karena semuanya dikelola oleh pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri.

Medan Prijaji

Tidak bisa aku bayangkan, di tengah sikap represif dari penguasa ditambah lagi belum adanya UU Pers yang melindunginya, TAS tak gentar memperjuangkan nasib bangsanya melalui tulisan. Dan kalau boleh aku meminjam istilah anak muda jaman sekarang, saya ngefans dengan TAS.

Aku masih punya mimpi menjadi ‘Sang Pemula Baru’ meski belum melakukan apa-apa. Meski belum berbuat apa-apa hingga umur ¼ abad, tapi mimpi menjadi seperti Sang Pemula itu tak pernah padam. Punya mimpi bisa menjadi seperti TAS seperti yang dikatakan Mas Marco,

“Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, jang seorang bangsawan asali dan joega bangsawan kafikiran, Boemipoetra jang pertama kali mendjabat Journalist; boleh bilang toean T.A.S. indoek Journalist Boemipoetra di ini tanah Djawa, tadjam sekali beliau poenya penna, banjak Pembesar-Pembesar jang kena critieknja djadi moentah darah dan sebagian besar soeka memperbaiki kelakoeannja jang koerang senonoh.”


Anak Muda & Tan Malaka(isme)

Ketika generasi muda kini berani membusungkan dada

saat menggunakan kaus bergambar Che Guevara,

mungkin mereka lupa jika bangsa ini

punya sosok yang bernama Tan Malaka

Bagi anak muda, Che Guevara tak hanya idola, namun juga “Nabi” yang pantas menjadi panutan. Che Guevara tidak hanya melegenda di Argentina, Bolivia, Kuba ataupun negara Amerika Latin lainnya, namun Ernesto Che Guevara telah menginspirasi jutaan anak muda di berbagai belahan dunia. Kisah perjalaan Che mengelilingi Amerika Latin hingga kisah kematiannya seakan menjadi kisah yang tidak pernah usang. Kisah-kisah seputar Che seakan menjadi kisah “turun temurun” yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Che memang memiliki magnet tersendiri bagi anak muda yang hidup pascakematian Che. Nama Che identik dengan perlawanan, revolusi atau anak muda sekarang lebih suka menggunakan kata rebel. Sepak terjang Che yang dalam Revolusi Kuba hingga pergerakan di Amerika Latin memang bisa menjadi dasar bagi anak muda untuk me-Nabi-kan sosok Che.

Che begitu diagung-agungkan, hingga wajah Che dengan begitu mudahnya dijumpai di setiap sudut kota. Di sepanjang emperan toko Jalan Malioboro, pedagang stiker memajang wajah Che yang sangat khas, berbaret lengkap dengan bintangnya. Atau kaus warna hitam yang bagian depannya menampilkan wajah Che yang telah di-trace warna merah dengan kombinasi kuning di tambah kata Revolution di bawahnya dengan begitu mudahnya ditemukan di toko-toko pakaian. Alhasil, stiker gambar Che dengan mudahnya ditemukan di kamar kos, kampus, sepeda motor hingga pintu WC umum. Dan begitu mudahya kita menemukan anak muda menggunakan kaus bergambar Che, mulai dari mahasiswa yang sedang unjuk rasa, pengamen jalanan hingga gadis seksi yang berjalan lenggak-lenggok di mal-mal.

Ya, kepopuleran Che memang telah dimanfaatkan secara nyata oleh tangan jahil kapitalis. Ribuan stiker dicetak tiap harinya untuk meraup keuntungan. Kaus-kaus bergambar Che terus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar dan akhirnya sosok Che yang begitu Revolusioner telah menjadi bagian dari budaya pop anak muda ala kapitalisme yang tentunya sangat tidak revolusioner. Namun, apapun itu, Che telah membumi dan itu tidak bisa dipatahkan begitu saja.

Bicara soal sosok revolusioner yang membumi, penulis ingat sosok Tan Malaka yang sangat tidak membumi. Bahkan, sosok yang memiliki nama lengkap Ibahim Datuk Tan Malaka tersebut selama hidupnya selalu dipenuhi dengan misteri. Tan tak berbeda dengan Che, sama-sama revolusioner dalam perjuangan dan sama-sama dipengaruhi oleh paham komunisme. Tak ada maksud untuk membandingkan antara Che dan Tan, namun tak ada salahnya jika membumikan sosok Tan Malaka, bapak bangsa ini yang disebut-sebut Che Guevara dari Asia.

Nama Tan Malaka hampir tidak pernah ditemukan dalam buku sejarah bangsa ini. Sejak belajar di SD hingga perguruan tinggi, nama Tan yang biasa disebut dengan Si Macan tersebut tidak pernah disinggung apalagi dibicarakan. Mungkin karena sejarah adalah milik penguasa, maka Tan Malaka yang memang sempat memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) ini sengaja dihilangkan dari buku sejarah bangsa ini.

Tan lahir di lembah Suliki, Payakumuh, Sumatera Barat tahun 1897. Lahir dari keluarga yang Islami, Tan tumbuh besar menjadi anak yang bengal, namun diketahui juga hafal Al Quran. Tahun 1913 menuju negeri Belanda untuk melanjutkan studinya sebagai calon guru. Namun, di negeri itu bukan gelar guru yang diperolehnya. Belanda yang saat itu menjajah Indonesia, telah mengenalkannya pada politik terutama pemikiran komunisme dengan cita-cita utama, kemerdekaan Indonesia.

Tidak lulus dari Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda, Tan kembali ke Indonesia dan menjadi guru sekolah rendah di kawasan perkebunan di Deli, Sumatera Utara. Selama menjadi guru rendah tersebut, mata Tan terbuka lebar akan penindasan yang dialami bangsanya hingga suatu ketika di tahun 1921, Tan berangkat ke Semarang untuk ikut serta dalam arus pergerakan kemerdekaan.

Perkenalannya dengan tokoh-tokoh pergerakan kala itu menjadikan Tan, turut aktif dalam pergerakan, terutama lewat Sarekat Islam (SI). Bahkan, Tan aktif untuk menyatukan SI dengan komunis untuk menghadapi imperialisme Belanda. Pergerakan Tan kala itu membuat takut Belanda dan 13 Februari 1922, Tan ditangkap di Bandung untuk kemudian diasingkan di Belanda.

Dibuang ke Belanda tidak melunturkan semangat Tan, bahkan kala di Negeri Kincir Angin itu, Tan terus bergerak untuk kemerdekaan Indonesia hingga sempat menjadi calon anggota parlemen dengan nomor urut tiga di Partai Komunis Belanda. Dari Belanda, Tan pindah ke Jerman dan sempat mendaftar sebagai legiun asing, namun ditolak. Akhir tahun 1922, Tan pindah ke Moskow untuk mewakili PKI dalam konfrensi Komunis Internasional (Komintern) dan akhirnya Tan diangkat sebagai Wakil Komintern di Asia Timur.

Selama periode 1923 hingga 1942 atau hampir 20 tahun, Tan menjadi seorang pelarian. Selama periode itu, Tan pindah-pindah mulai dari Kanton, Filipina, Singapura, Thailand, kembali ke Filipina, Shanghai, Hongkong, Pulau Amoy, kembali ke Singapura, Burma, ke Singapura lagi dan terakhir Penang, Malaysia sebelum akhirnya masuk ke Indonesia melalui Medan dengan nama Legas Hussein.

Selama pelarian di 11 negara tersebut, Tan Malaka memiliki 23 nama palsu untuk menghindari kejaran inteljen Belanda, Jepang, Inggris dan AS. Sempat beberapa kali ditahan di Filipina atau Hongkong, namun akhirnya tetap bisa lolos. Selama pelariannya itu pula, Tan Malaka sempat menjadi koresponden, wartawan, guru bahasa Inggris, Jerman dan matematika. Selama pelarian itu pula, Tan menulis buku Naar de Reubliek Indonesia dan menjadi orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia serta buku Massa Actie atau Aksi Massa yang menjadi buku panduan dan pegangan Ir Soekarno, Hatta hingga Syahrir untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, tahun 1927, Tan mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok.

Tahun 1942, Tan di Jakarta dan selama depalan bulan menulis buku yang sangat fenomenal Madilog. Tan kemudian menuju Bayah, Banten bekerja di pertambangan batu bara Jepang tahun 1943 dengan mengunakan nama Ilyas Hussein. Meski menjadi orang pertama yang menggagas konsep Republik Indonesia, namun Tan Malaka justru malah terlambat mengetahui Proklamasi 17 Agustus 1945. Hal itu sangat ironis. Perkenalannya dengan tokoh pemuda seperti Sayuti Melik, Chaerul Saleh hingga BM Diah membuahkan Rapat Raksasa di Lapangan Ikada. Tan disebut-sebut orang di belakang dari rapat akbar yang dihadiri 200 ribu orang tersebut.

Soekarno yang mengetahui kehadiran Tan Malaka, memeritahkan Sayuti Melik untuk melakukan pertemuan tertutup empat mata antara Soekarno dan Tan. Dalam pertemuan tersebut, Soekarno sempat mengatakan “Jika nanti terjadi sesuatu pada diri kami (Soekarno-Hatta) sehingga tidak dapat memimpin revolusi, saya harap Saudara yang melanjutkan.”

Pernyataan tersebut diikuti dengan adanya pemberian Testamen politik dan naskah proklamasi dari Soekarno kepada Tan Malaka. Apa yang dilakukan Soekarno tidak disepakati Hatta hingga akhirnya diambil jalan tengah, testamen diberikan kepada empat orang yaitu Tan Malaka, Syahrir, Wongsonegoro dan Iwa Koesoemasoemantri.

Pertalian Tan dengan bapak bangsa lainnya pecah karena kebijakan diplomatik dari Soekrano-Hatta-Syahrir. Tan menentang sepenuhnya jalur perundingan karena hal itu mengurangi kemerdekaan Indonesia 100% seperti apa yang selalu dikatakan Tan yaitu 100% merdeka. Bersama 141 kelompok, Tan membentuk Persatuan Perjuangan bersama Jenderal Soedirman dan memilih bergelilya untuk menangkal agresi Belanda.

Tan yang teguh untuk melawan tanpa lewat perundingan, akhirnya dijebloskan ke penjara, 17 Maret 1946 di Madiun. Dua tahun lebih, Tan baru dibebaskan dan tetap melanjutkan perjuangan lewat gerilya di Jawa Timur. Perlawanan Tan tanpa pernah mau berkompromi akhirnya berakhir pada kematiannya yang tragis, tewas di ujung senapa tentara republik yang digagasnya.

Kematian Tan sempat kontroversial. Banyak orang meyakini, Tan tewas ditembak di tepi Kali Brantas, Kediri. Namun, sejarawan Harry Poeze yang telah meneliti Tan Malak selama 36 tahun meyakini Tan tewas dieksekusi oleh pasukan Batalion Sikatan di Dusun Selopanggung, Semen, Kediri pada 21 Februari 1949.

Selama ini, Tan dikenal sebagai tokoh kemerdekaan paling misterius. Tokoh yang disebut Soekarno dengan istilah “Seorang yang mahir dalam revolusi” telah menjadi bapak bangsa yang terlupakan. Tidak banyak anak muda mengetahui sepak terjang Tan seperti mereka mengenal sepak terjang Che.

Tidak banyak anak muda yang mengerti tentang perjalanan Tan di 11 negara seperti mereka mengenal Che yang berkeliling Amerika Latin dengan sepeda motor. Tidak banyak anak muda yang mengenal kisah cinta Tan Malaka dengan Syarifah Nawawi yang bertepuk sebelah tangan, seperti mereka mengenal kisah cinta Che. Sudah saatnya melawan pelupaan, saatnya anak muda bangga kala menggunakan kaus bergambar Tan Malaka dan berani meneriakkan perlawanan, seperti apa yang telah dikatakan Tan Malaka dalam Dari Penjara ke Penjara jilid II ,”Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”


Vonis 1,5 tahun itu jatuh saat “hari baik”…

Hari ini adalah hari Senin Wage, jadi hari baik karena memiliki sifat lakuning geni wasesa segara yang artinya pemberani dan pemberi ampunan.

Kalimat itu meluncur dari Kepala Museum Radya Pustaka Solo KRH Darmodipuro alias Mbah Hadi yang menjadi terdakwa kasus pencurian dan pemalsuan arca, Senin (30/6).

Ahli pawukon (menghitung hari) mengucapkan kalimat itu beberapa saat sebelum mengikuti persidangan di PN Solo yang mengagendakan pembacaan vonis.

Mbah Hadi menegaskan, karena pelaksanaan vonis kasus pencurian dan pemalsuan arca museum yang telah menyeretnya ke meja hijau merupakan hari baik, ia yakin hakim akan memberikan hal yang terbaik untuk dirinya.

Bahkan, sebelum mengikuti persidangan, Mbah Hadi juga membagikan selebaran kepada wartawan yang mengerubutinya. Selebaran tersebut berisi alamat hingga nomor handphone Mbah Hadi yang siap untuk melayani masyarakat dalam perhitungan Jawa hingga penyelenggaraan upacara ruwatan.

Mbah Hadi juga mencantumkan alamat tempat dirinya buka praktik yaitu di Bangsal Keraton Surakarta, sebelah timur Alun-alun Utara. ”Ini juga diberitakan ya, biar masyarakat juga tahu karena pihak Keraton telah menyediakan tempat untuk saya,” kata Mbah Hadi.

Sebelum sidang dimulai, beberapa kali Mbah Hadi sempat bercanda dengan wartawan. Dan ketika persidangan dimulai, dengan wajah yang cukup tenang, Mbah Hadi melangkah menuju ruang sidang dengan kawalan dari polisi.

Saat belasan fotografer dan wartawan televisi menyorotnya dengan kamera, beberapa kali Mbah Hadi menebarkan senyuman. Namun, ketika persidangan dimulai, wajah Mbah Hadi tampak serius mendengarkan pembacaan vonis. Dan ketika, majelis hakim akhirnya menjatuhkan vonis, wajahnya kian menegang.

Dengan wajah yang tenang meski menunjukkan kelelahan karena pembacaan vonis dilakukan lebih dari satu jam, Mbah Hadi tetap menjawab pertanyaan wartawan mengenai vonis 1,5 tahun penjara yang dijatuhkan hakim. ”Ya itu tengah-tengah ta. Kalau di-tawani (ditawari-red) ya milih bebas. Saya biasa-biasa saja, tidak tegang,” aku Mbah Hadi.

Saat ditanya mengenai apakah hari pelaksanaan vonis tersebut tetap merupakan hari baik meski akhirnya hakim memvonis dirinya 1,5 tahun penjara, Mbah Hadi mengatakan, hari Senin Wage tetap merupakan hari baik.


%d blogger menyukai ini: