Tag Archives: sepakbola

Menggugat Bonek!!!

Saya dan ratusan penumpang kereta api (KA) Prambanan Ekspress (Prameks) hanya bisa menggerutu dan ngedumel setelah perjalanan KA yang kami tumpangi harus tertunda perjalanannya gara-gara Kereta Api Luar Biasa (KLB) yang mengangkut suporter Persebaya yang akrab dikenal dengan bondo nekat (Bonek) melintas di Solo, Minggu pagi.

KA yang seharusnya berangkat jam 8 pagi baru bisa meninggalkan Solo jam setengah 11 dan perjalanan Solo-Jogja yang biasanya bisa ditempuh selama 1 jam kini menjadi 3,5 jam. Di stasiun KA Purwosari yang berada di paling barat Kota Solo, ratusan orang telah berkumpul di sepanjang rel KA. Lengkap dengan alat perlindungan berupa helm dan senjata penyerangan berupa batu. Mereka bersiaga “menyambut” kedatangan Bonek di Solo. Bahkan, setiap kali ada kereta yang melintas, petugas stasiun melalui pengeras suara mengingatkan tidak ada Bonek yang ada dalam kereta yang akan masuk stasiun.

“Kereta Sri Tanjung dari Stasiun Lempuyangan, Jogja. Jadi kami menjamin tidak ada Bonek di dalam kereta. Mohon perhatian dari semua orang, jangan melempar batu, tidak ada Bonek dalam kereta itu,” kata petugas stasiun berulang-ulang.

Dari Stasiun Purwosari, saya mulai menumpang KA Prameks. Sebelum meninggalkan Solo, KA itu akan singgah dulu ke Stasiun Balapan, Jebres dan Palur, Karanganyar. Di sepanjang rel KA mulai dari Purwosari di Laweyan hingga Balapan di Banjarsari, ratusan orang berkumpul di setiap perlintasan KA, di tepi-tepi rel KA. Pemandangan serupa juga terlihat dari Jebres hingga Palur. Semuanya bersenjatakan batu di tangan.

Kebetulan mulai hari itu saya cuti tugas sehingga tidak memiliki kesempatan menjadi saksi mata kepulangan Bonek ke Surabaya. Saat keberangkatan mereka ke Bandung, saya bersama puluhan jurnalis lainnya menjadi saksi keberingasan Bonek di Stasiun Jebres, Jumat. Bentrokan terbuka antara Bonek dan warga bisa dihalau polisi setelah ada beberapa kali tembakan peringatan dan KA berjalan.

Saya hanya bisa melihat warga bersiaga penuh, lebih siap dari Jumat lalu. Bersiap melakukan aksi lempar batu, aksi anarkis yang juga sering dilakukan oleh Bonek selama perjalanan berangkat ataupun pulang setelah menonton Persebaya bertanding. Kekhawatirkan adanya kericuhan yang lebih besar saat Bonek pulang sudah bisa diprediksi. Jurnalis di Solo sempat menyerukan agar Bonek tidak kembali melalui Solo agar tidak ada bentrokan yang lebih besar. Bahkan, Kapoltabes Solo Kombes Pol Joko Irwanto pun sudah meminta kepada PT KA agar Bonek tidak dilewatkan Solo.

Sudah terlalu banyak korban dalam kejadian yang memalukan itu. Di Solo, ada fotografer Antara, Hasan Sakri yang dikeroyok Bonek. Ada anggota Brimob Briptu Mursito yang mengalami luka serius di bagian mata, ada juga dua warga yang terluka dan dua Bonek yang jatuh dari kereta dan nyaris jadi bulan-bulanan massa. Peringatan itu tidak diindahkan dan prediksi itu benar adanya.

Disebut-sebut ada sekitar dua ribu warga di sepanjang rel KA di Solo yang menghadang KA yang mengangkut Bonek. Aksi lempar-lempar batu kembali tidak bisa dihindari hingga akhirnya seorang jurnalis kembali menjadi korban. Nia Fathoni dari TATV terkena lemparan batu dari Bonek hingga akhirnya dirawat di rumah sakit.

Aksi brutal yang dilakukan Bonek menjadi sorotan para penumpang Prameks yang saya tumpangi. Seorang bocah sempat nyletuk, “Siapa yang salah. Coba ada salah satu pihak yang mengalah, pasti tidak terjadi.”

Tapi benarkah ada yang mau mengalah? Kami penumpang Prameks sudah mengalah dengan keterlambatan kereta. Para pedagang di stasiun kereta api juga sudah mengalah menutup toko agar tidak dijarah dan itu tentunya mengurangi pendapatan mereka. Rakyat kecil sudah mengalah memberi kesempatan bagi Bonek untuk melintas.

Selama perjalanan Bonek seakan mendapatkan perlakuan istimewa. Mereka diberi maka gratis, minum gratis, jalannya KA juga didahulukan, padahal kereta yang mereka tumpangi adalah KA ekonomi. Sudah menjadi rahasia umum, PT KA selalu mendahulukan KA bisnis dan eksekutif. Tapi khusus KA yang ditumpangi Bonek, mereka didahulukan. Tidak hanya itu saja, para polisi di Solo bahkan rela menjadi pagar hidup bagi para Bonek. Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo, Kapoltabes Solo Kombes Pol Joko Irwanto dan ratusan personel polisi menumpang di dalam KA yang mengangkut Bonek.

Mereka menjadi pagar hidup agar tidak ada aksi anarkis dari kedua belah pihak. Sangat ironis rasanya, mereka para kelompok yang sering berbuat anarkis, berbuat rusuh, menjarah hingga memicu kebencian dengan warga itu mendapatkan perlakuan istimewa dengan alasan demi menjaga keamanan dan saya hanya bisa menggugat atas itu semua.


Untuk Sebuah Kesalahan

Wajah Nova Zaenal dan Bernard Mamadou terlihat bersinar-sinar. Jelas wajah itu bertolak belakang beberapa hari sebelumnya. Wajah pasi, muram penuh kepasrahan ketika ruang tahanan menanti dua pemain sepakbola itu.

Pakaian batik dengan motif warna coklat menjadi saksi bisu hari pembebasan mereka. Setelah sempat bersalaman dengan Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo yang secara resmi mengabulkan penangguhan penahanan pemain Persis dan Gresik United tersebut, udara kebebasan yang tertenggut selama satu pekan terakhir kembali mereka dapatkan.

Kamis pekan lalu bisa jadi menjadi hari yang akan terus mereka kenang. Setelah kericuhan di lapangan, polisi yang dipimpin langsung Kapolda akhirnya menangkap dan menahan mereka atas sebuah kesalahan “adu jotos” di lapangan.

Setelah bersalaman, Nova langsung mengucapkan kata maaf atas kekhilafannya. Dalam suratnya yang ditujukan kepada Kapolda, Nova dan Mamadou juga mengaku emosi sehingga akhirnya saling pukul dan mereka meminta maaf atas “kesalahan” itu.

Surat itu mungkin begitu ampuh karena akhirnya mereka berdua untuk sementara bernafas lega bisa keluar dari tahanan. Dengan jawaban diplomatis, Kapolda mengatakan, tak perlu Nova meminta maaf kepadanya. “Jangan meminta maaf kepada saya. Apa yang saya lakukan karena saya mencintai sepakbola. Saya ingin sepakbola Indonesia bisa lebih baik lagi,” jawab Jenderal bintang dua ini.

Di mata polisi, dua pemain sepakbola itu memang patut diduga “dipersalahkan” atas aksi kekerasan di lapangan. Penangkapan dan penahanan pun akhirnya menjadi sebuah “keniscayaan” atas “kesalahan” yang dilakukan. Namun, begitu kata maaf meluncur dan terucap, ada sebuah keringanan akan “kesalahan” yaitu penangguhan penahanan yang akhirnya mereka dapatkan.

***

Lain Nova dan Mamadou, lain pula dengan Briptu Dadang. Oknum anggota Satintelkam Poltabes Solo yang diduga menjadi pelaku perampokan taksi juga harus siap membayar atas sebuah “kesalahan” yang telah diperbuatnya. Bahkan, dengan nada tegas, Kapolda menyatakan, hukuman bisa sampai pada tingkat pemecatan.

Di depan Kapolda, Dadang juga mengakui apa yang telah diperbuatnya merupakan kesalahan. “Siap, salah,” kata dia dengan gaya bicara khas anggota polisi berbicara pada pimpinannya.

Di depan belasan wartawan, Kapolda pun menyatakan komitmennya atas penegakan hukum. Hukum harus menjadi panglima. “Seandainya langit akan runtuh, penegakan hukum tetap harus jalan,” tegasnya.

Bersama seorang mahasiswa di Solo, anggota polisi yang baru dua tahun berdinas tersebut, nekat melakukan aksi perampokan dengan bermodalkan senjata mainan. Dia beralasan ingin membantu temannya, namun bagi aparat penegak hukum, kesalahan harus ada ganjarannya.

***

Terlalu sering kesalahan itu dilakukan dalam keseharian, mulai dari salah melanggar rambu lalu lintas hingga salah saat bekerja. Dan kesalahan itu memang harus ada ganjaran hukuman, entah hukuman langsung ataupun tidak langsung.

Dari kesalahan itu, orang bisa belajar tentang arti kebenaran. Dari perbuatan yang lalai dan khilaf, orang bisa belajar tentang arti dosa. Dari sebuah kesalahan, orang bisa lebih menghargai kata maaf. Namun, kadang pula terdengar kata majelis hakim saat mengambil keputusan terucap kata: “Tidak ditemukan adanya alasan pemaaf.”


%d blogger menyukai ini: