Tag Archives: sepeda

Sepeda Lipat Kena Bea Bagasi KA?

Sabtu (29/10) pagi, Stasiun Purwosari Solo masih lengang. Jam di tangan baru menunjukkan pukul 05.27 WIB. Masih ada waktu beberapa menit sebelum KA Prambanan Ekspress (Prameks) pertama meluncur.

Ada perasaan sedikit waswas ketika menuju loket pembelian tiket setelah beberapa pekan lalu harus beradu argumen dengan petugas bagian tiket karena saya membawa sepeda lipat (Seli). Seli yang tentunya sudah saya lipat-lipat, saya angkut dan saya letakkan tak jauh dari bagian tiket. Helm sepeda tetap saya kenakan.

Tanpa ada respons yang aneh-aneh, pagi itu petugas tiket langsung memberi tiket KA Prameks yang bakal melaju pukul 05.42 WIB dari Purwosari menuju Jogja. Perlakuan ini berbeda dengan petugas tiket yang saya temui beberapa pekan lalu. Kala itu, saya sempat ditanya apakah saya membawa Seli dan dia sempat menolak memberikan tiket karena saya membawa Seli. Argumen saya hanya klasula baku yang tercantum dalam tiket KA Prameks yaitu ”Penumpang membawa barang bawaan lebih dari 20 kg atau barang ringan makan tempat (RMT) dikenakan bea bagasi sesuai aturan yang berlaku.”

Saya sempat ”ceramah” kalau Seli beratnya tak lebih dari 10 kg dan ukurannya seukuran dengan koper besar yang selama ini tak pernah kena bea bagasi. Ketika itu, petugas tiket pun akhirnya meloloskan saya dan memperbolehkan saya menaiki KA Prameks.

Pagi itu, perasaan waswas yang sempat berkecamuk seketika sirna ketika petugas KA langsung meloloskan saya tanpa perlu debat dan adu argumen. Tak berapa lama berselang, KA Prameks pun tiba dan di gerbong kedua saya mendapat tempat duduk. Seperti biasa, Seli punya ”pos” sendiri yaitu di dekat pintu masuk kereta.

Kereta melaju dan ketika KA melintas Stasiun Gawok, kondektur yang selalu didampingi satpam berkeliling menarik tiket. Tiket disodorkan dan diberi tanda lubang, seperti biasanya. Kebetulan saat itu satpam yang mengecek tiket saya. Tiba-tiba saja, kondektur perempuan mengamati dengan seksama Seli yang nangkring di pojokan pintu kereta. Dia tengak-tengok sepertinya mencari empunya sepeda itu. Dari helm yang masih saya kenakan, kondektur itu bisa mengidentifikasi bahwa sayalah empunya Seli warna kuning itu.

Sang kondektur pun mengecek tiket saya dan karena tidak ada kejanggalan, dia pun menyatakan Seli kena bea bagasi sebesar dua kali harga tiket. Saya pun kaget dengan pernyataan itu. Dua kali harga tiket Prameks artinya Rp 20.000. Mesin otomatis dalam otak langsung berpikir, artinya kalau saya naik Prameks maka harus mengeluarkan Rp 30.000 (tiket Rp 10.000 plus bea bagasi Rp 20.000).

Saya tidak langsung mengiyakan apa yang dikatakan sang kondektur itu, namun saya mempertanyakan aturan Seli kena bea bagasi karena dalam klasula baku yang dibuat PT KA, hanya barang 20 kg dan barang RMT yang kena bea bagasi. Kondektur itu pun mengatakan adanya aturan baru yang berlaku mulai 1 Oktober 2011 yaitu Seli kena bea bagasi sebesar dua kali harga tiket.

Saya pun bertanya kepada kondektur, ”Boleh saya lihat surat edaran itu,” tanya saya. Kondektur pun mengatakan tidak membawa dan mengatakan seharusnya saat saya membeli tiket, saya melapor kalau saya membawa Seli. Secara naluri saya bertanya lagi, ”Aturannya sudah disosialisasikan belum? Di tempel di bagian loket-loket? Saya tidak ditanyakan saya bawa Seli atau tidak padahal saya masuk stasiun dan tentunya membawa Seli lewat depat loket yang ada penjaganya. Mereka diam saja,” kata saya.

Sang kondektur tetap ”berceramah” bahwa saya salah karena tidak melapor ke bagian tiket dan seharusnya saya kena bea bagasi. Bukan saya menolak aturan itu tapi aturan baru itu belum tersosialisasi (buktinya di beberapa stasiun aturan Seli kena bea bagasi tak dipasang) dan yang lebih penting aturan itu bertentangan dengan klasula baku yang tercantum di bagian belakang lembaran tiket. Hal itulah yang membuat saya tetap bersikukuh, Seli tak kena bea bagasi. Setelah berdebat agak lama, kondektur pun mengingatkan ke depannya saya harus bayar bea bagasi dan dia pun berlalu.

Entah atas dasar apa aturan itu diberlakukan. Kalau adanya Seli membuat tidak nyaman penumpang lain, apakah sudah ada penelitian soal itu? Kalau Seli makan tempat, bagaimana dengan barang bawaan lain yang ukurannya sebesar Seli? Kalau pun aturan itu diberlakukan seharusnya klasula baku yang tercantum dalam tiket juga harus diubah. Bagi saya, aturan ini adalah bentuk kemunduran PT KA. PT KA tidak lagi mendukung mobilitas warga yang sehat dan aman.


Sepeda-sepeda di kantorku

Tujuh bulan silam ketika hati mulai memantapkan diri untuk mulai bersepeda ke tempat kerja (istilah kerennya bike to work), sepeda menjadi alat transportasi minoritas di lokasi parkir. Tujuh bulan sudah berlalu, sepeda masih menjadi alat transportasi minoritas yang mangkal di lokasi parkir khusus karyawan sebuah koran lokal di Solo.

Sudah biasa, sepeda harus berhimpit-himpitan dengan sepeda motor. Sudah menjadi pemakluman sepeda diangkat, dipindah tempat parkirnya untuk memberi ruang kepada sepeda motor yang berjejalan. Itu semua bisa dimaklumi karena jumlah sepeda yang sering mangkal di lokasi parkir bisa dihitung dengan jari (bukan prioritas utama punya lokasi parkir khusus hehehe).

Meski jumlah sepeda masih bisa dihitung dengan jari tangan saja tapi dua bulan terakhir ini sepeda yang sering mangkal di parkiran terus bertambah. Ada sepedaku yang sudah punya pangkalan di depan musala. Ada juga sepeda mini milik Mbak Netty dari Bagian Pusdok & Litbang yang lokasi parkirnya pindah-pindah. Sepeda Wimcycle 24 milik Bangli dari radio juga sering terlihat di parkiran. Belum lagi dua sepeda butut, entah milik siapa, sering ngepos di ujung parkiran (entah sudah berapa lama di tempat itu).

Kadang kala MTB Wimcycle putih (bekas milikku hehehe) yang kini dibawa Mas Faul juga sesekali nongol di parkiran. Atau sesekali sepeda lipat (Seli) milik Ahmad Hartanto dan Farid Syafrodhi, tiba-tiba unjuk gigi di parkiran pada malam hari. Beberapa hari terakhir ada dua sepeda baru yang sering nongol, Seli B2W miliknya Mbak Susi (yang katanya ingin mengurangi berat badan dengan bersepeda) dan Polygon Extrada 5.0 (entah milik siapa).

Kalau semua sepeda itu nongol di parkiran, jumlahnya masih minoritas dibandingkan jumlah motor yang mencapai ratusan. Motor memang masih menjadi pilihan utama para pekerja untuk berangkat kerja meski sebenarnya sebagian dari mereka tertarik atau paling tidak punya keinginan untuk bersepeda ke kantor. Ada yang punya kendala karena jarak rumah-kantor terlalu jauh. Ada juga karena tuntutan kerja (membayangkan liputan cari berita dengan sepeda hehehe), ada juga yang males ribet mandi di kantor setelah berkeringat bersepeda.

Kini sepeda menjadi minoritas di parkiran tapi siapa tahu suatu saat nanti bisa menjadi mayoritas di parkiran karena sepeda bukan sekadar olahraga. Sepeda dan bersepeda juga sebuah sikap nyata untuk hari esok bumi (sok idealis hehehe). Mari bersepeda!!!


Embung Tambakboyo & harmonisasi kehidupan

Gerimis pagi mulai berganti dengan semburat cahaya matahari. Genangan air sisa hujan semalam masih membekas di jalanan. Kabut tipis disapu asap knalpot. Jogja mulai menggeliat. Aktivitas pagi selalu sama, anak-anak berangkat sekolah, Polantas di perempatan jalan, pedagang burjo menahan kantuk, pekerja diburu waktu dan mahasiswi malu-malu pulang kos pagi hari.

Aku segera berlalu dan terus melaju. Sedikit melupakan cipratan genangan air, mengacuhkan motor yang saling serobot, aku memburu keindahan pagi yang sedikit terlambat dengan sepeda. Ada kawanku yang sudah menunggu. Embung Tambakboyo di ujung Jogja tujuan kami.

Tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menuju embung yang terletak di tiga desa (Condongcatur, Maguwoharjo, Wedomartani) ini. Jarak yang tidak terlalu jauh dan datar-datar saja, membuat trek bersepeda menuju embung ini cukup ringan. Mungkin yang agak menyebalkan hanya kepadatan lalu lintas di seputaran perempatan UPN Condongcatur hingga kampus UII Ekonomi. Seperti biasa, kampus adalah magnet ekonomi, mulai dari usaha Warnet, warung makan, kos-kosan hingga loundryan.

Menuju utara, meninggalkan wilayah kampus, menyusuri gang-gang kecil yang tersaji di kanan-kiri adalah rumah-rumah mewah meriah yang berpadu dengan rumah sederhana sarat makna. Wilayah itu seakan menjadi potret kecil pergumulan kekinian dan masa lalu Jogja. Seakan ada jurang mengangga antara rumah mewah dan rumah sederhana itu tapi semuanya tetap bertahan dan hidup berdampingan (semoga mereka rukun-rukun saja).

Di balik permukiman itu, Embung Tambakboyo berada. Embung yang menjadi tumpuan petani untuk mengairi sawah seluas 7,8 hektare. Kerlip cahaya matahari yang memantul di air menyambut kami setelah melewati turunan tajam berpaving block. Layaknya sebuah ikat pinggang, jogging track dari paving block mengelilingi embung itu. Jogging track yang lumayan lebar membuat warga tidak perlu menggerutu berebut jalan.

Embung Tambakboyo menyajikan udara pagi yang minim polusi, terpaan cahaya matahari, hijau dedaunan yang asri. Kalau sedang beruntung, dari embung ini, Gunung Merapi di sisi utara terlihat seksi. Di tempat itu, kamu boleh bersepeda, jalan-jalan, nongkrong, camping, mancing hingga pacaran. Itu semua tidak diharamkan (asalkan sesuai aturan hehehe).

Embung yang baru dibangun beberapa tahun silam ini memang telah menjelma menjadi lokasi rekreasi yang murah meriah. Embung itu bisa menjadi tempat pelarian dari kehidupan, menjadi tempat mengeluarkan keringat dengan olahraga, menjadi tempat memadu kasih anak muda yang sedang dimabuk asmara. Paling tidak, Embung Tambakboyo bisa menawarkan harmonisasi kehidupan karena hidup tak melulu soal pekerjaan, kesuksesan dan segala urusan yang menyebalkan. Kadang suatu saat perlu kabur dari segala rutinitas itu dan mungkin Embung Tambakboyo bisa membantu.


Menyandingkan Seli & MTB

Sudah dua pekan ini, Si Seli warna kuning setia menemani dari kos-kantor PP. Keberadaannya sedikit “mengusur” eksistensi MTB Lovely Blue.

Boleh dibilang, Seli memang memikat di hati. Untuk rute kota-kota yang minim jalan rusak dengan trek datar, Seli lebih nyaman dikangkangi daripada MTB yang memiliki tapak ban lebih lebar.

Program menyandingkan Seli dengan MTB sebenarnya sudah terpikir cukup lama. Selain ngikuti tren “nyeli”, niat jahat memboyong Seli dari toko sepeda lebih didasarkan pada kebutuhan. Hampir tiap hari ngantor pake sepeda, aku terpikir sepeda yang pas untuk rute kota-kota.

Sebenarnya bisa pakai MTB yang sudah aku punya. Tapi itu tadi, kurang asyik rasanya melibas jalan mulus dengan ban “pacul”. Bisa saja aku ganti ban tapi nafsu untuk “nyeli” tak bisa dibendung lagi. Alhasil Seli Polygon seri bike to work aku boyong dari Toko Sepeda Rukun Makmur.

Seli menawarkan kemudahan dan kepraktisan. Sepeda bisa ditekuk, dimasukkan bagasi atau masuk gerbong kereta, memudahkan kalau ingin gowes di luar kota. Seli juga menawarkan seksian. Bentuk rangkanya yang mini, dengan seatpost dan dudukan setang panjang menjadikan Seli terkesan seksi.

Seli memang telah merebut hati, tapi bukan berarti MTB tersisih begitu saja. Petualangan liar dan menggila selalu ditawarkan kala duduk di sadel MTB. Ajrut-ajrutan, pantat bergoyang adalah sensasi yang selalu ditawarkan MTB.

Alangkah indahnya memadukan dua sepeda dengan dua gaya yang berbeda. Seli atau MTB sama saja karena sebenarnya yang paling penting bukan sepedanya tapi bersepedanya.


Impian parkir sepeda di Solo

Pagi sudah mulai beranjak pergi, tapi siang belum ingin menghampiri. Solo mulai menari, gilat kota sudah terasa sedari tadi. Jalanan padat disesaki kendaraan, berlomba, beradu cepat, mengejar materi, memburu waktu karena waktu enggan berkompromi. Aku dan kawanku, Tante Dian, menembus kota dengan sepeda, berharap ada kearifan di jalanan yang sesak dan menyesakkan.

Balaikota Solo tujuan kami. Bagiku ini adalah kali kedua ke balaikota dengan mengayuh sepeda. Tak terlalu jauh memang dengan tempat tinggalku di pinggiran Solo, mungkin sekitar 8-9 kilometer. Sengaja kami (aku dan Tante Dian) bersepeda ke balaikota karena memang kami datang ke balaikota untuk mengurusi pelantikan pengurus Bike To Work (B2W) Solo yang paling tidak bisa menjadi awal kampanye bersepeda di Kota Bengawan.

Seperti biasa, tak jauh dari gerbang Balaikota Solo, Satpol PP yang berjaga mengadang kami. Ini wajar karena standar pengamanannya memang seperti itu. Petugas itu akan mencatat nomor kendaraan yang masuk kompleks balaikota. Tapi kami bersepeda, apa yang akan mereka catat? Tak ada nomor polisi (Nopol), pajak sepeda atau plombir juga sudah tidak zamannya lagi. Ternyata kali ini kami diberi dua lembar karcis untuk satu sepeda. Satu ditempel di sepeda, satu dibawa pemiliknya. Ini sedikit lebih baik dari kedatangan kami sebelumnya karena saat tiba di pos penjagaan, Satpol PP bingung mau ngasih karcis apa. Akhirnya kami dibiarkan masuk tanpa karcis dan itu artinya kalau terjadi apa-apa seperti pencurian sepeda, itu bukan tanggung jawab mereka.

Di belakang pos penjagaan itu sudah berjajar belasan sepeda lain. Tanpa ragu kami memarkirkan sepeda kami di sela-sela sepeda lainnya. Lokasi itu memang jadi parkir sepeda. Tapi lebih tepatnya jalan yang dipaksakan jadi parkir sepeda karena lokasinya memakan sebagian badan jalan yang mengarah ke dalam kompleks balaikota.

Bagiku potret semacam ini kian menunjukkan sepeda adalah alat transportasi yang “terpinggirkan” di negeri ini. Di negeri yang sedang gandrung dengan modernitas dan kapitalisasi, sepeda sering dilekatkan dengan status sosial yang lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan bermotor. Alat transportasi yang “terpinggirkan” itu akhirnya diletakkan di pinggiran dengan lokasi parkir ala kadarnya.

Ruang-ruang pelayanan publik dan ruang publik lainnya di Solo dan kota-kota lainnya memang bisa dibilang belum “ramah” terhadap pesepeda. Di mal, perkantoran, kantor-kantor instansi pemerintah, perbankan, pusat perbelanjaan, parkir khusus sepeda memang masih jarang ditemui dan akhirnya nasib pesepeda semakin terasing dan tersisih. Tapi semangat bersepeda tak perlu luntur dengan masih minimnya sarana dan prasarana untuk pesepeda. Itu harusnya yang melecut semangat agar ruang-ruang publik dan tempat pelayanan publik bisa semakin “ramah” terhadap pesepeda.

Setelah satu jam lebih berbagai urusan dengan bagian perlengkapan, ajudan, protokoler Pemkot Solo tuntas, kami bergegas meninggalkan balaikota. Parkiran sepeda di ujung kompleks balaikota masih dipenuhi sepeda. Mimpi tentang parkir khusus sepeda terus membuncah. Dan impian itu akan menjadi nyata beberapa hari ke depan saat rak parkir sepeda dari B2W Solo diserahkan ke Pemkot Solo. Di mulai dari Balaikota Solo impian parkir sepeda itu semoga akan menyebar ke ruang-ruang publik lainnya.

 


Berburu senja dengan sepeda

Senja adalah saat warna kuning kemerah-merahan berpendar menghiasi langit biru. Semburat cahaya kuning, merah, biru, putih bisa melahirkan keindahan langit meski hanya beberapa menit saja. Senja menjadi penanda, matahari rehat sesaat dan memberikan waktu kepada rembulan untuk menemani manusia.

Senja melahirkan dialektika tentang siang dan malam, tentang terang dan gelap, tentang keindahan pergantian waktu. Keindahan senja terlalu mahal untuk dilewatkan begitu saja. Dari ujung balkon kantor di sela-sela kerja, dari pojokan lantai 2 kosan, dari balik kaca mobil, bus atau kereta, aku selalu ingin menyapa senja. Rasa penasaranku pada senja melahirkan ritual berburu senja karena senja juga menawarkan perenungan hidup.

Hujan siang ini menyisakan jalanan yang becek, tapi senja tetap harus diburu, meski rintik hujan masih tipis membasahi bumi. Kali ini saatnya memburu senja dengan sepeda. Roda-roda mulai berputar, sepeda mengarah ke barat, tempat di mana senja akan hadir. Aku berharap bertemu senja di Waduk Cengklik.

Bagi pesepeda di Solo dan sekitarnya, rute Waduk Cengklik sudah begitu populer. Bagi yang menggunakan sepeda balap, rute jalan raya cukup menarik. Bagi yang menggunakan mountain bike seperti saya, Waduk Cengklik tak kalah menarik karena banyak rute yang bisa dipilih untuk enjot-enjotan memanaskan pantat. Menyusuri jalan para petani, membelah sawah yang becek adalah rute menarik untuk XC.

Menuju Cengklik biasanya mengambil jalur Jl Adisucipto (arah Bandara Adi Soemarmo). Namun, kala naluri berenjot-enjotan di sadel sudah di ubun-ubun, bisa saja membelah jalan-jalan desa yang mengarah ke waduk. Rutenya lebih menarik jika dibandingkan melintas di jalan raya yang sudah penuh sesak kendaraan bermotor dan jalurnya lempeng. Kombinasi paving block, aspal terkelupas, bebatuan dan tanah merupakan kombinasi khas jalan-jalan desa. Rumah-rumah di pinggiran kota, pematang sawah dan pembangunan perumahan yang terus menjamur adalah pemandangan utama di kanan-kiri jalan desa itu. Kalau beruntung, ada lambaian tangan dari anak-anak yang bermain di pinggir kampung. Kalau kurang beruntung, paling tersesat dan berputar-putar di kampung, tapi itu semua bisa diselesaikan dengan bertanya kepada warga yang ramah menunjukkan arah menuju Waduk Cenglik.

Menembus jalan desa, perempatan menuju bandara sudah di depan mata. Bisa saja memilih jalan lurus langsung menuju Waduk Cengklik, namun kalau gelora XC belum puas, bisa memilih jalur yang mengarah ke bandara. Tak jauh dari pekuburan tempat dulu pesawat Lion Air jatuh, ada jalan desa yang mengarah ke waduk. Dari situlah petualangan XC sebenarnya dimulai. Jalanan cukup lebar, tapi aspal yang mengelupas dan kombinasi kubangan air menjadikan perjalanan semakin menarik. Pematang sawah yang membentang lebih sedap di mata. Jalanan bebatuan dengan turunan dan tanjakan lumayan bikin nafas cukup ngos-ngosan.

Saatnya menyusuri aliran saluran air waduk. Tanah yang basah kuyup diguyur hujan menjadikan tepian aliran saluran air berlumpur dan penuh kubangan. Rasanya ingin menggenjot pedal sekencang-kencangnya, tapi di sebelahnya ada saluran air yang cukup dalam. Kalau tak hati-hati malahan bisa kecebur, apalagi jalanan licinnya minta ampun.

Waduk Cengklik yang jadi tujuan utama akhirnya terlihat juga. Tapi sayang, langit masih gelap. Mendung tipis masih menyelimuti langit. Impian tentang langit yang berpendar kuning kemerah-merahan sepertinya tidak menjadi kenyataan hari ini. Senja tidak menyapa hari ini. Petualangan berenjot-enjotan di sadel sepeda bisa menjadi pelipur lara. Suatu saat nanti aku akan kembali berburu senja dengan sepeda.


Suatu pagi di pematang sawah

Mereka tersenyum simpul kala kamera membidik wajah mereka. Wajah-wajah polos dan ceria dari bocah-bocah itu membuat pagi menjadi berarti. Sambil berjalan beriringan, bocah-bocah itu membelah pematang sawah dengan sepeda. Gelak tawa bahagia itu meluncur bersama dengan keringat tipis di dahi mereka.

Tak ada keluh kesah kelelahan setelah mengayuh sepeda dari rumah ke sekolah. Rasa lelah itu seakan memudar kala bangunan sekolah menyambut mereka. Rasa lelah hilang seketika kala teman-teman menyambut di dalam kelas.

Bagi mereka sepeda bukan sekadar alat transportasi yang mengantarkan mereka dari rumah menuju sekolah yang berjarak beberapa kilometer. Lewat sepeda mereka mencoba meraih mimpi-mimpi masa depan. Dari sepeda mereka mencoba meniti jalan kehidupan yang kadang terjal dan berliku. Dan yang pasti, sepeda selalu membuat bocah-bocah itu bahagia.

Mereka, bocah-bocah SD dan SMP yang setiap pagi membelah pematang sawah dengan sepeda tak pernah diajarkan tentang bike to school. Mereka bersepeda ke sekolah karena sepeda telah menjadi bagian terpenting dalam hidup bocah-bocah itu. Pikiran bocah-bocah itu juga jauh dari istilah global warming, polusi dan kerusakan lingkungan, tapi mereka dengan sepeda mereka telah mengajarkan tentang pentingnya kelestarian alam.

Gelak tawa bahagia bocah-bocah mengayuh sepeda di tengah pematang sawah yang masih berkabut tipis mulai memudar. Sekolah telah menanti mereka. Kabut tipis akan segera pergi bersamaan dengan datangnya terik matahari. Sebentar lagi riuh rendah bumi akan dijejali dengan segudang polusi.


%d blogger menyukai ini: