Tag Archives: Sosial

Virus Homo Jakartensis

Aku benar-benar pangling dengan kawan lamaku. Mungkin karena lama tak bersua, mungkin daya ingatku lemah atau mungkin karena penampilan kawanku ini berubah total.

Dua tahun lalu, aku mengenal kawanku sebagai sosok yang lugu, kalem dan pendiam. Gaya bicaranya halus dan suka berpakaian rapi. Saking rapinya, entah kemeja, t-shirt ataupun kaus oblong selalu dimasukkan. Celana andalannya adalah kain halus. Saking seringnya diseterika, sampai-sampai, ada garis lurus di bagian depan celana yang membujur dari atas sampai bawah.

Senyum tipisnya sampai kini tak berubah. Senyum tipis itu pulalah yang membuatku mengenali sosok kawanku itu. Selebihnya, penampilannya berubah total. Kaus oblong yang dikenakan sedikit junkies, celana jeans ketat gaya pensil. sepatu ket merek Converse warna hitam. Aku tersenyum simpul melihat perubahan penampilan kawanku itu.

Senyumku mengembang menjadi tawa kala dia menyapaku “Sori jack nunggu lama ya. Biasa kena macet. Yuk kita berangkat, mampir di rumah gue dulua ya.”

Rupanya kawanku ini sudah berubah. Sosok kawanku yang lugu pendiam dengan gaya pakaian yang terkesan culun tinggallah kenangan. Kini dia menjelma menjadi sosok anak muda yang aku yakini gaya berpakaiannya bakal menjadi trendsetter di kampungku.

Kalau melihat kawanku itu aku tertawa ringan, maka saat melihat Inah, tetanggaku yang baru saja mudik dari Jakarta bisa membuatku tertawa terbahak-bahak. Kemarin, aku bertemu dengannya di sebelah langgar kampung. Sudah dua hari dia datang kembali di kampung halaman. Waktu itu dia baru pulang dari pasar. Aku benar-benar dibuat pangling. Pakaiannya warna pink, celana panjangnya warna biru dan dia menggunakan bandana warna ungu. Ngejreng. Belum lagi bedak tebal yang menutupi wajahnya. Sungguh berbeda dengan Inah yang dulu masih kecil dan pemalu.

Kawanku dan Inah, tetanggaku itu rupanya sudah terkena virus Homo Jakartensis. Seno Gumira Ajidarma menyebut Homo Jakartensis adalah sosok orang-orang Jakarta dengan atribut bernama sukses yang melekat di dalamnya. Bukan salah kawanku ataupun Inah kalau mereka menjadi Homo Jakartensis. Mereka tak pernah salah karena keadaan memaksa mereka. Mereka dipaksa menjadi Homo Jakartensis atau mereka tersisih dari pusaran kehidupan. Menjadi Homo Jakartensis bukan lagi sebuah pilihan tapi keharusan, apalagi saat Lebaran.

Mereka para Homo Jakartensis dipaksa harus tampil sempurna ketika tiba di kampung halaman, diharuskan terlihat “wow”, “wah” dan “ngetren”. Pada intinya mereka dipaksa terlihat sukses setiba di kampung halaman. Ya, mereka para Homo Jakartensis harus tampak sukses saat Lebaran kalau tidak ingin mendapat cibiran, mereka harus terkesan sukses kalau tidak ingin dikatakan gagal. Apakah mereka para Homo Jakartensis itu benar-benar sukses ataupun pura-pura sukses, hanya mereka yang tahu. Dan sebentar lagi semakin banyak para Homo Jakartensis yang bakal aku temui. Semoga mereka benar-benar sukses.

Iklan

Atas nama Tuhan

Teriakan-teriakan yang membuat liurnya menetes atas nama Tuhan. Kepalan tangan yang meninju langit juga diatasnamakan Tuhan. Langkah kaki memburu dianggap sebagai wakil dari Tuhan. Tebasan parang dan pukulan pentungan dipercaya untuk menegakkan nama Tuhan.

Mereka bertingkah polah mengatasnamakan Tuhan. Mereka yakin memberangus kesesatan dengan cara kekerasan itu untuk membela Tuhan. Apakah Tuhan perlu dibela? Mereka yakin Tuhan meresetui itu semua. Benarkah itu semua atas restu Tuhan?

Tuhan yang mana? Tuhan siapa?

Darah yang mengalir itu dianggap setimpal atas kesesatan kepada Tuhan? Api yang membara membakar rumah, mobil dianggap cara untuk melumpuhkan kesesatan? Apakah air mata tangis, duka tak pernah dianggap oleh Tuhan mereka?

Mereka membumihanguskan mereka yang lain karena beda pendapat tentang Tuhan. Dan Tuhan mereka memang beda karena Tuhan mereka adalah kekerasan.

 


Demokrasi di Kota Monarki

Kota itu bukan kota yang berdiri sendiri dan mandiri. Namun, umur kota kecil ini sudah tua. Bahkan lebih tua dari negara induknya. Orang mengibaratkan, kota ini adalah bidan yang setia menimang negera induknya sebagai bayi.

Di kota tua itu, sebuah sistem pemerintahan kuno telah terbentuk sejak dulu kala. Sistem pemerintahan yang dianggap paling purba. Sistem pemerintahan yang penguasanya turun-temurun. Penguasanya disebut raja dan daerah kekuasaannya dikenal dengan kerajaan. Orang modern menyebutnya sistem monarki.

Kala itu, kerajaan itu berada dalam sebuah negeri terjajah. Saat gegap gempita revolusi negeri terjajah menyeruak, kerajaan itu pun larut dalam revolusi itu. Banyak yang bilang, kerajaan itu punya andil besar lahirnya negara yang baru saja melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Dan sejarah menceritakan, kerajaan itu menyatakan penyatuannya kepada negara itu karena ikatan senasib sepenanggungan zaman revolusi. Sang bidan pun menyatakan penyatuannya kepada bayi yang baru lahir.

Kerajaan itu pun akhirnya mendapatkan keistimewaan oleh negara baru itu sebagai imbal balik atas perannya saat zaman revolusi. Raja di kota itu secara otomatis akan menjadi pemimpin administrasi kota. Sang raja merangkap jabatan sebagai pemimpin kota dalam sebuah tatanan negara yang katanya menganut sistem demokrasi.

Sistem monarki yang sudah lama dianut akhirnya berpadu dengan sistem demokrasi yang dianut negeri itu. Dua sistem itu bergumul, menyatu dan berpadu dalam kota itu. Puluhan tahun lamanya sistem kuno monarki itu berpadu dengan sistem modern demokrasi. Itu yang akhirnya disebut orang dengan keistimewaan kota itu.

Keistimewaan itu telah mengakar dan mendarah daging bagi penduduk kota tua itu. Tak hanya penduduk asli kota itu, ribuan anak muda yang mendatangi kota itu juga ikut memetik buah manis dari keistimewaan itu. Percintaan sistem monarki dan demokrasi melahirkan ekostisme kota yang bernama pluralisme.

Kota itu masih percaya dengan Sabda Pandita Ratu, tapi perbedaan pemikiran dan pendapat bukan barang haram di kota itu. Kota itu masih setia nguri-uri akar budaya yang lahir dari nenek moyang, namun tidak menolak mentah-mentah arus globalisasi. Perpaduan antara “kekunoan” dan “modernitas” itu yang semakin membuat istimewa kota itu.

Kota itu semakin istimewa saat ribuan orang dari berbagai suku bangsa, dari berbagai agama, dari berbagai penjuru negara ini berkumpul di kota itu. Akhirnya kota itu menjadi manifestasi dari negara itu.

Di kota monarki itu, anak muda belajar dan mengenal demokrasi. Di kota kecil itu anak-anak muda berbisik-bisik soal revolusi. Mereka lelah dengan sistem demokrasi yang belum juga menyejahterakan rakyat jelata dan berpikir revolusi menjadi solusi.

Kini kota monarki itu digugat oleh pemimpin negara. Monarki dianggap menghalangi demokrasi. Mereka yang ada di kota itu bertanya-tanya apa yang terjadi. Ada yang merasa pemimpin negara lupa sejarah. Namun, ada pula yang merasa pemimpin negara hanya menjalankan konstitusi.

Rakyat jelata di kota itu menunggu keputusan para pengurus negara. Apakah kota itu akan menjadi monarki seutuhnya yang artinya sang bidan tak lagi menggendong bayinya. Apakah kota itu menjadi demokrasi seutuhnya yang artinya melupakan semua sejarah masa lalu. Atau apakah mereka para pengurus negara itu membiarkan perpaduan monarki dan demokrasi terus terjadi?


Cerita pelacur kaya

Aku tak bisa membayangkan seperti apa wajah perempuan itu. Kalau boleh aku menduga, perempuan itu memiliki nilai sempurna untuk dapat dikatakan sebagai perempuan cantik secara fisik. Atau paling tidak, kaum adam tidak begitu saja memalingkan muka saat melihat wajahnya.

Rambut panjang lurus, kulit putih mulus, wajah bersih tanpa cela dan tubuh proporsional yang akan menggugah naluri kebinatangan lawan jenisnya. Mungkin dia seperti itu. Itulah parameter cantik secara fisik pada umumnya. Perempuan itu memiliki modal yang lebih dari cukup untuk menjalani pekerjaannya. Pekerjaan yang katanya profesi paling kuno sejak umat manusia ada. Pekerjaan yang oleh kebanyakkan orang disebut pekerjaan hina. Pekerjaan yang akan membuka kedok manusia kalau naluri binatang masih mengalir dalam diri makhluk yang katanya paling sempurna di dunia.

Khalayak umum biasanya menyebutnya perempuan malam. Orang menganggap perempuan itu hanya menjual tubuhnya semata. Namun, apa jadinya kalau perempuan itu memiliki intelegensia di atas rata-rata. Memiliki pengetahuan yang luas, melebihi perempuan-perempuan lain yang kadang hanya pamer kecantikan fisik, tapi lupa mengisi otaknya. Kalau memang seperti itu adanya, perempuan itu masuk kategori perempuan sempurna idaman para pria. Cantik secara fisik, cantik pula jeroannya atau biasa disebut memiliki innerbeauty.

“Tiga hari bersamanya, kau bisa jatuh cinta kepadanya. Diajak ngobrol apapun bisa nyambung. Bahkan, dia tau perkembangan politik dalam dan luar negeri. Aku pikir dia pasti baca Kompas tiap pagi,” kata seorang kawan kala bercerita tentang perempuan itu.

Perempuan itu tak menampik, pengetahuan luasnya tentang berbagai hal juga menjadi modal untuk ‘mengimbangi’ para kliennya yang berasal dari golongan kelas atas. Tapi, ternyata perempuan itu memang memiliki minat untuk menggali ilmu dan pengetahuan di muka bumi ini. “Bahkan dia tau masalah politik di Inggris, soal perdana menteri yang ramai dibicarakan itu,” lanjut kawanku.

Apapun alasan dan motif dari perempuan yang telah mengasah innerbeauty-nya itu, dia membuktikan tak hanya memiliki kecantikan fisik semata. Dia bahkan telah menelanjangi kaumnya yang kadang mengolok-oloknya (mungkin karena iri dengan kecantikannya). Dia juga telah menggugurkan vonis dari para manusia pada umunya yang sering menjadi hakim atas pekerjaannya.

Sampai kini aku tidak tau bagaimana awalnya perempuan itu bergelut dengan dunia malam. Yang aku dengar, dia terlahir dari keluarga kaya raya. Keluarga broken telah membawanya menuju sebuah kota yang jauh dari rumahnya. Di sebuah hotel berbintang, perempuan itu tinggal. Menikmati segala kemewahan hotel dari keringat pekerjaannya. Di luar pekerjaannya, dia menghabiskan waktu untuk menonton TV, baca majalah dan koran. Dunia malam memang sudah menjadi bagian dari hidupnya, tapi bukan berarti seluruh hidupnya untuk dunia malam. “Dia tidak suka dugem. Kadang minum. Bir katanya,” cerita kawanku itu.

Dari cerita temanku itu pula aku tahu kalau perempuan cantik itu sangat sadar akan pekerjaannya. Perempuan itu juga memimpikan kehidupan rumah tangga meski dia sempat berkecil hati, masih adakah manusia yang mau menerima keadaannya. “Dia masih jomblo. Dia bilang, siapa yang mau denganku yang seperti ini,” ucap kawanku.

Malam itu, ketika aku mendengar semua cerita tentang perempuan itu, aku membayangkan sedang apa perempuan itu. Apakah dia sedang menemani kliennya di ranjang kamar sebuah hotel. Ketika aku menulis cerita ini, aku bertanya, sedang apa gerangan perempuan ini. Apakah dia sedang melahap lembaran-lembaran koran nasional. Perempuan yang hingga kini belum bisa aku bayangkan seperti apa wajahnya itu telah meluruhkan seluruh prasangka-prasangka kepada mereka yang menggeluti dunia malam. Paling tidak aku tidak ikut-ikutan menjadi hakim yang memvonis “bersalah” perempuan itu.

 


Einstein, Sepeda & Kehidupan

Hidup itu laksana naik sepeda.

Untuk mempertahankan keseimbangan,

kamu harus tetap bergerak (Albert Einstein).

Aku tak tahu bagaimana seorang Albert Einstein bisa menemukan Teori Relativitas yang kemudian muncul dalam simbol E=MC2. Sebuah teori yang dulu ku jumpai zaman sekolah, tapi penjelasan dari guru dengan mulut berbusa-busa sudah terlupa.

Ketika benda dan energi berada dalam arti yang berimbangan dan hubungan antara keduanya dirumuskan sebagai E=MC2, mungkin sebenarnya Einstein tidak hanya bercerita tentang sebuah relativiti, namun juga berkisah tentang kehidupan manusia. Dan ketika Einstein berbicara tentang kehidupan, dia mengibaratkan hidup seperti naik sepeda.

Saat masih kecil dulu, aku belajar bersepeda dengan menggunakan sepeda berukuran kecil. Dengan dua roda kecil pembantu di sisi kanan-kiri roda belakang. Dua roda kecil itu sebagai penopang agar aku tidak jatuh. Pedal sepeda sering ku kayuh pelan-pelan. Belum ada optimisme. Belum ada keyakinan. Selain dua roda penopang itu, ibuku yang sering melihat aku belajar bersepeda memberikan semangat, mengobarkan optimisme.

Kala sepeda sudah menjadi bagian kehidupan masa kecil, maka dua roda penopang itu sudah hilang. Ibuku juga tidak lagi risau saat aku duduk di sadel sepeda. Bahkan, ketika menginjak SD, ukuran sepedaku juga berganti. Orang-orang menyebutnya dengan sepeda ukuran ban 16. Tak hanya halaman depan rumah, tapi sepeda juga telah membawaku keliling kampung, berangkat sekolah, bermain di sawah, menuju lapangan sepak bola di belakang balaidesa atau les pelajaran.

Ketika SMP hingga dewasa, sepeda telah membawaku dalam perjalanan di kota kecilku hingga mengantarkanku dalam sebuah petualangan menuju pantai yang jaraknya lebih dari 50 km dari rumah.

Aku yang sama sekali buta dengan Teori Relativitas, mengartikan rumus E=MC2 ciptaan Einstein itu layaknya perjalanan kehidupan manusia. Ketika benda=sepeda dan energi=kayuhan manusia, maka hidup itu selayaknya bersepeda, selayaknya manusia yang terus bergerak menjalani kehidupan.

Saat masih kecil, bersepeda masih harus ditopang alat bantu dan aku menjalani kehidupan masa kecil dengan menopangkan arah dan alurnya pada orangtuaku. Belajar jatuh dari sepeda, belajar menghadapi kehidupan.

Masa remaja tiba, orangtua mulai memberikan kebebasan kepada kakiku untuk mengayuh pedal lebih jauh. Kadang mengingatkan dan ada kalanya pula marah jika roda-roda diputar terlalu cepat, dikayuh terlalu sering atau terlalu jauh menuju suatu tempat yang belum waktunya.

Waktu orangtuaku menganggapku sudah dewasa, maka dia hanya menyarankan, menasihati ke mana sepedaku ini aku kayuh. Saat arahnya melenceng, ibuku mengingatkan. Orangtuaku membebaskanku, ke mana saja sepeda itu ku kayuh. Memberikan kesempatan untuk memutar roda seperti keinginan dan mimpiku.

Seiring berjalannya waktu, perjalanan bersepeda juga semakin banyak tantangannya. Ada kalanya menanjak yang kadang tak pernah diketahui kapan tanjakan itu berakhir meski kaki sudah kelu mengayuh, jantung berdegup kencang kelelahan dan tangan gemetaran. Namun, ada kalanya juga perjalanan menemui turunan curam hingga kecepatan sepeda sangat kencang, pedal tak perlu dikayuh dan senyum ringan tersungging dari sudut bibir menikmati perjalanan.

Mungkin ini adalah tafsir sesat atas Teori Relativitas, namun bagiku rumus E=MC2, tidak hanya berlaku dalam pelajaran fisika. Selama perjalanan kehidupan masih berjalan maka E=MC2 masih berlaku dan itu artinya pedal masih harus terus dikayuh agar roda terus berputar, entah di depan ada tanjakan atau turunan, roda-roda itu harus terus menggelinding.


Kawinan, Sembako & SBY

Hari ini kawan dekatku menikah. Setelah sekian lama menderita sebagai seorang bujang, kawanku ini menemukan belahan hatinya untuk diajak bergandengan tangan menatap masa depan. Meraih mimpi bersama-sama.

Beberapa hari sebelum hari bahagia ini, ada guratan kerisauan yang tidak bisa ditutupi. Ada kekhawatiran dari wajah kawanku ini. Bukan soal undangan yang belum tersebar, bukan soal gedung untuk tempat resepsi karena mereka resepsi di rumah dan bukan pula soal tetek bengek persiapan kawinan yang seabrek.

Kawanku risau dan khawatir soal harga Sembako. Soal kenaikan TDL. Sempat aku ketawa mendengar keluh kesahnya. Aneh rasanya seorang laki-laki bercerita tentang harga beras, cabai, bumbu masak yang konon kabarnya meroket. Tapi setelah aku pikir-pikir, dia memang layak untuk risau. Dia sah untuk khawatir.

Gaji kawanku sebagai seorang jurnalis di sebuah koran lokal memang terbilang lumayan. Ketika dua anak muda memantapkan hati mendayung bersama dalam sebuah perahu perkawinan, maka urusannya bukan soal cinta semata, tapi juga kelangsungan ekonomi keluarga. Maka, layak kawanku ini galau. Dalam bayangannya, kawanku ini akan mulai mengarungi samudra rumah tangga dengan penuh kesederhanaan dan keprihatinan. Dia harus bersiap untuk menghitung ulang biaya kebutuhan sehari-hari rumah tangga, biaya tabungan untuk masa depan (entah melahirkan atau biaya sekolah anak), biaya listrik hingga menyisihkan tidak sedikit uang untuk membayar kredit rumah yang baru dibeli.

Dalam kerisauannya itu, tidak ada ketakutan untuk mundur menjadi calon kepala keluarga. Tidak ada kegentarannya untuk membatalkan pernikahan. Kawanku ini hanya risau membayangkan masa depan yang akan semakin berat. Akan semakin susah. Dan aku membenarkan kegalauan dan kerisauannya itu. Mimpi indah tentang pernikahan itu kini dibayangi oleh harga Sembako yang melambung, TDL yang naik.

Dia laki-laki yang baru melepas masa lajangnya selama ini tidak tahu menahu dan tidak pernah ada urusan dengan harga Sembako. Namun, kini harga Sembako itu telah merisaukannya. Mengganggu pikirannya di hari bahagiannya. Kawanku ini menjadi gambaran nasib rakyat kecil. Nasib rakyat yang selalu diliputi kegalauan dan kerisauan. Bahkan, saat menikmati sebuah kebahagiaan pun, rakyat tetap dibayangi kekhawatiran.Dia kemudian bertanya, “Bolehkah aku menggugat ini semua kepada SBY?”


Kisah Bib & Ponpesnya…

Mata sebelah kirinya masih lebam. Ada warna merah kebiru-biruan di kantong mata kirinya itu. Darah di telinga kirinya sudah mengering. Dia hanya bisa duduk termenung menatap layar televisi sambil lalu.

Panggil saja dia dengan nama Bib. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran laki-laki muda berumur 22 tahun ini. Mungkin Bib sedang memikirkan tentang apa yang telah diperbuatnya dini hari tadi. Mungkin juga kata hatinya sedang berkata-kata tentang arti tobat.

“Dari belakang saya turunkan celananya selutut. Dia sedang tidur jadi tidak tahu, tapi baru sebentar ada yang lihat,” kata Bib lirih.

Perbuatannya itulah yang akhirnya membawa santri pondok pesantren (Ponpes) di Solo ini berada di kantor kepolisiaan. Dalam keremangan malam di sebuah asrama Ponpes di salah satu sudut Solo, Bib belum tidur.

Dia menuju ranjang santri lainnya, santri baru yang masih duduk di bangku SMP. Usia bocah itu terpaut 10 tahun dari usianya. Dengan begitu tenangnya Bib menurunkan celana bocah itu. Dan, semua terjadi begitu cepatnya.

Namun, sepertinya nasib tidak berpihak kepadanya. Santri lainnya mengetahui perbuatan Bib. Ketenangan malam di Ponpes itu terusik. Santri-santri terbangun. Dan Bib hanya bisa pasrah ketika beberapa tangan santri lainnya dengan keras menghujani wajahnya.

“Tidak pernah ada perempuan di pondok, laki-laki semua,” itulah kata meluncur dari mulut Bib berikutnya.

Dia masih tertunduk lesu. Beberapa polisi yang ada dalam ruangan itu juga masih sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Seperti sedang membuat ‘pengakuan dosa’, remaja itu berujar pelan, perbuatannya malam itu bukanlah perbuatan pertamanya. Bib mengaku, beberapa santri lainnya sudah pernah menjadi ‘korban’-nya. Suaranya semakin pelan ketika dia mengaku sudah 10 kali melakukan perbuatan itu.

Seperti membuat pembelaan atas apa yang telah dilakukannya, dia tidak sendirian. Apa yang dilakukannya terhadap santri baru malam itu, juga pernah dilakukan santri-santri lainnya. Bahkan, dia mengaku hanya ikut-ikutan apa yang dilakukan santri lainnya. “Dulu ada yang seperti itu, terutama yang dari luar Jawa, tapi tidak pernah ketahuan.”

Dari masuk SMP hingga lulus SMA dan kini dia bekerja di sebuah percetakan di Solo, kehidupan Bib tidak pernah lepas dari Ponpes itu. Ponpes yang mengajarkan tentang ilmu pengetahuan dan agama. Tempat dimana dogma-dogma agama dan ilmu pengetahuan digali dan dikaji.

Bib sangat paham dan tahu apa yang telah dilakukannya malam itu tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang agama. Dia tahu dalam agama itu disebut dengan dosa. Cukup lama dia terdiam tanpa kata dan tiba-tiba dia beranjak bangkit dari kursi panjang menuju salah seorang polisi. Dia meminta izin agar diberi kesempatan untuk sembahyang menghadap Tuhan. “Saya disuruh tobat,” ucap dia.


%d blogger menyukai ini: