Tag Archives: sungai progo

5 Jam menyusuri Progo Hulu (Bagian III): Dag dig dug, meluncur di dam

Tergilas perahu dan tenggelam cukup lama membuat tenagaku terkuras. Selama beberapa menit aku hanya bisa rebahan di perahu. Rasanya ingin muntah setelah menenggak air sungai begitu banyak. Kepala terasa pening. Aku mencoba bangkit dan kembali berkonsentrasi untuk melanjutkan pengarungan sungai yang masih lama. Pemandu dari Progo Xventours menyarankan aku pindah posisi di belakang. Dia khawatir nyaliku sudah berkurang. Dan memang nyaliku sedikit berkurang setelah kejadian yang menegangkan itu.

Terjun ke air ataupun tenggelam saat rafting sudah aku alami beberapa kali sebelumnya. Entah itu terjungkal di jeram ataupun diisengi teman saat aliran air tidak terlalu keras. Tapi itu semua belum ada apa-apanya dengan kejadian kali ini. Diawali tergilas perahu dilanjutkan terjebak di bawah perahu cukup lama. Sungguh menegangkan karena begitu menguras tenaga dan sempat membuat nyali ciut. Lega ketika aku bisa selamat dan senang merasakan pengalaman yang begitu menegangkan itu.

Setelah memberi waktu untuk menata diri dan mental, perahu kembali melaju. Aku pindah di posisi paling belakang, dekat dengan skipper. Perahu terus melaju dan melalui beberapa jeram. Terasa sekali perbedaan di posisi depan dan belakang. Saat di depan riak-riak air langsung menghantam tubuh dan goncangan begitu keras. Sedangkan di belakang terpaannya tidak begitu terasa karena riak-riak air sudah lebih dahulu menghantam teman-teman di depan. Sensasinya benar-benar berbeda.

Kala tenaga sudah mulai melemah, kami disuguhi pemandangan yang indah di sepanjang perjalanan berikutnya. Tebing-tebing curam ditumbuhi tumbuhan. Layaknya Green Canyon. Air dari atas tebing jatuh ke sungai membuat air terjun yang indah. Pemandangan indah itu membuat semangat kembali menggelora dan tenaga kembali pulih.

Setelah sekitar 12 km mengarungi sungai kami beristirahat sejenak di tepi sungai. Makanan ringan sudah disediakan. Semua lahap menghabiskan makanan. Tak lama kami beristirahat, perjalanan harus terus dilanjutkan. Masih banyak tantangan menanti di depan, terutama tantangan yang selama ini kami tunggu-tunggu, meluncur dari dam.

Beberapa saat setelah kembali mengarungi sungai, dam setinggi 5 meter menghadang. Air sungai sebenarnya agak surut, tidak terlalu tinggi. Semua perahu berhenti beberapa meter dari dam. Instruksi dari pemandu “tidur” akan digunakan saat perahu melintasi dam. Badan menengadah, rebahan di perahu. Dam setinggi 5 meter ini tidak vertikal utuk 90 derajat. Ada sedikit kemiringannya. Namun, tetap saja membuat jantung berdegup lebih kencang. Membayangkan meluncur setinggi 5 meter dan hal yang paling dikhawatirkan adalah perahu terbalik di bendungan. Perahu yang aku tumpangi persiapan untuk melintasi dam itu setelah satu perahu di depan meluncur di dam. Aku tidak tahu nasib perahu di depanku, apakah meluncur dengan sukses atau perahu terbalik. Yang terdengar hanya teriakan keras dari para rafter saat perahu nyaris vertikal meluncur di dam.

Suara peluit terdengar nyaring, tanda perahu kami dipersilakan berjalan. Kayuhan dayung masih pelan dan semakin mendekati dam, pemandu meminta kami mendayung semakin kuat. Dasar dam belum terlihat. Degup jantung terpacu kencang, menanti apa yang bakal terjadi. Moncong depan perahu sudah menyentuh bagian depan dam dan teriakan “tidur” dari pemandu terdengar. Kami semua rebahan dan tangan berpegang erat pada tali-tali perahu.”Haaaaaaaaaaaaa”. kami semua berteriak.

“Byuuuuuuuur…..”

Perahu menabrak air di dasar dam. Perahu terus meluncur dan kami sukses melintasi dam itu. Lima perahu lainnya juga sukses melintasi dam, tanpa ada yang terbalik. Kami kembali beristirahat makan siang karena sudah lebih dari 2 jam melintasi sungai. Kala perjalanan kembali dilanjutkan jeram-jeram kembali harus dilewati. Tidak terlalu banyak kendala yang dialami.

Tanpa terasa sudah lebih dari 4 jam kami mengarungi sungai. Dan sudah sekitar 20 km kami lalui. Tak berapa lama lagi kami akan segera finish. Namun ini bukan finish yang mudah karena ada dam yang menghadang. Dam vertikal 90 derajat setinggi 3 meter harus dilalui terlebih dahulu. Kembali degup jantung mengencang. Meski sebelumnya sudah sukses melewati dam yang lebih tinggi, tapi dam ini juga tidak bisa diremehkan. Dam vertikal membuat kemungkinan perahu terbalik semakin besar.

Kami kembali mendayung menuju dam. “Tidur”, teriak pemandu dan kami kembali rebahan. Perahu meluncur vertikal menghujam dasar dam. Perahu berdiri tegak, tak lama lagi bisa terbalik. Untungnya bagian depan perahu sedikit maju dan perahu bisa meluncur. Sorak sorai bergemuruh. Tepuk tangan meriah dari warga yang menonton aksi kami menutup perjalanan kami di Progo Hulu.—Tamat

*all photo by Progo Xventours


5 Jam menyusuri Progo Hulu (Bagian II): Tergilas perahu, tenggelam dalam kegelapan

Gerimis tipis membayangi perjalanan kami menuju Temanggung. Hawa dingin masih terasa meski jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi lebih. Sekitar satu jam perjalanan kami tiba di Temanggung. Lokasi start arung jeram Progo Hulu tak terlalu jauh dari pusat kota Temanggung.

Helm dan pelampung mulai dipakai. Dayung yang menjadi senjata kami sudah di tangan. Kami sudah siap mengarungi Sungai Progo sejauh sekitar 20 km. Jarak yang cukup jauh bagi kami yang masih pemula. Sebelumnya kami menjajal rute Progo Atas sejauh 9 km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Kali ini kami mencoba perjalanan jauh menyusuri sungai dengan perahu karet dengan estimasi waktu sekitar 4-5 jam.

Seperti biasa, pemandu memberikan arahan sebelum kami turun ke medan pertempuran. Beberapa instruksi sudah kami hafal seperti “maju” untuk mendayung maju, “mundur” untuk mendayung mundur dan “stop” untuk berhenti mendayung. Kini ada beberapa instruksi tambahan seperti “balance” yaitu semua penumpang perahu harus menuju titik tertinggi perahu saat miring agar perahu tidak terbalik begitu menghadapi jeram. Ada juga “tidur” yaitu kami harus menengadah rebahan di perahu.

Saatnya mengumpulkan semangat dan menepis rasa takut, kami menuju perahu masing-masing. Satu perahu diisi 7 orang, 5 peserta dan dua pemandu. Satu pemandu bertugas di belakang sebagai skipper, satu lagi di depan. Adanya dua pemandu dalam satu perahu ini mengusik pikiranku. Aku yakin perjalanan tidak semudah sebelumnya seperti di Progo Atas. Dalam pikiranku terbayang jeram yang bakal dilalui pasti lebih berat dan menantang. Rasa takut dan khawatir harus ditepis dan dengan keyakinan penuh aku meloncat ke perahu.

Aku biasa memilih untuk berada di posisi paling depan. Satu alasan yang pasti adalah ketika difoto, wajahku bakal paling kelihatan. Alasan lainnya, adrenalin lebih terpacu karena wajah langsung berhadapan dengan air yang bergulung-gulung tanpa terhalang punggung teman satu perahu.

Pelan tapi pasti, 6 perahu mulai mengarungi Sungai Progo. Semua mendayung pelan-pelan. Semua masih menyesuaikan diri dan membuat diri senyaman seperti seorang pendaki gunung yang melakukan aklimatisasi sebelum mendaki. Beberapa saat setelah itu, permukaan air Sungai Progo mulai bergelombang. Siap tidak siap, semua harus menghadapi tantangan yang sudah di depan mata.

Di awal-awal perjalanan, jeram-jeram yang dilalui masih cukup ringan. Hampir mirip rute Progo Atas. Bedanya, jeramnya lebih panjang sehingga pacuan adrenalin jadi lebih lama. Teriakan-teriakan mulai bersahut-sahutan kala perahu diombang-ambingkan jeram. Dan selalu ada senyum puas kala jeram terlewati. Tak terhitung berapa jeram yang telah terlewati, namun semakin lama rasanya jeram yang harus dilalui semakin menantang.

Perahu-perahu tidak bisa beriringan bersama-sama menembus kerasnya jeram. Semua harus antre, satu persatu perahu melintasi jeram. Pemandu pun harus berjuang ekstra keras agar tidak salah mengambil jalur. Kalau salah bisa-bisa perahu berputar-putar terlalu lama di jeram ataupun nyangkut di bebatuan yang menghadang.

Sesekali terdengar peluit dari pemandu menandakan ada perahu yang bermasalah. Ada kalanya suara peluit juga menjadi penanda agar perahu bisa berjalan menembus jeram setelah perahu di depan berhasil melewati jeram. Cipratan air ataupun perahu yang setengahnya tertelan kerasnya jeram benar-benar membuat “gila”. Rasa takut yang harus dilawan, rasa penasaran seperti apa melewati jeram dan keinginan menaklukkan jeram bercampur aduk menjadi satu saat melintasi kerasnya arus.

Setiap kali akan memasuki jeram yang cukup berbahaya, pemandu menghentikan perahu dan melihat arus di depan, memilih jalur mana yang harus dilalui. Kadang memberikan instruksi, seperti saat menghadapi jeram merah. Sungai Progo yang kami arungi ini dihimpit tebing-tebing curam. Di beberapa bagian, air mengalir dari atas tebing, ada yang dari sawah, ada pula dari sisa pembuangan pabrik tahu. Di penghujung jeram merah ini tebing sisi kiri menonjol ke kanan. Sedangkan sisi kanan sungai dipenuhi batu-batu besar sehingga perahu akan terbawa ke sisi kiri. Rafter yang ada di sisi kiri perahu harus siap tiarap menundukkan kepala agar tidak membentur tonjolan dari tebing itu.

Semuanya berjalan begitu cepat, suara menderu dari jeram seakan menelan teriakan kami. Tapi bahaya belum usai. Begitu jeram terlewati, tonjolan dari tebing sudah di depan mata dan semua siaga untuk tiarap. Lega rasanya, tidak ada yang terluka. Perjalanan kembali berlanjut.

Jeram-jeram keras kembali harus dilalui. Satu jeram yang lumayan sudah menghadang. Aku dan semua yang ada di perahu bersiap menembus jeram, mengayuh dayung sekuat tenaga. Air membuncah. Perahu yang membelah jeram menambah riak-riak air membesar. Dalam hitungan detik, hentakan keras membuatku terlempar dari perahu ke arah depan. Aku tersentak. Kejadian begitu cepat. Kaki, badan dan kepala langsung terbenam ke sungai. Mencoba tenang dan tidak panik. Pelampung yang mengikat di tubuhku membawaku kembali ke permukaan. Ketika kepala mulai muncul di permukaan, dari belakang perahu langsung menggilasku dan membuatku kembali terbenam di dalam sungai.

Gelap. Aku tak bisa melihat apa-apa. Air Progo berwarna cokelat dan di atasku dasar perahu berwarna hitam. Kepalaku hanya bisa menyundul dasar perahu. Seluruh tubuh terbenam di dalam sungai. Entah sudah berapa banyak air yang aku minum. Aku sudah tidak bisa tenang lagi. Sekuat daya aku mengangkat tangan berharap ada yang segera meraih tanganku. Entah berapa lama aku di dalam sungai. Tiba tiba ada yang memegang tanganku dan aku diseret ke perahu. Sorak sorai bergemuruh. Aku begitu lemas, terkapar di perahu.—Bersambung

 

* all photo by Progo Xventours


5 Jam menyusuri Progo Hulu (Bagian I): Rute baru, sensasi baru…

Hari masih pagi, tapi saya dan 19 kawan sekantor sudah menembus tebalnya kabut di jalanan. Mobil mengarah ke Selo, sebuah kota kecil di kaki Gunung Merapi-Merbabu. Tak banyak pemandangan gunung yang bisa dinikmati. Kabut terlalu tebal dan jarak pandang jauh berkurang. Hangatnya matahari belum mampu menembus tebalnya kabut yang setia memeluk dua gunung yang berhimpitan itu.

Aktivitas pagi khas pegunungan begitu terasa. Pedagang sayur berkumpul di pasar, bocah-bocah berlarian di tepi jalan menuju sekolah. Semuanya seakan melupakan hawa dingin yang menusuk-nusuk tulang. Beberapa saat kemudian kala kami sudah melintasi wilayah Ketep kabut mulai menipis dan cahaya mentari mulai menyapa. Di sebelah kiri, Gunung Merapi menjulang kokoh. Di sebelah kanan, Gunung Merbabu terlihat gemuk tapi “seksi”. Tak banyak waktu untuk menikmati pemandangan indah itu. Kami harus terus melaju menuju Magelang. Sesekali pandangan kami mengarah ke lereng Merapi. Sisa-sisa erupsi Merapi masih terlihat jelas. Pohon-pohon mengering diterjang awan panas, daun-daun layu.

Sekitar 20 km lagi kami sampai Blabak, menembus jalan utama Semarang-Jogja. Tiga mobil yang mengangkut 20 orang yang penasaran dengan kerasnya jeram Progo Hulu sudah tidak sabar tiba di Magelang untuk memulai petualangan. Hotel Puri Asri tujuan kami. Di tempat itu, titik awal perjalanan kami memulai arung jeram. Bagi sebagian di antara kami, ini bukan pengalaman pertama mengarungi Sungai Progo. Sebelumnya, rute arung jeram Progo Atas sudah ditaklukkan dua kali.

Kali ini kami ingin mencoba rute baru yaitu Progo Hulu. Rute arung jeram yang tergolong masih baru. Sekitar setahun yang lalu, kami sudah berniat mencoba mengarungi rute itu. Namun kami belum beruntung, debit air terlalu rendah sehingga tidak memungkinkan kami mencoba rute baru itu. Curah hujan yang cukup tinggi selama bulan Januari-Februari menjadikan debit air meninggi dan kesempatan menjajal rute baru itu sudah di depan mata.

Di hotel itu, para instruktur dari Progo Xventours sudah menunggu. Tiga angkot dengan masing-masing dua perahu karet yang diikatkan di atap angkot berjajar rapi. Rute Progo Hulu memang tidak dimulai dari hotel itu. Angkot itu akan menbawa kami ke daerah Temanggung yang berjarak sekitar 20 km dari Magelang. Setelah semua siap, kami pun melaju menuju hulu Sungai Progo di kaki Gunung Sumbing. Dari kaki Merapi dan Merbabu, kami menuju kaki Sumbing dan Sindoro untuk mencoba rute baru dan tentunya merasakan sensasi baru.-Bersambung

 

*all photo by Progo Xventours


Rafting @Progo Atas (2)

Saatnya melawan rasa takut…

Air sungai yang berwarna cokelat, memang mirip dengan warna kopi merk Coffemix. Dengan detail, pemandu memberikan arahan sebelum perahu mulai dikayuh. Tapi rasa penasaran dan adrenalin yang mulai terpacu membuat kami ingin segera melalui jeram demi jeram di sungai itu. Perlahan satu persatu perahu meninggalkan tepi sungai.

Bagi kami, sungai itu terlihat deras karena riak dan gelombang air tidak berhenti saat beradu dengan bebatuan. Namun, ternyata itu belum terlalu deras. Bahkan, di bawah standar. Meski hujan sudah berkali-kali mengguyur daerah Magelang, namun rupanya kemarau panjang sebelumnya menjadikan debit air sungai itu belum juga pulih.

Ketika kami berarung jeram di sungai itu, debit airnya masih jauh di bawah normal. Meski begitu, rasa was-was dan takut tetap menggelayuti sebagian besar dari kami, terutama mereka yang tidak bisa berenang. Bagi yang tidak bisa berenang, berhadapan dengan air tenang sudah seperti berhadapan dengan setan, apalagi ini, gelombang air yang beriak-riak seakan siap menelan siapa saja yang berada di dekatnya.

Dengan modal kemampuan renang gaya batu saya yakin bisa melewati tantangan ini. Beberapa kawan yang tidak bisa berenang punya nyali, maka sudah seharusnya nyali saya lebih besar. Perahu yang saya tumpangi mulai bergoncang-goncang. Antara rasa takut, khawatir dan senang campur aduk, namun kami masih bisa bersendau gurau.

Beberapa puluh meter setelah start, jeram pertama menghadang. Kami diminta siap-siap dan terus mengayuh. Perahu bergoncang. Air masuk ke dalam perahu dan teriakan-teriakan tak jelas bersahutan. Tidak hanya dari perahu yang saya tumpangi saja, dari perahu lain suara teriakan seperti menjadi pelepasan rasa takut.

Ketika jeram pertama terlewati dan kami mengarungi sungai yang kembali tenang, rasa lega begitu terasa. Hampir semuanya tersenyum. Rasa takut telah berganti dengan rasa penasaran. Ketika jeram demi jeram dilalui, masih saja ada teriakan-teriakan, namun bukan lagi pelampiasan rasa takut, tapi semangat dan tertantang untuk melewati jeram.

Jeram demi jeram terus dilalui. Antara jeram yang satu dengan jeram berikutnya selalu diselingi aliran sungai yang tenang. Saat itulah, saat untuk bersenang-senang. Tak hanya mengguyur perahu lain, namun juga menyerang penumpang perahu lain. Jika ada kesempatan, kami mengaet, penumpang perahu lain agar jatuh ke sungai. Namun, demi keselamatan itu hanya boleh dilakukan di aliran sungai yang tenang.

Saling serang, saling menjatuhkan. Jadi bukan hanya soal tantangan dan adrenalin semata, namun juga hiburan. Tentu juga mengasah kekompakan dengan rekan satu perahu agar mendayung yang kompak, menghindari serangan ataupun saling percaya dengan rekan satu perahu. Meski jeram demi jeram dilalui sukses, bukan berarti tantangan telah berakhir karena selalu saja ada uji nyali bagi mereka yang benar-benar punya nyali.


Rafting @Progo Atas(1)

Mencicipi “kopi tanpa gula”…

Setelah menempuh 2,5 jam perjalanan akhirnya kami mulai masuk Kota Magelang. Sejak fajar menyingsing, saya bersama 19 orang lainnya yang diangkut dengan tiga buah mobil sudah meninggalkan Solo menuju Magelang.

Memasuki Magelang, lalu lintas di kota penghubung antara Semarang dan Yogyakarta ini sudah terasa semakin padat. Menjelang libur panjang, lalu lintas di manapun terasa semakin padat saja. Ketika mobil yang mengangkut saya melaju menuju arah pusat kota, tepat disebelah kiri menjulang tinggi Gunung Tidar.

Gunung yang disebut-sebut sebagai “Pakunya Pulau Jawa” itu dipenuhi dengan rimbunnya pepohonan. Di sekitar gunung itulah, calon-calon taruna TNI digodok di Akadami Militer (Akmil) TNI. Mobil terus melaju menuju jantung kota. Tujuan kami adalah Hotel Puri Asri Magelang.

Setelah berputar-putar melintasi kota, akhirnya kami sampai juga di hotel itu. Kami tidak bermaksud untuk menginap di hotel bintang empat itu. Kami jauh-jauh datang dari Solo menuju Kota Getuk untuk mencicipi tantangan berarung jeram di Sungai Progo.

Tepat di belakang hotel, Sungai Progo membelah Kota Magelang. Kami semua yang selama perjalanan terkantuk-kantuk langsung terjaga begitu melihat derasnya aliran Sungai Progo. Tanpa membuang waktu terlalu lama, kami mendekat menuju sungai. Instruktur dari Progo Xventours menyambut kami dengan senyuman. Kadang mereka tertawa melihat tingkat polah kami yang tidak ingin berlama-lama di daratan dan ingin segera memacu adrenalin.

Kegiatan berarung jeram di tempat ini dikelola oleh Progo Xventours yang juga berkantor di hotel itu. Rencananya kami akan menempuh jalur sungai sepanjang sembilan kilometer. Jalur yang akan kami tempuh biasa disebut dengan jalur Progo Atas. “Jeram di jalur ini merupakan jeram grade II-III,” ujar Sales & Marketing Manager Progo Xventours, Isnu Priyanto.

Enam buah perahu karet telah disiapkan di tepi sungai. Empat perahu akan mengangkut kami rombongan dari Solo dan dua perahu membawa rombongan dari Yogyakarta. Tiap perahu diisi lima peserta ditambah seorang pemandu. Sebagian besar dari kami pengalaman berarung jeram adalah pengalaman pertama bagi mereka. Sebagian besar merasa deg-degan karena ini adalah pengalaman pertama, apalagi bagi mereka yang tidak bisa berenang.

Tapi ternyata itu semua tidak menciutnya nyali kami untuk mencoba tantangan baru ini. Apalagi pengelola menyiapkan peralatan lengkap, mulai helm pengaman kepala dan pelampung bagi setiap peserta, tentu juga dengan dayungnya untuk mengayuh. Setelah kelompok dibagi, semua peserta menuju perahu karet masing-masing. “Siapkan diri untuk mencicipi Coffeemix tanpa gula,” ujar pemandu yang biasa dipanggil Kopral.


%d blogger menyukai ini: