Tag Archives: Waduk Cengklik

Berburu senja dengan sepeda

Senja adalah saat warna kuning kemerah-merahan berpendar menghiasi langit biru. Semburat cahaya kuning, merah, biru, putih bisa melahirkan keindahan langit meski hanya beberapa menit saja. Senja menjadi penanda, matahari rehat sesaat dan memberikan waktu kepada rembulan untuk menemani manusia.

Senja melahirkan dialektika tentang siang dan malam, tentang terang dan gelap, tentang keindahan pergantian waktu. Keindahan senja terlalu mahal untuk dilewatkan begitu saja. Dari ujung balkon kantor di sela-sela kerja, dari pojokan lantai 2 kosan, dari balik kaca mobil, bus atau kereta, aku selalu ingin menyapa senja. Rasa penasaranku pada senja melahirkan ritual berburu senja karena senja juga menawarkan perenungan hidup.

Hujan siang ini menyisakan jalanan yang becek, tapi senja tetap harus diburu, meski rintik hujan masih tipis membasahi bumi. Kali ini saatnya memburu senja dengan sepeda. Roda-roda mulai berputar, sepeda mengarah ke barat, tempat di mana senja akan hadir. Aku berharap bertemu senja di Waduk Cengklik.

Bagi pesepeda di Solo dan sekitarnya, rute Waduk Cengklik sudah begitu populer. Bagi yang menggunakan sepeda balap, rute jalan raya cukup menarik. Bagi yang menggunakan mountain bike seperti saya, Waduk Cengklik tak kalah menarik karena banyak rute yang bisa dipilih untuk enjot-enjotan memanaskan pantat. Menyusuri jalan para petani, membelah sawah yang becek adalah rute menarik untuk XC.

Menuju Cengklik biasanya mengambil jalur Jl Adisucipto (arah Bandara Adi Soemarmo). Namun, kala naluri berenjot-enjotan di sadel sudah di ubun-ubun, bisa saja membelah jalan-jalan desa yang mengarah ke waduk. Rutenya lebih menarik jika dibandingkan melintas di jalan raya yang sudah penuh sesak kendaraan bermotor dan jalurnya lempeng. Kombinasi paving block, aspal terkelupas, bebatuan dan tanah merupakan kombinasi khas jalan-jalan desa. Rumah-rumah di pinggiran kota, pematang sawah dan pembangunan perumahan yang terus menjamur adalah pemandangan utama di kanan-kiri jalan desa itu. Kalau beruntung, ada lambaian tangan dari anak-anak yang bermain di pinggir kampung. Kalau kurang beruntung, paling tersesat dan berputar-putar di kampung, tapi itu semua bisa diselesaikan dengan bertanya kepada warga yang ramah menunjukkan arah menuju Waduk Cenglik.

Menembus jalan desa, perempatan menuju bandara sudah di depan mata. Bisa saja memilih jalan lurus langsung menuju Waduk Cengklik, namun kalau gelora XC belum puas, bisa memilih jalur yang mengarah ke bandara. Tak jauh dari pekuburan tempat dulu pesawat Lion Air jatuh, ada jalan desa yang mengarah ke waduk. Dari situlah petualangan XC sebenarnya dimulai. Jalanan cukup lebar, tapi aspal yang mengelupas dan kombinasi kubangan air menjadikan perjalanan semakin menarik. Pematang sawah yang membentang lebih sedap di mata. Jalanan bebatuan dengan turunan dan tanjakan lumayan bikin nafas cukup ngos-ngosan.

Saatnya menyusuri aliran saluran air waduk. Tanah yang basah kuyup diguyur hujan menjadikan tepian aliran saluran air berlumpur dan penuh kubangan. Rasanya ingin menggenjot pedal sekencang-kencangnya, tapi di sebelahnya ada saluran air yang cukup dalam. Kalau tak hati-hati malahan bisa kecebur, apalagi jalanan licinnya minta ampun.

Waduk Cengklik yang jadi tujuan utama akhirnya terlihat juga. Tapi sayang, langit masih gelap. Mendung tipis masih menyelimuti langit. Impian tentang langit yang berpendar kuning kemerah-merahan sepertinya tidak menjadi kenyataan hari ini. Senja tidak menyapa hari ini. Petualangan berenjot-enjotan di sadel sepeda bisa menjadi pelipur lara. Suatu saat nanti aku akan kembali berburu senja dengan sepeda.

Iklan

Ada sunrise di bandara

Musim kemarau sepertinya sudah benar-benar tiba. Hawa dingin khas musim kering di pagi hari menyelimuti sudut Kota Solo.

Belum ada jam 6 pagi ketika pantatku sudah berada di sadel, kakiku kokoh menginjak pedal dan tanganku memegang kuat-kuat stang. Kabut tipis yang seakan menari-nari di atas persawahan tinggal menunggu waktu disapu datangnya sang mentari.

sunrise @ Bandara Adisoemarmo

Selalu ada keajaiban alam saat bersepeda di pagi hari. Kicau burung riuh rendah menyambut pagi, hamparan persawahan, udara yang sejuk jauh dari bau asap knalpot kendaraan dan alunan kehidupan yang berjalan slow. Namun, yang kutunggu pagi ini adalah semburat cahaya kuning kemerah-merahan dari ufuk timur.

Langit yang berpendar dengan kombinasi warna biru, awan putih tipis serta dominasi bulatan utuh cahaya berwarna kuning kemerah-merahan. Merah yang tidak terlalu membara, kuning yang tidak begitu pilu. Cahaya bulat itu ada di bandara.

Bagi para pesepeda di kawasan Solo dan sekitarnya, kawasan Bandara Adisoemarmo dan Waduk Cengklik adalah surga. Bandara dan Waduk Cengklik yang jaraknya berdekatan, sering menjadi tujuan bagi para pesepeda untuk nggowes. Di waduk, selain disuguhi pemandangan pagi, pesepeda juga bakal dijamu dengan teh hangat gula batu, pisang godhok, aneka gorengan dari warung-warung yang selalu dipenuhi pesepeda.

Sedangkan di bandara, meski warungnya tidak terlalu banyak, tapi daerah ini bisa menjadi tempat untuk rehat, mengatur nafas dan melihat semburat cahaya bulat itu. Kala pagi, saat burung-burung berlari di landasan pacu dan kabut tipis mengambang menyelimuti bandara dari ujung timur langit cahaya kuning kemerah-merahan memberi tanda aktivitas pagi segera dimulai.

menyambut pagi

Petani di sekitar bandara memanggul cangkul menuju sawah, ibu-ibu mengayuh sepeda dengan beronjong mengadu nasib di pasar, buruh pabrik diantar suami dengan sepeda motor, senyum-senyum indah anak-anak SD berlarian menuju sekolah dan bandara telah bersiap dengan penerbangan pertama hari ini.

Nuansa kehidupan pagi itu terekam dengan mudahnya ketika aku bersepeda. Mungkin karena setiap perjalanan dilakukan dengan pelan, tidak terlalu kencang sehingga detail-detail kehidupan pagi itu tidak hanya terekam lewat mata, tapi juga memberikan makna di hati. Bagiku bersepeda bukan sekadar olahraga atau suka-suka, tapi bersepeda juga menawarkan makna perjalanan kehidupan.

Namun, sensasi pagi itu hanya berlangsung beberapa menit saja. Yang ada setelah itu semua adalah rutinitas dan nafsu dunia. Mobil-mobil melaju kencang, penumpangnya takut terlambat terbang, petani sibuk dengan lahan sekotak yang disewanya, ibu-ibu menawarkan dagangannya di pasar, buruh pabrik terkungkung dalam sebuah labirin kapitalisme dan anak SD duduk di bangku mendengarkan guru. Waktu terus berjalan, aku masih duduk di sadel dan terus mengayuh sepeda yang juga akan mengantarkanku pada rutinitas.


Antara Solo dan Waduk Cengklik

Menembus jalan-jalan desa antara Solo hingga Waduk Cengklik, Boyolali membawa sejumlah kisah. Ada cerita tentang Jembatan Londo. Jembatan yang hanya diberi satu papan dan di bawahnya ada saluran airnya. Ada pula jalan becek di tepi saluran primer Cengklik Kanan yang mengairi sawah di Kecamatan Ngemplak. Hingga cerita tentang siswa TNI AU yang berangkat latihan. Sebagai penutupnya, ada segetas teh hangat dengan gula batu dan tahu iris di warung tepi waduk.

JEMBATAN LONDO- Bikers mengangkat seli saat melintas di Jembatan Londo.

OFFROAD- Melintas di tepi saluran Primer Cengklik Kanan.

MENANJAK- Jalan menanjak mengharuskan bikers menuntun sepeda munuju Waduk Cengklik.

WADUK CENGKLIK- Sejumlah siswa TNI AU berlatih di kawasan Waduk Cengklik.

TEPI SALURAN AIR- Bikers melintas di tepi saluran air Waduk Cengklik.


%d blogger menyukai ini: