Hari ini adalah hari Senin Wage, jadi hari baik karena memiliki sifat lakuning geni wasesa segara yang artinya pemberani dan pemberi ampunan.

Kalimat itu meluncur dari Kepala Museum Radya Pustaka Solo KRH Darmodipuro alias Mbah Hadi yang menjadi terdakwa kasus pencurian dan pemalsuan arca, Senin (30/6).

Ahli pawukon (menghitung hari) mengucapkan kalimat itu beberapa saat sebelum mengikuti persidangan di PN Solo yang mengagendakan pembacaan vonis.

Mbah Hadi menegaskan, karena pelaksanaan vonis kasus pencurian dan pemalsuan arca museum yang telah menyeretnya ke meja hijau merupakan hari baik, ia yakin hakim akan memberikan hal yang terbaik untuk dirinya.

Bahkan, sebelum mengikuti persidangan, Mbah Hadi juga membagikan selebaran kepada wartawan yang mengerubutinya. Selebaran tersebut berisi alamat hingga nomor handphone Mbah Hadi yang siap untuk melayani masyarakat dalam perhitungan Jawa hingga penyelenggaraan upacara ruwatan.

Mbah Hadi juga mencantumkan alamat tempat dirinya buka praktik yaitu di Bangsal Keraton Surakarta, sebelah timur Alun-alun Utara. ”Ini juga diberitakan ya, biar masyarakat juga tahu karena pihak Keraton telah menyediakan tempat untuk saya,” kata Mbah Hadi.

Sebelum sidang dimulai, beberapa kali Mbah Hadi sempat bercanda dengan wartawan. Dan ketika persidangan dimulai, dengan wajah yang cukup tenang, Mbah Hadi melangkah menuju ruang sidang dengan kawalan dari polisi.

Saat belasan fotografer dan wartawan televisi menyorotnya dengan kamera, beberapa kali Mbah Hadi menebarkan senyuman. Namun, ketika persidangan dimulai, wajah Mbah Hadi tampak serius mendengarkan pembacaan vonis. Dan ketika, majelis hakim akhirnya menjatuhkan vonis, wajahnya kian menegang.

Dengan wajah yang tenang meski menunjukkan kelelahan karena pembacaan vonis dilakukan lebih dari satu jam, Mbah Hadi tetap menjawab pertanyaan wartawan mengenai vonis 1,5 tahun penjara yang dijatuhkan hakim. ”Ya itu tengah-tengah ta. Kalau di-tawani (ditawari-red) ya milih bebas. Saya biasa-biasa saja, tidak tegang,” aku Mbah Hadi.

Saat ditanya mengenai apakah hari pelaksanaan vonis tersebut tetap merupakan hari baik meski akhirnya hakim memvonis dirinya 1,5 tahun penjara, Mbah Hadi mengatakan, hari Senin Wage tetap merupakan hari baik.

Mbok iyao gunakanlah hak pilihmu, jadilah warga negara yang baik.Pilihanmu menentukan Jawa Tengah lima tahun ke depan lo

Kutipan di atas merupakan perkataan dari ibuku beberapa hari yang lalu saat aku mudik ke kampung halaman di sebuah kota kecil tak jauh dari Gunung Merapi yang ada di perbatasan Jateng-Jogja. Obrolan hangat antara aku dan keluargaku malam itu memang tidak jauh-jauh dari Pilkada Jawa Tengah yang bakal digelar 22 Juni mendatang. Pilkada memang menjadi topik utama masyarakat Jateng akhir-akhir ini karena konon kabarnya sangat bersejarah bagi warga Jateng karena untuk pertama kali dalam sejarah berdirinya provinsi ini, masyarakat Jateng bakal memiliki kesempatan memilih gubernur dan wakilnya secara langsung.

Ibuku menanyakan apakah aku akan ikut coblosan 22 Juni besok dan dengan enteng saja aku jawab tidak. Dan, ibuku pun menjawabnya seperti kutipan di atas. Jawaban ibuku itu, aku balas senyuman saja. Aku tidak ingin memperdebatkan perkataan orangtuaku mengenai warga negara yang baik sama artinya warga yang menggunakan hak pilihnya saat ada Pemilu, entah itu Pemilu legislatif, Pilpres atau Pilkada.

Aku tidak ingin mempersoalkan, padangan orang-orang atau kelompok yang menilai warga negara yang tidak menggunakan hak pilihnya adalah warga negara yang tidak baik karena tidak menggunakan haknya. Aku hanya menilai jika pemikiran bahwa warga negara yang menggunakan hak pilihnya sama artinya dengan warga negara yang baik adalah mitos yang sengaja diciptakan Orde Baru dengan dalih menjaga stabilitas dan keamanan negara.

Pilihanku untuk tidak memilih dalam Pilkada mendatang, aku dasari pada kenyataan bahwa aku tidak lagi memiliki kepercayaan pada mereka lima pasangan calon gubernur dan wakilnya yang maju dalam Pilkada. Aku tidak lagi memiliki dasar untuk memilih salah satu pasangan dan artinya mengesampingkan empat pasangan lainnya. Aku tidak memiliki alasan mengapa aku harus memilih salah satu pasangan entah itu Bambang-Adnan, Agus-Kholiq, Sukawi-Sudharto, Bibit-Rustri atau Tamzil-Rozaq.

Benar-benar aku tidak memiliki alasan untuk memilih salah satu dari mereka. Jadi apakah aku harus memaksakan diri agar memiliki alasan untuk memilih mereka. Bukanlah pilihan politik juga harus didasari juga atas alasan pemilihan itu sendiri? Memang aku pernah melihat dan mendengarkan visi dan misi lima calon itu dalam siaran TV, namun apa yang aku tangkap visi dan misi itu hanya janji-janji yang entah dalam kenyataan bisa direalisasikan atau tidak.

Aku telah memantapkan hati untuk tidak memilih dalam Pilkada kali ini seperti apa yang pernah aku lakukan dalam Pilpres 2004 lalu. Dan jangan disalahartikan jika aku mengajak untuk tidak memilih alias Golput. Jika memang warga Jateng yang memiliki hak pilih memiliki alasan untuk memilih salah satu calonnya, maka bersuka citalah untuk menyambut hari bahagia 22 Juni dengan mendatangi TPS terdekat, karena memilih adalah hak dan tidak memilih juga bagian dari hak yang sama-sama tidak bisa dipaksakan. Kadang sedih rasanya jika melihat ada orang yang ingin memilih tapi akhirnya tidak bisa memilih dan akhirnya dianggap Golput karena tidak terdaftar atau kurangnya logistik Pilkada atau alasan teknis lainnya. Aku pikir Golput yang baik adalah mereka Golput karena benar-benar memiliki alasan untuk tidak memilih atau kalau boleh aku istilahkan Golput berkesadaran.

Jangan salahkan pula jika akhir-akhir ini angka Golput dibeberapa Pilkada trennya mengalami kenaikan. Bukan karena aku mengkampanyekan Golput, sama sekali bukan karena aku tidak memiliki kekuatan sehebat itu hingga aku bisa membujuk rayu jutaan orang untuk Golput. Aku pikir, naiknya angka Golput lebih pada semakin rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap politik dan segala prosesnya. Masyarakat mungkin berpikir singkat, siapapun yang terpilih, toh hidup masih susah. Masyarakat sudah semakin muak dengan politik dan segala perilaku politikus yang memang sangat memuakkan.

Jika para politikus menyoroti banyaknya angka Golput, bukankah mereka para politikus harus berkaca pada perilaku mereka selama ini, apakah mereka benar-benar sudah mengobarkan perjuangan untuk rakyat atau malah hanya berpikir untuk diri sendiri dan kelompoknya. Kalau ternyata mereka belum juga memperjuangkan kepentingan rakyat, janganlah skpetis terhadap Golput dan menyalahkan orang yang memilih untuk tidak memilih. Alangkah baiknya mereka memperbaiki perilakunya sendiri untuk kembali merebut hati masyarakat.

Dan kalaupun pada akhirnya mereka para politikus tetap skeptis terhadap Golput dan tidak mau merubah perilakunya, aku pikir politik dan politikus memang teramat sangat memuakkan.

Siapakah sebenarnya yang layak disebut dengan Raja Jalanan? Apakah mereka, para siswa SMA yang tetap turun ke jalan merayakan kelulusan meski masa depan tak seindah harapan. Atau mereka para simpatisan Cagub yang rela arak-arakan di jalanan meski kenyataan hidup tak semanis janji-janji kampanye.

Ini adalah sebagian pesan singkat yang aku terima dari Kasatlantas Poltabes Solo, Sabtu sore, “Hasil penindakan pelaggaran lalu lintas terkait aksi trek-trekan dan konvoi yang dilakukan anak SMU berhasil menindak pelanggaran Lantas sebanyak 128 pelanggaran dan 31 kendaraan bermotor disita sebagai barang bukti.”

Satu hari berselang, aku kembali mendapatkan pesan singkat dari Kasatlantas Poltabes Solo yang isinya kurang lebih seperti ini, “Tetap ditindak untuk pelanggaran Lantas yang berpotensi Laka. Ada beberapa yang sudah kami tindak dan disita sebanyak tiga kendaraan.”

Dua hari terakhir aku merasakan munculnya raja jalanan baru di Solo. Mereka menguasai jalan-jalan protokol dan menjadikan jalanan di Kota Bengawan yang sudah sempit menjadi semakin sempit saja. Kalau mereka para raja jalanan itu akhirnya mendapat tidakan tegas dari aparat kepolisian, bukankah itu kewajaran dari sebuah perbuatan yang memang harus dipertanggungjawabkan oleh mereka yang memilih menjadi raja jalaan?

Sabtu lalu, siswa SMA yang dinyatakan lulus oleh suatu sistem pendidikan yang amburadul, merayakan kelulusan dengan turun ke jalan. Aksi corat-coret baju sudah hampir menjadi tradisi yang tidak dapat ditinggalkan. Knalpot sepeda motor yang standar diganti dengan knalpot entah bikinan mana dan siapa, asal bisa memekakkan telinga. Euforia kebahagiaan tumpah seketika di jalanan. Aku tidak ingin menyalahkan mereka yang memilih turun ke jalan daripada menagis bahagia dan bersimpuh di atas kaki kedua orang tua sebagai ekspresi rasa bahagia. Aku juga sadar mereka yang turun kejalan belum tentu hasil ujiannya lebih baik dari mereka yang bimbang di rumah menunggu hasil pengumuman ujian sambil memikirkan masa depan.

Apapun itu yang dilakukan oleh mereka para siswa yang bahagia dinyatakan lulus ujian, entah itu corat-coret baju, turun ke jalanan sambil konvoi, menangis bahagia, memeluk kedua orang tua, sujud rasa syukur, itu adalah ekspresi ungkapan kebahagiaan. Soal itu baik atau buruk, benar atau salah, tinggal dari mana kita melihatnya. Bukankah kita juga pernah jadi anak muda seperti mereka?

Mereka memang harus bahagia, paling tidak satu hari saja karena hari-hari berikutnya, indahnya kelulusan tinggal kenangan. Mereka harus kembali menghadapi kehidupan dan masa depan belum tentu sesuai harapan. Mereka harus kembali merajut cita-cita yang mungkin sudah ada dalam angan-angan. Mereka para anak muda akan segera memasuki kehidupan senyata-nyatanya kehidupan yang mungkin tidak seindah perayaan kelulusan.

***

Satu hari berselang, giliran simpatisan salah satu Cagub Jateng menguasai jalanan di Solo. Ini agak berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini massanya lebih banyak dan lebih “liar”. Mungkin mereka senyata-nyatanya raja jalanan.

Dengan membawa berbagai atribut mulai dari bendera salah satu Parpol besar di Indonesia hingga bendera Ormas, para simpatisan itu benar-benar menguasai jalanan dalam arti yang sebenar-benarnya dan para pengguna jalan lainnya dipaksa bersabar demi memberi jalan mereka pada raja jalanan. Tak lupa pula mereka mengenakan kaos bergambar Cagub yang mereka dukung. Dan yang hampir pasti mereka melakukan arak-arakan dan berkonvoi diiringi sebuah melodi kebisingan, raungan knalpot sepeda motor yang saling bersahutan.

Aku tidak ingin menyalahkan mereka para simpatisan Cagub itu. Aku tidak ingin menghukum mereka dengan istilah “orang kampungan dan tak tahu aturan”. Yang ingin aku katakan adalah mereka bisa menjadi tontonan pengguna jalan lainnya meskipun dalam hati pengguna jalan lainnya merasakan dongkol setengah mati terhadap kelakukan mereka. Aku juga ingin berkata, bisa jadi kelakukan mereka di jalanan yang seperti raja jalanan itu sebuah cermin dalam kehidupan politik negara ini. Mereka asik menguasai jalanan saat ada kesenpatan, seperti para pemimpin bangsa yang asik mengorupsi uang rakyat saat ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi sifat manusia, meraih apa yang diinginkan dan dimpikan saat ada kesempatan?

Setelah kampanye Pilkada usai, maka usai pula mereka jadi raja jalanan. Kehidupan mungkin akan kembali normal seperti sedia kala. Mereka harus kembali pada rutinitas dan kehidupan yang belum belum tentu semanis janji-janji politik para calon gubernur yang mereka dukung. Mereka harus kembali memutar otak untuk kencukupi kebutuhan sehari-hari dan mungkin akhirnya lupa pada kerasnya raungan knalpot saat kampanye Pilkada seperti para gubernur terpilih yang mungkin juga lupa akan muluk-muluknya janji-janji mereka.

Kalau film murahan ala Hollywood hanya bisa menampilkan adegan kekerasan saja, itu masih bisa diterima, tapi kalau kehidupan di negeri ini isinya melulu kekerasan, mungkin itu tidak bisa diterima…

Hingga hari ini atau mungkin juga sampai esok hari, aku masih belum bisa berpikir tentang raibnya isu kenaikan BBM yang kalau boleh jujur sangat aku tentang. Otakku mungkin masih terkontaminasi pikiran-pikiran, bahwa isu kenaikan BBM akan semakin memuncak dan mungkin bisa mencapai klimaks setelah kasus penyerangan polisi ke Kampus Unas Jakarta. Tapi, sayang itu hanya pikiranku saja dan kenyataan berkata lain.

Kenyataan memang berkata lain, saat ini isu dan berita yang lagi tren adalah penyerangan di Monas, pembubaran FPI, buronnya Munarman. Walaupun aku juga tahu suatu saat nanti, isu dan berita itu akan tergerus oleh isu dan berita lainnya yang mungkin lebih hangat dan aktual.

Dua kejadian yang menurutku cukup besar, kenaikan harga BBM dan penyerangan di Monas sedikit banyak menjadikan aku tersadar bahwa berita dan masalah boleh datang dan pergi tanpa diundang dan tak perlu ijin pergi, namun berita dan masalah itu selalu disertai oleh kekerasan dan penghinaan terhadap kemanusiaan. Tak perlu kiranya, kita kembali mengingat tragedi Mei 1998 atau kasus penculikan aktivis atau mungkin juga kasus Malari, karena itu semua hanya mengingatkan kita akan sebuah bahaya laten di negara ini, kekerasan.

Kasus penyerangan Unas oleh polisi menyadarkan kita bahwa setelah 10 tahun reformasi aparat negara masih bersikap represif terhadap rakyatnya sendiri. Serangan balik mahasiswa pascabentrokan Unas juga membuka mata kita bahwa kalangan anak muda belum dewasa dalam menghadapi tindakan represif aparat dan selalu saja kekerasan dibalas dengan kekerasan.

Ketika kasus Unas mulai dilupakan, kini malahan kekerasan secara terang-terangan malah dilakukan tanpa tedeng. Tak perlu kaget jika FPI cukup akrab dengan kekerasan. Dan kini korbannya adalah massa AKKBB di Monas. Track record FPI memang tidak perlu disanksikan lagi, mulai dari razia tempat hiburan malam, swepping majalah Playboy, kini massa AKKBB yang menurut versi FPI, massa pro Ahmadiyah menjadi korbannya.

Aku tidak kaget ketika kejadian itu terjadi karena sejak tahun 2003, Slank telah meramalkannya dalam lirik lagu Gossip JalananPernah nggak lo denger teriakan Allahhu Akbar, pake peci tapi kelakuakan barbar, ngerusakin bar, orang ditampar-tampar.” Jadi setelah lagu itu sahih dan terbukti benar di kalangan DPR, kini lagu itu terbukti lagi kebenarannya.

Semua orang mengutuk, menyalahkan dan menyudutkan FPI atas kejadian di Monas. Dan aku pikir atas dasar apapun itu, aksi penyerangan itu tetap tidak dibenarkan. Kini, semua orang berbondong-bondong meminta FPI dibubarkan. Namun, sayang aksi kekerasan FPI di Monas dan permintaan pembubaran FPII dibalas dengan kekerasan.

Ormas-ormas yang bernama Garda Bangsa atau Bela Bangsa atau apapun itu namanya, mulai melakukan swepping pengikut FPI dan memaksa pengurus FPI di daerah-daerah untuk membubarkan diri. Memang tidak ada kekerasan fisik atau adu jotos, tapi bukankah pemaksaan kehendak dengan bahasa halusnya adalah permintaan membubarkan diri jika tidak membubarkan diri maka Ormas itu akan mengambil tindakan, itu juga tetap merupakan kekerasan, kekerasan psikologis.

Yang lebih menyakitkan adalah orang-orang yang mengaku prodemokrasi, malah turut ambil bagian dalam “upaya pembubaran FPI” dengan cara-cara kekerasan, bukan cara-cara elegan dan damai. Memang mereka tidak balas memukuli orang-orang FPI, namun ucapan, omongan mereka yang menyudutkan hingga sebenar-benarnya menyudutkan terus mengisi koran, mengisi talkshow di televisi dan radio.

Aku sangat miris melihat Rizal Malarangeng yang jelas-jelas lebih pintar dari aku, juga ikut ambil bagian dalam cara-cara kekerasan itu saat membawakan program acara Save Our Nation di MetroTV. Bagaimana cara Rizal berbicara, intonasinya hingga penekanannya agar bangsa ini tidak lagi menerima orang-orang semacam anggota FPI. Belum lagi, talkshow itu hanya mengambil narasumber dari pihak-pihak yang “pro” pembubaran FPI. Jadi aku bertanya mana keberimbangannya? Siaran itu dipancarkan ke masyarakat pemirsa TV dan tanpa adanya keberimbangan dalam talkshow, itu artinya masyarakat dipaksa hanya mendengar dan mengetahui dari satu versi (versi “pro” pembubaran FPI) dan dipaksa tidak mengetahui dari versi lainnya. Apakah ini artinya pembungkaman yang sama artinya dengan kekerasan. Bukankah demokrasi mengajarkan keterbukaan dan menolak pembungkaman?

Tindakan FPI yang menyerang massa AKKBB tidak dapat dibenarkan, namun aksi yang dilakukan Ormas yang memaksakan kehendak membubarkan FPI juga tidak ada pembenarannya. Tindakan FPI yang main hakim sendiri jelas-jelas salah, namun omongan orang-orang yang katanya intelektual dan prodemokrasi yang juga main hakim sendiri membuat pernyataan juga tidak dibenarkan.

Kalau semua orang di negeri ini hanya jago bikin kekerasan dengan cara-caranya sendiri entah itu main pukul orang, pemaksaan kehendak hingga pembuatan acara di media yang tidak berimbang, mungkin memang sejarah bangsa ini dipenuhi kekerasan dan penginjak-injakan kemanusiaan. Atau mungkin saja, orang-orang di negara ini layaknya pemeran film murahan ala Hollywood yang hanya bisa menampilkan adegan kekerasan saja.

Bapak Presiden, dengan adanya gempa ini, Cholif ingin punya rumah lagi. Kendati kena gempa, Cholif dapat juara satu di SD Muhammadiyah Canan. Semoga Cholif dapat beasiswa.

Masih melekat dalam ingatanku, surat Cholif itu aku baca dalam sebuah pameran di Wedi, Klaten beberapa bulan setelah gempa mengguncang Jogja dan Jateng 27 Mei 2006 lalu. Surat Cholif itu hanya satu dari ratusan surat anak-anak korban gempa di daerah Klaten yang semunya ditujukan kepada Presiden. Anak-anak itu, semuanya berharap mimpi mereka tentang rumah, tentang sekolah, tentang masa depan, bisa menjadi kenyataan. Dua tahun yang lalu, mimpi anak-anak itu memang hancur dalam hitungan detik. Rekaman tentang hancurnya sekolah, tentang mimpi indah, tak pernah terhapuskan dalam pikiran mereka. Inilah sebagian rekaman tentang anak-anak dan gempa.

Pekerjaan yang aku tekuni saat ini menuntut aku untuk selalu bertemu dengan orang yang sedang tertimpa musibah dan kemalangan hidup, entah itu korban penganiayaan, korban KDRT, korban penipuan hingga korban pencurian dan perampokan atau singkatkan masalah yang berkaitan dengan kriminalitas Namun, kenyataan yang ada selama ini, selalu ada jarak yang memisahkan antara aku sebegai seorang jurnalis yang mencari informasi dari mereka dengan mereka para korban yang dirundung musibah dan kesusahan.

Untuk lebih memudahkan pedekatan dengan mereka, selama ini aku selalu berusaha berempati kepada mereka korban tindak kriminalitas. Aku selalu mencoba belajar dari kisah musibah yang terjadi itu dan berusaha menempatkan jika hal yang sama itu terjadi padaku, entah itu menjadi korban penganiayaan, penipuan atau perncurian dan perampokan. Namun, maksimal-maksimalnya aku berempati pada mereka, aku sadar tetap saja ada jarak dengan mereka. Mungkin aku juga ikut terharu dan sedih mendengar kisah pilu penganiayaan hingga perampokan, namun harus aku akui pula jika feel sepenuhnya tidak aku rasakan.

Namun, aku rasa kini aku tidak perlu lagi berempati kepada mereka. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena kini aku sudah menjadi bagian dari mereka. Suatu pagi tiba-tiba kosku gempar, saat dua buah HP, satu kamera digital dan dompet milikku raib saat aku tertidur dan lupa mengunci pintu kamar. Wah, apes juga aku, tapi juga untung karena sang pencuri tidak membawa juga komputer jinjingku. Jangan kau ejek aku, kira-kira aku melakukan wawancara dengan diriku sendiri tidak.

Rasa empati yang selama ini selalu aku bangun terhadap mereka saat ada tindak kriminalitas, sepertinya sudah saatnya dibuang. Bukankah aku juga bagian dari mereka. Saat ini, feel sebagai seorang korban tindak kriminalitas juga lebih terasa daripada dulu yang hanya belajar berempati. Untuk menghibu diri atas kejadian itu, aku hanya bilang mungkin ini bagian dari kegiatanku sebagai jurnalis agar lebih total menekuni pekerjaan terutama dalam desk kriminalitas yang saat ini aku pegang.

Sedih, sudah pasti, jadi jangan kau tanyakan apakah aku sedih atau tidak dengan kejadian itu. Namun, aku tidak gelo terlalu dalam, toh itu juga hanya barang yang tidak terlalu didewakan keberadaannya, meski aku juga jadi kerepotan karena harus mengurus surat kehilangan dan memblokir berbagai kartu yang hilang. Setelah kejadian itu, aku jadi ingat ucapan Bang Napi, kejahatan tidak hanya muncul karena niat, namun juga adanya kesempatan, jadi waspadalah….waspadalah!!!

 

“Kamu itu gimana to, sukanya malah baca novel. Mbok iyao baca-baca buku aplikasi manajemen jadi bisa langsung bermanfaat bagi perusahaan,” kata kawanku kepada ku yang menirukan perkataan atasannya di perusahaan tempatnya bekerja.

Mendengar cerita kawanku itu aku sebenarnya hanya senyum-senyum saja. Aku tidak mau memberikan komentar yang berlebihan saat kawanku itu benar-benar dongkol abis saat kecintaannya pada novel digugat habis-habisan oleh atasannya dengan alasan kepentingan perusahaan.

“Emangnya ada yang salah dari novel. Udah mending aku suka baca, meskipun novel dan bukan buku-buku serius yang bikin pusing kepala dan ngantuk. Daripada aku nggak suka baca sama sekali. Coba lebih baik yang mana?” kata kawanku itu berapi-api.

Ucapan kawanku yang meledak-ledak dan bicara seperti mobil melaju kencang di jalan tol, tanpa koma dan titik sedikitpun itu aku iya-iyakan saja. Aku tidak mau berdebat dengan orang yang hatinya lagi panas. Toh, aku pikir ada benarnya juga omongan kawanku itu, lebih baik suka baca daripada tidak sama sekali. Meskipun itu novel dan apa salah kawanku itu sampai-sampai harus digugat kesenangannya pada novel.

“Kamu bisa dihitung dengan jari tanganmu, berapa orang yang suka membaca di kantorku kan, paling hanya Andi, Sisca, Deni, Maria dan aku,” lanjut kawanku.

Omongannya kawanku ini aku benarkan 100%. Bukan sok tau, tapi aku memang dulu pernah satu kantor dengan kawanku itu. Dan aku tahu budaya yang ada di kantor itu, kalau waktu senggang, jangan harap ada yang baca koran apalagi baca buku kecuali orang-orang yang disebutkan kawanku itu. Yang lainnya berkumpul di depan TV untuk nonton bareng infotainment. Bahkan, ada orang di kantor itu yang tidak perlu aku sebutkan namanya, memiliki obsesi jadi wartawan infotainment? Katanya biar bisa ketemu artis tiap hari.

Aku yang tidak memberikan komentar terhadap kataan kawanku itu, membuat dia dongkol. Akhirnya pembicaraan jadi membosankan karena kawanku itu hanya mengulang-ulangi omongannya. Bahkan, sudah mulai menyerempet ngegosipin Si Bosnya yang sebenarnya juga mantan Bosku yang katanya suka main perempuan. “Kamu itu mau cerita soal kesukaanmu pada novel yang digugat Si Bos atau malah ngegosip. Kalau mau ngegosip, gabung saja sama teman-teman kantormu itu,” kataku.

“Okey-okey. Makanya kamu kasih komentar atau saran. Bukankah novel itu sebuah karya yang juga harus dihargai. Bukankah novel, Cerpen atau puisi atau apapun itu namanya adalah sebuah karya sastra yang merupakan ekspresi manusia pada kehidupan dan bermanfaat bagi kita?” kata kawanku menjawab omonganku.

Aku tetap saja tidak memberikan komentar meski kepalaku manggut-manggut membenarkan omongan kawanku yang memang kalau sudah cerita pasti berjam-jam lamanya hingga lupa waktu. Kalau soal itu, aku juga sepakat, karya sastra harus dihargai. Namun, soal memberi manfaat, aku pikir sastra memberi tidak manfaat secara langsung. Bukan tidak bisa, tapi karena memang sastra memiliki cara lain dalam memberi manfaat bagi manusia. Aku pikir sastra tidak bekerja seperti buku praktis lainnya yang bisa memberikan panduan kepada manusia mulai dari 10 cara cepat dapat pekerjaan hingga 100 teknik bersenggama. Sastra memberikan pesan tidak langsung melalui sebuah cerita yang isinya bisa memberi makna dan manfaat bagi pembacanya.

“Kamu ingat novel Kitab Omong Kosong-nya Seno Gumira Ajidarma. Dalam novel itu kan jelas-jelas manusia harus belajar membaca. Tidak hanya membaca tulisan atau buku, namun juga membaca alam dan kehidupan. Bukankah kalau kita membaca novel kita juga bisa belajar membaca kehidupan?” tegas kawanku itu.

“Kamu nggak sekalian ngomongin novel Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta karya Muhidin yang ceritanya tak jauh-jauh dari soal membaca dan menulis,” balasku.

“Tadi sudah kepikiran sih, tapi aku lupa judul buku itu. Novelnya ngomongin soal membaca dan menulis itu sebuah tetirahkan yang lahir dari pembiasaan itu tho,” jawab kawanku.

“Aku tuh bingung dengan arah pikiran Si Bos. Mengapa dia berpikir cekak dengan mengatakan membaca novel tidak ada artinya. Aku malah takut omongan Si Bos itu menunjukkan kedangkalan berpikirnya,” lanjut kawanku.

Aku sekarang yang kebingungan. Apa hubungannya antara membaca novel dan kedangkalan berpikir. Tapi, bisa juga itu terjadi. Membaca novel seperti kata kawanku bisa menambah kedalaman berpikir karena pembaca diajak mengarungi kehidupan, terutama novel bertemakan humanisme meskipun itu hanya fiksi. Dari pengarungan itu, pembaca bisa belajar banyak tentang kehidupan dan bisa berarti di kehidupan nyata. Tapi, aku tidak mau menerka-nerka, aku positive thinking saja pada Si Bos, mungkin dia berpikir, novel itu seperti sinetron yang lebih banyak menjual mimpi pada penontonnya.

“Tau tidak. Setelah Si Bos ngomong gitu. Aku jawab apa. Aku balas tanya Si Bos, tau tidak tanggal 28 April itu hari apa. Dan dia bilang jika tanggal 28 April hari Senin. Aku langsung ketawa, tapi dalam hati,” kata kawanku.

“Lha emang benarkan 28 April hari senin. Emangnya hari apa?” aku balas bertanya.

“Ce..elah, kamu katanya suka sastra, kok tidak tahu tanggal 28 April tu hari apa. 28 April itu Hari Chairil Anwar,” jawab dia.

“Emangnya ada hari Chairil Anwar,” aku bertanya lagi.

“Ada, bloon banget sih lo. Kemana aja lo selama ini sampe gak tahu Hari Chairil Anwar. Tanggal 28 April diambil saat tanggal meninggalnya Chairil dan akhirnya dinyatakan sebagai Hari Chairil Anwar untuk mengenang karya Chairil. Tapi menurutku, saat ini Hari Chairil Anwar tidak hanya berarti untuk memperingati dan mengenang karya Chairil saja, tapi juga karya sastra Indonesia,” kata kawanku.

Tiba-tiba saja pembicaraan aku dan kawan itu terganggu oleh suara nada panggil dari HP kawanku yang menggunakan lagu Menjaga Hati milik Yovie and Nuno. Kawanku langsung meminta aku diam. “Iya…iya, baik…baik pak. Pasti akan segera saya laksanakan pak,” kata kawanku berbicara di telepon.

“Wah dari Si Bos. Aku ada tugas dulu nih. Ini tugas mendadak, jadi udahan dulu ya ngobrolnya. Besok kita sambung lagi,” kata kawanku sambil pergi tanpa pamit.

Sebelum kawanku itu benar-benar jauh aku sempat teriak, “Woy, besok Si Bos diberi buku Dilarang Melarang Membaca Novel ya,” kataku.

Deru kendaraan yang ramai melintas di jalanan membuat kawanku tidak mendengar ucapanku. Kehidupan nyata kembali menelannya dalam sebuah labirin dengan ditemani kata-kata indah dari sebuah novel kesukaannya karya Fredy S.

 

Judul : Gelang Giok Naga

Pengarang : Leny Helena

Halaman : 316 halaman

Tahun terbit : November 2006

Penerbit : Qanita

Apa jadinya jika empat perempuan Tionghoa berbeda generasi bertemu dalam satu rangkaian kejadian yang saling berkaitan? Mungkin jawaban itu akan hadir dalam novel Gelang Giok Naga ini, kisah dengan latar belakang kekaisaran China hingga huru hara reformasi 1998 di Indonesia.

Kisah bermulai dari Dinasti Ching tahun 1723 yang menceritakan tentang seorang selir yang bernama Yang Kuei Fei. Fei hanyalah satu dari puluhan bahkan ratusan selir yang dimiliki Sang Putra Langit Jia Shi. Awalnya Fei bukan siapa-siapa, namun dengan trik yang digunakannya, Fei bisa memikat Putra Langit sehingga sang Kaisar menjadi kepincut dengan Fei. Namun, usaha Fei tercium oleh Kasim Fu. Dan cerita mulai menarik karena kisah Fei dan Kaisar mulai dibalut dengan intrik-intrik politik kekaisaran.

Intrik-intrik kekaisaran akhirnya membawa Kaisar tewas dan hal itulah yang menjadikan Fei harus pergi dari istana dalam kondisi mengandung anak kaisar. Semua perhiasan Fei ditinggalkan, namun sebuah giok berbentuk sebuah naga tetap dibawa. Fei pergi meninggalkan istana ditemani dengan Kasim Fu. Dua orang itu terlibat asmara setelah keluar dari istana.

Kisah kemudian beranjak pada A Sui dan A Lin, dua orang perempuan yang harus datang ke Batavia (Jakarta) dengan alasan yang berbeda. A Sui datang ke Batavia mengikuti suaminya yang bertugas di Jakarta. Sedangkan A Lin terpaksa datang ke Batavia karena kondisi di China yang sangat memprihatinkan.

Dua perempuan tersebut kemudian ditautkan menjadi sebuah keluarga setelah anak perempuan A Sui menikah dengan anak laki-laki A Lin. Pasangan muda tersebut kemudian melahirkan anak yang kemudian diberi nama Swanlin. Kisah kemudian berputar-putar kepada tiga tokoh itu A Sui, A Lin dan Swanlin.

Kadang peristiwa dalam novel tersebut diambilkan dari sudut pandang A Sui, A Lin hingg Swanlin sehingga semakin memperkaya sudut pandang masalah. Konflik-konflik antara A Sui dan A Lin yang muncul pun juga menjadi tampak nyata ketika giok berbentuk naga yang semula dipegang A Sui jatuh ke tangan A Lin. Dan Swanlin lah yang akhirnya mengambil peranan terhadap konflik kedua neneknya itu.

Kisah Swanlin kemudian diambilkan dari latar tahun 1998 saat kerusuhan Jakarta terjadi. Swanlin mengambil peran tentang kerusuhan yang sebagian ditujukan kepada etnis Tionghoa. Kisah percintaan Swanlin pun tak luput dari novel ini.

Namun, kekuatan dari novel ini sebenarnya ada pada dua hal yaitu perempuan dan Tionghoa. Sudah cukup lama rasanya perempuan dan Tionghoa termarjinalkan di Indonesia dan kisah itu yang akhirnya diangkat penulis. Perempuan sepertinya masih dianggap sebelah mata dan kalau etnis Tionghoa di negara ini, tak perlu dipertanyakan lagi, mereka sering dianggap sebagai “anak tiri”. Novel ini tidak hanya menarik untuk dibaca, namun bisa menambah wawasan dan sudut pandang baru tentang perempuan dan etnis Tionghoa.

Lowongan kerja di Solopos.

Adapun posisi yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
A. Reporter (KODE POSISI REP)
B. Kasir
(KODE POSISI KSR)
C. Account Executive (KODE POSISI AE)

Syarat Khusus:
1. Lulus S1 segala jurusan dari PTN/PTS Terakreditasi (REP, AE).
2. Lulus D III Akuntansi (KSR).
3. IPK minimal 2.75 (pada skala 4.00) (REP, KSR, AE).
4. Pria/Wanita (REP, AE), Wanita (KSR).
5. Usia maksimal 28 tahun saat mendaftar (REP, AE), 27 tahun (KSR).
6. Meminati dunia jurnalistik, dibuktikan dengan menyusun esai maksimal sebanyak 3.000 karakter bertema “SOLOPOS Di Mata Saya” (REP).
7. Aktif berbahasa Inggris (REP, AE).
8.Berpengalaman di bidang jurnalistik lebih disukai. Lampirkan fotokopi
karya yang pernah dimuat (baik di media massa, media kampus atau media internal lainnya) jika ada (REP).
9. Berpengalaman di bidang sejenis minimal 1 tahun lebih disukai (KSR, AE).
10. Bersedia ditempatkan di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (AE).
11. Memiliki kendaraan bermotor sendiri (AE).

Syarat Umum:
1. Menguasai MS Office.
2. Dapat bekerja sama dalam tim.
3. Berbadan sehat dan bebas Narkoba.
4. Berkelakuan baik.
5. Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama satu tahun.
6. Mengajukan permohonan menjadi peserta Program Magang.
7. Lolos proses seleksi.

Kirimkan Permohonan Magang Anda disertai Daftar Riwayat Hidup, pasfoto
seukuran kartupos berwarna 1 lembar ke:

Bagian SDM SOLOPOS
Jl Adisucipto 190 Solo 57145.

Boleh diantar langsung, atau bisa melalui e-mail ke hrd@solopos.net. Berkas
Permohonan Magang diterima paling lambat Kamis 17 April 2008 pukul 16.00 WIB.

Cantumkan kode posisi pada sudut kiri atas amplop maupun surat permohonan
magang Anda. Hanya yang memenuhi syarat yang akan diproses.

Cantumkan pula nomor telepon atau nomor telepon seluler. Pemanggilan tes/seleksi melalui telepon/SMS.

Berkas lamaran yang dikirim ke Manajemen SOLOPOS tidak bisa diminta kembali oleh pemohon. Selama proses seleksi, Manajemen SOLOPOS tidak melayani pertanyaan baik melalui surat-menyurat maupun telepon.

Kritik itu biasa, manusia ada lemahnya… (Theme song Republik Mimpi)

Sudah sekitar 10 menit aku menahan tawa, aku hanya senyum-senyum saja saat pengamat politik Fajroel dan Wakil Ketua BK DPR Gayus Lumbuun berdebat seru dalam Topik Minggu Ini yang disiarkan SCTV. Pembawa acara Ario Ardi pun tak mampu membendung “kemeriahkan” debat dua orang tersebut.

Namun, aku tak mampu menahan tawa ku terlalu lama, akhirnya tawaku pecah, karena dalam debat itu Pak Gayus sepertinya tak berkutik meski berusaha membela mati-matian kredibilitas DPR yang menurut Bung Fadjroel sudah berada dititik nadir. Aku pikir perdebatan itu akhirnya malah membuka borok DPR yang selama ini berusaha ditutupi dengan ditanggapinya lagu Gossip Jalanan karya Slank oleh kalangan Dewan. Bahkan dengan lantang ada rencana menuntut Slank di pengadilan karena lagu tersebut melukai perasaan anggota DPR, meski akhirnya hal itu diurungkan.

Pak Gayus beberapa kali menyoroti lirik lagu yang tidak ada kaitannya dengan DPR yaitu lirik tentang merebaknya pelacuran, Siapa yang tau mafia selangkangan, tempatnya lendir-lendir berceceran, uang jutaan bisa dapat perawan. Vulgar, memang vulgar tapi bukankah kevulgaran juga pernah ditunjukkan seorang mantan anggota DPR lewat video mesumnya saat terlihat mesra dengan seorang penyanyi dangdut?

Pak Gayus akhirnya berbicara soal moral dan menilai lirik lagu itu tak bermoral. Dan kalau akhirnya bicara moral, aku pikir moral tidak hanya diukur dari kata-kata yang diucapkan, namun juga perilaku orang. Pak Gayus sendiri bilang jika ada aduan yang ditujukan kepada sekitar 76 anggota DPR atau hingga 100 orang DPR yang dinilai “bermasalah” entah itu soal korupsi atau masalah lainnya. Angka yang tidak kecil, kata dia. Aku tak tahu secara pasti apakah diduga melakukan korupsi, menerima suap atau masalah lainnya itu bemoral atau tidak?

Pak Gayus pun memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menilai sendiri lirik lagu itu dan masyarakat berkesemapatan untuk menjadi juri mana yang lebih dipercaya, apakah lirik Slank yang bilang, Mau tau gak mafia di Senayan, kerjaannya tukang buat peraturan, bikin UUD…ujung-ujungnya duit atau perkataan Pak Gayus yang bilang lagu itu tak bermoral. Kalau mengikuti polling yang dibuka selama acara disiarkan, 99% penonton acara itu lebih percaya dengan lirik lagu Slank. Aku tak tahu apakah kritik yang vulgar itu lebih tak bermoral daripada orang-orang melupakan rakyat yang semakin sengsara?

Meskipun tidak suka dengan lirik lagu itu, Pak Gayus tegas-tegas menyatakan DPR siap untuk dikritik, namun kritik yang disampaikan harus santun. Aku tak tahu lebih santun mana orang yang mencurahkan pikirannya lewat sebuah lagu vulgar atau orang yang menghabiskan uang rakyat untuk berbagai fasilitas wah?

Mungkin sudah saatnya perseteruan itu diakhiri untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menilai seperti kata Pak Gayus dan masyarakat bisa menjadi juri yang baik dalam masalah ini. Bukankah kamu juga ingin menjadi juri dan ikut menilainya?

NB. Mungkin suatu saat Slank perlu konser di Senayan, bukan untuk membuat kuping anggota Dewan merah, tapi untuk menyebarkan virus perdamaian. Peace!!!

NB Lagi. Aku hanya mengingatkan bagi kalian yang suka mengkritik pemerintah, DPR atau lembaga lainnya, agar mengkritik mereka dengan santun, bukan karena aku tidak suka dan merasa kalian tak bermoral dan tak santun, namun lebih agar mereka tidak memberikan tanggapan berlebihan dan melupakan tugas mereka sebagai abdi rakyat!!!

Ku baru keluar malam

Setelah sunset tenggelam

Ku selalu keluar malam

Waktu langit mulai hitam

(Anak Malam-Slank)

Beberapa pekan terakhir, aku merasa kehidupan pribadi dan sosialku seperti tertelan bumi. Dari pagi hari hingga larut malam, bahkan kadang sampai dinihari aku mencurahkan tenaga dan pikiranku untuk pekerjaan. Alhasil, waktu yang tersisa selain pekerjaan hanyalah untuk tidur.

Bukannya aku ingin mengeluh, tapi jika keadaan semacam itu aku jalani terus menerus, maka kebosanan tak terhindarkan lagi. Akupun sadar sejak awal aku terjun ke dunia yang kata kawanku adalah dunia antah berantah, maka tenagaku akan dibutuhkan setiap saat dan tak mengenal waktu, entah pagi, siang ataupun malam. Apalagi kini aku berada di desk kriminalitas yang selalu berpacu dengan kejadian tanpa mengenal waktu. Dan itulah yang membuat aku mencintai pekerjaanku, bagaimana rasanya adrenaline dipacu untuk berkejar-kejaran dengan deadline.

Kemarin, sengaja aku pulang awal dari biasanya. Selain karena pekerjaanku telah tuntas, aku juga ingin melepaskan penatnya pekerjaan agar hidup tak melulu pekerjaan dan pekerjaan. Jangan kalian pikir jika pulang awal berarti aku pulang siang hari sekitar jam 2 siang atau jam 3 sore. Namun, pulang awal dalam kasmusku adalah pulang menjelang petang, sekitar jam setengah 6 sore.

Ah, rasanya sungguh menyenangkan bisa melihat senja sebelum bumi diselimuti kelamnya malam. Bagiku melihat senja adalah kemewahan yang tak terkira karena aku telah lupa, kapan terakhir aku melihat senja. Namun, keinginan untuk melepaskan penat barang hanya semalam saja, sepertinya harus aku lupakan. Jam baru menunjukkan pukul setengah 8 malam saat kawanku mengabari jika ada tawuran di salah satu perguruan tinggi di Kota Bengawan.

Setelah mengkroscek informasi itu ke beberapa sumber, ternyata info itu benar adanya. Tanpa pikir panjang, aku segera mendatangi lokasi. Saatnya memacu adrenaline lagi pikirku. Wah, ternyata bukan tawuran, tapi penganiayaan, tapi tak apalah toh itu juga fakta dan sebuah kejadian. Ternyata aku sedikit terlambat, lokasi kejadian telah sepi dan orang-orang yang menjadi pelaku penganiayaan telah diamankan di kantor polisi. Segera saja aku meluncur ke kantor polisi.

Tanpa perlu waktu yang lama, semua bahan informasi aku dapatkan dan aku segera laporan ke kantor untuk memastikan apakah fakta itu ditunggu untuk edisi esok hari demi kalian para pembaca, atau ditunda. Atasanku memutuskan, fakta itu ditunggu dan kini aku harus lari cari warnet terdekat. Semuanya akhirnya tuntas jam setengah 10 malam. Setelah itu aku ngenet hingga jam 11 malam dan baru sampai kos setengah jam kemudian. Aku pulang dan melepaskan penat meski rencana rehat tak ku dapat malam ini.

Keributan kecil dalam bus yang aku tumpangi membuatku terjaga. Aku melihat jam, sekitar 1,5 jam aku tertidur. Rupanya keributan kecil itu berasal dari omongan orang-orang di dalam bus yang misuh-misuh dengan sopir angkot yang maen serobot saja di jalanan. Aku tak perduli dengan itu semua.

Sudah lebih dari 2 jam tubuhku terguncang-guncang di dalam bus. Jalan rusak, ah itu persoalan lama. Aku hanya ingin segera sampai Lido. Ingin rasanya segera mandi setelah peluh keringat sejak pagi tadi membasahi pakaianku.

Gedung UtamaYa, Lido adalah tujuanku. Sebenarnya, bukan tujuan pribadiku, namun karena ada tugas dari kantor, aku harus berangkat ke Lido yang masuk daerah Kabupaten Bogor. Dua hari yang lalu, bagian sekretaris redaksi (Sekred) menghubungiku, aku ditugaskan berangkat ke Unit Terapi dan Rehabilitasi (UTR) Badan Narkotika Nasional (BNN) yang ada di Lido.

Kini aku sudah memenuhi tugas itu. Dalam sebuah bus yang berangkat dari Jakarta, aku bersama puluhan jurnalis lainnya kami menuju Lido. Beberapa jurnalis sudah saling berkenalan denganku, sebagian lainnya belum. Sejak bus berangkat, aku memang sudah mengantuk, jadi aku pulas tertidur selama perjalanan sehingga belum sempat kenalan dengan jurnalis lainnya yang satu bus denganku.

Bus sudah keluar dari jalan utama dan kini jalan terjal menyambut sehingga bus seperti dipaksa bekerja lebih dari biasanya. Meskipun jalannya menanjak, namun aspalnya lebih hotmix dari aspal jalan utama yang tadi dilewati. Tak lebih dari 15 menit, bus menyusuri jalan “kampung” itu, dari kejauhan tampak bangunan megah yang terlihat begitu mencolok di tengah-tengah sawah dan perkebunan. Tak ada lagi perkampungan di dekat bangunan itu. Mungkin karena tak ada saingannya, bangunan dengan konsep minimalis itu, tampak begitu menonjol. Aku menaksir, paling tidak komplek bangunan itu berjalan sekitar 1 Km dari kampung terdekat. Dan kompeks itu tak lain adalah UTR BNN yang menjadi tujuanku.

Hujan gerimis mengambut kedatanganku sore itu. Ini tidak sesuai harapanku. Sangat indah rasanya jika melihat senja datang dari kaki Gunung Salak. Tapi tak apalah, gerimis sore itu juga cukup menarik karena barisan kabut seakan menyelimuti kami dan hawa dingin pun langsung menyeruak di sekujur tubuh. Sekitar 20-an jurnalis dari berbagai provinsi langsung menuju guest house di kompeks tersebut. Aku memilih satu kamar dengan seorang jurnalis televisi pemerintah. Bukan apa-apa, tapi kami sudah kenal beberapa jam yang lalu, jadi mungkin lebih asik daripada harus tinggal dengan orang yang baru kenal beberapa menit yang lalu.

Setelah mandi, aku melihat-lihat kondisi kompleks “panti bagi pengguna Narkoba” itu dari balkon lantai II. Apa yang disuguhkan di depan mataku, sangat berbeda dari bayanganku sebelumnya. Bangunan yang ada konsepnya minimalis dan tertata rapi layaknya sebuah perumahan modern. Sebelumnya, aku membayangkan, kompleks itu akan sangat “angker” layaknya sebuah penjara. Memang kompleks ini dikelilingi pagar berkawat, namun aku pikir hal itu tidak menjadikan kompleks itu terkesan angker, mungkin lebih mirip dengan villa. Apalagi background kompleks tersebut adalah Gunung Salak.

Malam sudah datang sejak tadi. Sebentar lagi aku mengikuti rangkaian kegiatan resmi. Tak perlulah aku cerita soal kegiatan yang ada. Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak ingin menjadikan cerita ini layaknya sebuah laporan pekerjaan yang harus aku setorkan di kantor. Aku belum puas melihat secara lengkap kompleks UTR BNN itu. Namun, besok masih ada waktu untuk menjelah.

Aku bangun tidur lebih awal dari biasanya ketimbang ketika aku menjalani rutinitas kerja. Mungkin hawa dingin membuatku terjaga. Akau mungkin juga aroma pegunungan menjadikan aku tidak ingin berlama-lama bergelut dengan guling. Aku buka jendela dan ku hirup dalam-dalam udara yang sangat menyegarkan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal itu. Sepertinya terakhir kali aku merasakan hal itu di Pasar Bubrah, Gunung Merapi saat perayaan 17 Agustus 2005 lalu. Ku amati beberapa orang sudah berjalan-jalan menikmati pagi yang begitu sempurna. Uh, sepertinya aku sedikit terlambat. Setelah cuci muka, tas kameraku langsungku sambar dan bergabung dengan beberapa kawan jurnalis yang lebih dulu jalan-jalan.Panti Rehab Seperti Perumahan

Gedung utama kompleks itu menjadi sasaran utama. Namun, yang membuat aku tertarik adalah kompleks asrama penghuni UTR BNN. Puluhan orang berpakaian putih dan celana hitam tampak berbaris rapi. Aku pikir merekalah penghuni kompleks itu. Memang tampak seperti mengikuti ospek saat masuk kuliah, namun itu bukan ospek aku yakin itu. Ya, mungkin itu bagian dari terapi bagi para pengguna Narkoba. Beberapa saat setelah itu, aku baru tahu, jika kompleks itu berdiri di atas lahan selus 5 hektare dengan luas bagunan 25.000 m2. Kompleks yang baru diresmikan pertengahan 2007 ini juga mampu menampung 600 orang. Saat aku berkunjung, penghuninya hanya sekitar 100 orang.

Aku berusaha mendekat kompeks asrama itu. Satu bangunan yang menarik perhatianku ada di sebelah kananku. Bangunan itu sama dengan bangunan lainnya, tapi papan nama yang ada menjadikan bangunan itu seperti memiliki magnet bagiku. Di depan bangunan itu tertulis “Ruang Isolasi”. Tapi sayang, saat aku mendekat, Satpam dengan bahasa yang menurutku sangat halus, meminta aku dan kawanku jurnalis dari koran Semarang menjauh. Yup, aku bisa memakluminya, walaupun rasa penasaran belum hilang.

Aktivitas penghuni asrama itu, tampak tidak menyurut bahkan semakin sibuk. Dari kejauhan tampak beberapa orang berlarian ke sana kemari dan tidak aku pahami apa maksudnya. Namun, aku yakin ada makna yang tersirat dari kegiatan itu. Setelah acara jalan-jalan, waktuku habis sudah untuk berbagai kegiatan resmi.

Baru sekitar dua jam, mataku terpejam setelah aku bergadang di lobi guest house. Jam baru menunjukkan pukul 4 pagi. Namun, suara orang mengaji menjadikan aku terjaga. Bukan aku merasa terganggu, namun menjadikan suasana pagi hari terasa sangat syahdu. Bagaimana tidak, di tengah hawa dingin, aku pikir semua orang memilih meringkuk di balik selimut. Namun, suara orang mengaji itu, seakan memberikan cahaya sebelum Matahari menyinari bumi pagi hari.

Aku mencoba mencari sumber suara itu, dan aku baru ingat jika tempakku tidur saat itu tidak jauh dari masjid. Ya, aku tahu, pendekatan religi bagi penghuni UTR BNN memang diterapkan, selain pendekatan medis ataupun psikologis. Bahkan, kabarnya, selain pendekatan religi, medKaki Gunung Salakis dan psikolgis, unit terapi itu juga menggunakan pendekatan sosiologis agar para penghuninya bisa kembali menghadapi kerasnya dunia.

Sayup-sayup suara orang mengaji seakan meninabobokan aku yang masih ngantuk. Aku tahu Tuhan pasti mendengar syahdunya suara mereka. Suara-suara orang-orang yang melafalkan keagungan-Nya, meskipun, mulut mereka pernah merasakan inex, merasakan asap ganja, atau aliran darah mereka terkena putaw dan sabu-sabu. Aku kembali terlelap dan berharap bakal mimpi indah, seindah harapan penghuni kompleks Lido.

Kali ini, aku ingin bicara tentang kesetiaan. Tidak apa-apakan, bukankah kesetiaan harus dibuktikan dan cinta memang butuh kesetiaan.

Mungkin terlalu naif jika aku mengklaim aku orang yang setia dan selalu komitmen dengan kesetiaan pada pasangan. Kemarin dulu, aku nonton Playboy Kabel di TV. Dari beberapa kali acara reality show itu, hampir semua korban pasti kepincut dengan penggodanya. Bahkan, ada yang harus mengakhiri hubungan setelah reality show tes kesetiaan itu ditampilkan.

Aku tidak ingin bilang jika aku diposisi sebagai korban, aku bakalan kekeh dengan pasangan dan mengesampingkan penggoda. Namun, bukan berarti, aku tidak komitmen dengan hubungan dan tergiur dengan penggoda.

Belum lama ini aku juga sering nonton talkshow dengan tema-tema politik. Bukan karena aku suka dengan politik, namun lebih karena ingin tahu politikus main badut-badutan. Pernah presenter talkshow bilang jika dalam dunia politik tidak ada kawan abadi dan tidak ada musuh abadi dan yang abadi adalah kepentingan politik itu sendiri.

Akhir-akhir ini aku jadi khawatir jika masalah politik sudah meracuni masalah kesetiaan dan percintaan tentunya. Jika masalah percintaan sudah didasari dengan kepentingan seperti kepentingan politik tadi, bisa jadi tidak ada pasangan abadi dan pembenci abadi. (Bukankah rasa cinta dan benci itu hanya tipis batasnya).

Sudah bosan aku mendengar orang-orang bilang benci dengan politik. Orang-orang itu bilang, sumpek dengan perilaku politik para politikus. Kalau seperti ini, aku yang jadi bingung perbedaan antara politikus dengan orang yang mengingari kesetiaan. Aku juga tidak tahu apakah orang-orang itu juga memiliki kesetiaan atau tidak. Kalaupun tidak, aku jadi bingung, apakah mereka adalah politikus kesetiaan.

Sebenarnya sudah ingin aku habisi saja tulisan ini, namun aku tak bisa menahan pertanyaan ini, apakah kalian juga membenci politik?

Sejak manusia mulai menapakkan kakinya di bumi, kisah perlawanan selalu menjadi bagian dari cerita kehidupan manusia. Tiap periode kehidupan, selalu saja ada kisah perlawanan yang muncul, bahkan, tiap epik kehidupan selalu ada saja cerita perlawanan, entah itu hanya mitos belaka atau benar-benar nyata.

Cerita tentang Robin Hood mungkin tidak pernah kita lupakan. Walaupun aku hanya tahu Robin Hood lewat layar kaca, namun konon kisah itu benar-benar nyata. Atau kisah perlawanan Si Pitung dari Betawi yang melegenda itu. Kisah perlawanannya menjadi sumber inspirasi perlawanan jaman penjajahan Belanda.

Ada juga kisah perlawanan Che Guevara yang melengenda itu. Che telah menjadi ikon perlawanan anak muda masa kini. Bahkan, mereka yang telah menggunakan kaus bergambar Che, merasa paling rebel saat ini. Ada pula cerita tentang Tan Malaka dengan 100% Meredeka-nya.

Atau kalau berbicara tentang kekinian, ada Subcomandante Marcos dengan ELZN-nya di Meksiko yang terang-terangan menolak globalisasi dan memimpikan “banyak dunia” dalam dunia ini. Kisah-kisah tentang Robin Hood, Si Pitung, Che, Tan Malaka hingga Sub Marcos, semuanya tentang kisah perlawanan, walaupun setting tempatnya berbeda, alasan yang tak sama atau maksudnya yang juga berlainan. Namun, mereka telah bercerita kepada kita tentang sebuah perlawanan. Atau mungkin lebih tepatnya perlawanan terhadap kemapanan.

Tak semuanya kisah perlawanan itu berakhir happy ending. Bahkan, sangat tidak sedikit kisah perlawanan itu, berakhir sedih atau bahkan yang ada hanya kegagalan. Tau, cerita tentang Si Pitung yang harus mati di tangan Belanda. Atau cerita Che yang tewas ditembak mati di Bolivia. Belum lagi, kisah Tan Malaka yang tewas tak tentu rimbanya.

Kadang kisah itu hanya angin lalu saja bagi kita. Bisa juga kisah itu menjadi ispirasi bagi mereka yang hendak melakukan perlawanan. Namun, apalah arti kisah perlawanan mereka, kalau kita tidak tahu apakah perlawanan itu masih dibutuhkan saat ini? Atau malahan kita benar-benar takut untuk melawan?

Laju kereta Argo Dwipangga tak lagi berjalan kencang seperti saat menembus kelamnya malam di tengah-tengah pematang sawah dan perkampungan. Gemerlap lampu kota seakan mennyiutkan nyali kereta untuk berlari kencang. Sudah sekitar 8 jam aku berada di kereta itu. Tak ada terpaan angin pagi yang menyambut, yang ada hanyalah hembusan AC yang selalu membuatku berkali-kali harus membetulkan selimut jatah penumpang.

Mulutku sudah kecut ingin menghisap rokok. Betapa tersiksanya diriku, selama 8 jam tidak merasakan aroma tembakau membakar paru-paru (Aku tau itu tidak baik untuk kesehatan seperti peringatan pemerintah), namun bayangan betapa nikmatnya menghisap rokok di pagi hari ditemani dengan secangkir kopi susu selalu menggelayuti pikiran. Kini yang kurasakan hanyalah nikmatnya kopi susu, tanpa ada asap rokok yang mengepul. Namun, sebentar lagi ini semua akan berakhir, pikirku.

Stasiun Manggarai baru terlewati begitu saja. Aku sebenarnya, tak tahu pasti, namun aku yakin, Stasiun Gambir akan segera menyambutku. Dan benar saja, tak lebih dari 20 menit, kereta berjalan semakin pelan dan akhirnya siap membawaku dalam riuhnya Ibukota. Hanya satu hal yang aku pikirkan saat itu, merokok. Bungkusan rokok sudah aku pegang saat aku meninggalkan kursi kereta. Dan bersiaplah aku membakar paru-paru. Ups, saat satu batang rokok sudah dalam genggaman, mataku melihat adanya tanda larangan merokok. Huff, untuk beberapa menit harus ku urungkan niat merokok.

Satu-satunya jalan adalah segera keluar dari stasiun. Yeah, di depan Stasiun Gambir yang aku tidak tahu terletak di Jakarta sebelah mana, nasfu merokokku yang tertahan 8 jam ku muntahkan saat itu juga. Dua batang habis dalam waktu tak lebih dari 30 menit. Setelah urusan hisap menghisap selesai, saatnya berpikir melanjutkan perjalanan ini. Beberapa kali tukang ojek dan supir taksi menawariku, namun semuanya ku tampik begitu saja. Bukan karena aku tidak mau, namun lebih karena aku tidak tahu ke mana kaki ini harus melangkah.

Dewa kecil yang bernama ponsel alias HP, aku keluarkan dan saat itu juga aku menghubungi kawanku. Yah, kini aku sudah punya tujuan, yaitu shelter busway. Aku harus naik busway menuju Kampung Rambutan, agar bisa bersua dengan kawanku itu yang hari itu akan aku paksa menjadi guideku di Ibukota. Dengan langkah mantap ku langkahkan kaki ini menuju shelter busway Gambir 1 yang tepat berada di depan stasiun.

Berlagak sudah tau lika-liku Jakarta, ku beli karcis busway. Agar tidak tampak terlalu udik, aku basa basi ngobrol dengan petugas busway walaupun ujung-ujungnya aku tanya bagaimana caranya agar aku bisa sampai Kampung Rambutan. Janganlah kau ejek aku yang tak tahu Jakarta. Ini memang adalah pengalaman pertamaku ke Jakarta seorang diri. Sebelumnya, aku ke Jakarta selalu dengan rombongan besar, entah bersama rombongan kawan kuliahku dulu atau rombongan keluarga saat aku kecil dulu.

Petugas busway itu hanya bilang, kalau ke Kampung Rambutan, lewat Kampung Melayu dulu dan jawaban itu aku iyakan saja, padahal dalam hati aku bilang, Kampung Melayu saja aku tak tahu itu Jakarta sebelah mana. Sebuah busway tiba, dan dengan modal nekat aku masuk saja (Hayo, ngaku saja, siapa di antara kalian yang belum pernah naik busway). Hari itu hari Minggu dan kata kawanku, hari Minggu, busway tak akan terlalu penuh penumpang dan benar juga omongan kawanku itu.

Awalnya, agak takjub, asik juga naik busway, namun perasaan itu hanya bertahan sekitar 5 menit, setelah itu biasa saja. Aku tak tahu, apakah perasaan biasa saja itu dipengaruhi oleh jalan yang dilalui busway penuh dengan lubang yang tak ada bedanya dengan jalan antara kosku menuju kantorku di Solo. Dari percakapan sopir bus da kernet, aku tahu bus itu akan melaju ke arah Muara… (aku lupa). Feelingku bilang jika ini akan semakin menjauh dari tujuanku, Kampung Rambutan.

Beberapa shelter busway terlewati dan saat bus berhenti di shelter Rawa Buaya, aku pilih turun. Aku tahu, feeling tak selamanya benar, namun lebih baik aku ikuti feeling daripada menuju arah yang tak tentu ujungnya. Di Rawa Buaya, aku kembali menghubungi kawanku dan dia hanya bilang, tenang saja kawan, nikmati dulu Jakarta dan pasti ada jalan menuju Kampung Rambutan.

Di sinilah aku melihat geliat Ibukota yang penuh keacuhan dan keangkuhan. Sekitar 30 menit aku berada di tempat itu, tak ada kesan yang tergores dalam hati, aku hanya melihat orang dengan kesibukan sendiri-sendiri, begitu juga aku, yang sibuk berpikir bagaimana caranya aku sampai Kampung Rambutan. Aku mantapkan diri untuk kembali naik busway ke arah sebaliknya Muara…(beneran aku lupa). Beberapa shelter terlewati dan saat tiba di Harmoni, semua penumpang turun dan aku ikut saja. Di Shelter Harmoni yang lebih besar dari shelter lainnya, aku benar-benar kebingungan. Banyak pintu yang menunjukkan arah tujuan, namun tak ada yang menunjukkan arah Kampung Rambutan. Dewa kecil HP membantuku, aku menghubungi kawanku dan dia menyarankan aku naik ke arah Stasiun Kota dan dari tempat itu aku melanjukan perjalanan dengan bus patas arah Kampung Rambutan. Saran itu, aku turuti, selain aku agak mulai malas berpikir mencari arah Kampung Rambutan, nama Stasiun Kota juga terpasang di salah satu pintu shelter Harmoni.

Kini aku naik busway untuk kali ketiganya dalam waktu tak lebih dari dua jam. Shelter Stasiun Kota telah ada di depan mata dan aku segera menuju tempat itu. Ku ikuti saja arah langkah orang lain. Wah, ternyata shelter ini lebih luas dari Harmoni, walaupun sepertinya masih dalam tahap pembangunan. Aku mencari jalan keluar untuk mendapatkan bus patas seperti petunjuk kawanku. Saat ada di depan tempat informasi, aku coba-coba tanya arah menuju Kampung Rambutan. Dari petunjuk petugas, jika naik bus patas, aku bisa mendapatkannya di dekat shelter Stasiun Kota dan jika naik busway, aku bisa naik busway ke arah Dukuh Atas.

Karena ada petunjuk baru, aku nekat untuk kembali naik busway. Aku merasa tertantang menuntaskan teka-teki Kampung Rambutan dengan busway. Dari Stasiun Kota, busway kembali membawaku ke Harmoni. Dari sini aku bisa menuju Dukuh Atas seperti kata petugas tadi. Sampai Dukuh Atas perjalanan sepertinya menjadi begitu mudah, meskipun harus berganti-ganti busway dari Matraman terus Kampung Melayu dan akhirnya Kampung Rambutan tujuan akhirku.

Jarum jam di HP-ku menunjukkan pukul 10 pagi. Padahal aku naik busway dari Gambir pukul 6 pagi. Ya…ya, 4 jam naik busway. Dengan waktu selama itu, aku bisa menghabiskan waktu untuk perjalanan dari Solo ke kampung halamanku di Muntilan dan balik lagi ke Solo yang total jaraknya 160 Km.

Dari Terminal Bus Kampung Rambutan, aku naik angkot (lupa jurusannya yang jelas menuju arah Bekasi tempat kawanku tinggal). Badanku sudah letih, belum sarapan, tidak minum, akupun sudah malas berpikir lagi dan hanya bisa berharap aku segera tiba di rumah kawanku. Butuh waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dari Kampung Rambutan ke rumah kawanku. Ah, sangat melelahkan sekali perjalanan kali ini. Dari pagi hari hingga menjelang siang aku baru bisa sampai tujuan. Namun, apapun itu, aku terkesan, termasuk juga saat busway melintas di dekat bundaran HI dengan tugu selamat datangnya, sempat aku ucapkan dalam hati, selamat pagi Jakarta.