Harapan yang terbajak…

Dikirim Logika dengan kaitan (tags) , , , , pada 9 Mei 2009 oleh angscript

“Kalau saya sih, berharap anggota DPR yang baru bisa memperbaiki ekonomi, mengurangi pengangguran dan perbaikan sistem pendidikan.”
Kalimat itu meluncur dari seorang warga yang diwawancarai seorang jurnalis TV. Harapan itu terlontar tepat satu bulan setelah pesta usai, saat mereka penyelenggara Pemilu berkewajiban mengumumkan hasil 9 April lalu.
Berjuta-juta harapan dari ratusan juta orang di negeri ini, dibebankan pada mereka yang menyandang status sebagai wakil rakyat. Pada mereka yang berjanji atau pura-pura berjanji akan memperjuangkan kepentingan rakyat. Pada mereka yang biasa bersafari dan berdiskusi di Gedung Senayan.
Ada yang berharap, pendidikan gratis, ada harapan tentang jaminan kesehatan, harapan soal lapangan pekerjaan, harapan tentang kedamaian, harapan tentang perbaikan moral bangsa, harapan tentang stabilitas bangsa hingga harapan tentang perbaikan upah buruh. Harapan tentang hari esok yang lebih baik.
Di pundak mereka para wakil rakyat yang terpilih, harapan itu digantungkan. Mereka yang telah memilih para calonnya hanya bisa berharap, berharap agar harapan yang telah dititipkan tidak tercecer di tengah gegap gempitanya Gedung Senayan, tidak terselip di antara kepentingan pribadi dan kelompok dan tidak tertinggal di mobil dinas mewah anggota Dewan. Tentunya rakyat juga tidak berharap, harapan itu terbuang dan menguap begitu saja di tengah riuh rendahnya perebutan kekuasaan. Rakyat hanya bisa berharap para wakilnya tidak menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya.
Segunung harapan yang ditumpuk itu, kini seakan hanyut bersama sang waktu yang terus berjalan. Harapan itu telah tergantikan oleh usaha mencari kekuasaan. Harapan itu telah pupus di tengah jalan sebelum diperjuangkan. Harapan itu telah dimusnahkan oleh naluri binatang, naluri berkuasa dan harapan itu telah dibajak oleh mereka para petinggi partai.
Mereka tidak lagi sibuk memikirkan soal memperjuangkan harapan, tidak lagi memikirkan aspirasi yang disampaikan, tidak lagi memikirkan keinginan para pemilihnya, mereka lebih memilih mencari kekuasaan. Dan yang menyakitkan, mereka berdalih, dengan kekuasaan mereka bakal lebih bisa memperjuangkan harapan itu.
Masih terlalu pagi untuk mengatakan mereka gagal memenuhi harapan ratusan juta orang di negeri ini, namun jika harapan itu telah terbajak, masihkan kita bisa berharap.

“Ini Pesta Demokrasi, Bung!”

Dikirim Logika dengan kaitan (tags) , , , , , , pada 4 April 2009 oleh angscript

Entah mengapa, bagiku raungan suara knalpot yang memekakkan telinga lebih indah suaranya daripada celoteh Jurkam yang mengobral janji. Wajah para simpatisan Parpol yang dicorat-coret juga lebih sedap dipandang mata daripada wajah para Caleg yang mengesankan diri “smart” ketika debat.

Janji yang terucap Jurkam ketika kampanye, pernah aku dengar 5 tahun yang lalu. Apa yang mereka katakan tak jauh beda ketika mereka berdiri di atas panggung tahun 2004 lalu di depan ribuan massa yang aku yakin lebih menunggu goyangan hot penyanyi dangdut daripada ocehan Jurkam. Kalaupun ada bedanya, hanya sedikit saja.

Dan mereka para Caleg sudah terlalu lelah mengesankan diri sebagai seseorang yang “smart”, “perduli” ataupun “aspiratif”. Mereka terlalu letih dengan citra yang ingin didapatkan hingga akhirnya, aku terlalu muak melihat wajah mereka. Bagi mereka citra adalah segalanya, termasuk citra sebagai orang yang dianiaya, didzolimi. Citra sebagai orang yang tertindas terlalu sering diciptakan sehingga hampir semua Caleg mengaku orang tertindas (entah siapa yang menindas).

Ketika mereka Jurkam dan Caleg sibuk dengan cara mereka sendiri menghadapi pemilu, maka masyarakat punya cara sendiri melampiaskan nafsu demokrasi. Knalpot sepeda motor yang meraung-raung, arak-arakan di jalanan yang memacetkan, corat-coret wajah sebagai bentuk fanatisme menjadi cara tersendiri untuk menghadapi proses demokratisasi di negeri ini.

Kampanye Pemilu telah membuktikan dangdut lebih menarik dari janji kampanye. Mendayu-dayunya musik dangdut lebih asoy daripada obral janji yang berbusa-busa. Hentakan musik dangdut (plus kendangnya) lebih membuat masyarakat bergoyang dan mengangkat tangan daripada teriakan Caleg “Pilih saya.”

Saat kampanye sudah akan berakhir, mereka para Caleg dan Jurkam masih punya itung-itungan politik menuju hari pemilihan dan bagi masyarakat, akhir kampanye adalah akhir dari segala pelampiasan nafsu belajar demokrasi seperti kata seorang simpatisan partai yang harus kena tilang polisi, “Ini pesta demokrasi, Bung.”

Balada PHK

Dikirim Logika dengan kaitan (tags) , , , , , pada 24 Februari 2009 oleh angscript

Dua polisi yang mengapit tubuh Har, menjadikannya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Mobil polisi dengan suara sirine meraung-raung melaju kencang menuju kantor kepolisian. Kedua tangannya dipegang erat oleh kedua polisi itu.

Bercak darah masih terlihat membekas di pakaian perawat bagian ICU itu. Kedua tangannya pun masih penuh cipratan darah yang mulai mengering. Ini bukan darah pasien yang masuk ICU. Bukan pula darah korban kecelakaan yang ditangani Har. Namun darah itu adalah darah lima orang yang menjadi sasaran Har untuk menumpahkan segala kekalutan hatinya. Darah yang keluar dari mereka yang akan mengetokkan palu “kematian” pemecatan Har dari sebuah rumah sakit.

Mobil warna coklat tua itu tiba-tiba direm mendadak. Dengan cekatan, anggota polisi itu membuka pintu mobil dan langsung membawa Har keluar menuju sebuah bangunan yang di bagian atasnya tertulis “Satuan Reskrim”. Tangan kanan anggota polisi itu memegang erat leher Har, seperti memiting dan Har hanya bisa tertunduk sambil mengikuti jalannya polisi itu.

Lampu blitz dari kamera para jurnalis terus mengarah ke wajah Har. Mungkin karena malu, dengan segala upaya, Har mencoba menutupi wajahnya. Pintu sebuah ruangan langsung dibuka dan Har dibawa ke dalamnya. “Jangan difoto…jangan difoto,” ujar Har beberapa kali.

Namun, perkataan Har tersebut seakan tertelan oleh kesibukan yang tiba-tiba menyeruak di ruangan yang namanya cukup menyeramkan. Ruang Unit Kejahatan Dengan Kekerasan (Jatanras). Kepalanya terus tertunduk mencoba menghindar dari jepretan kamera yang terus menghujam ke arahnya. Bagi jurnalis mungkin ini adalah adegan yang paling menarik, sebuah borgol telah disiapkan dan dengan begitu cepatnya borgol itu telah melekat di kedua tangannya, secepat rana lensa kamera mengabadikan momen itu dengan foreground sebuah parang yang masih penuh darah.

***

Surat dengan amplop warna coklat itu masih dipandanginya terus. Seakan ada kebimbangan, Har berkali-kali membaca tulisan dalam surat itu untuk sekedar memastikan kalimat demi kalimat dalam surat itu. Kalimat yang begitu menghujam perasaannya adalah kalimat “meminta Saudara Har untuk datang ke Bagian Personalia jam 12.30 WIB.”

Bagi Har, surat panggilan itu seperti surat pengantar menuju “jurang kematian”. Surat yang mengabarkan sebuah dukalara seorang perawat yang telah mengabdi selama 14 tahun di rumah sakit. Skorsing selama 1 bulan telah dijalaninya dan kini surat panggilan itu akan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan tentang masa depannya di rumah sakit swasta itu.

Keputusan skorsing dari manajemen rumah sakit yang diterimanya bulan lalu kembali muncul dalam memori otaknya. Skorsing itu datang hanya beberapa hari setelah ada laporan jika bapak dua anak ini melakukan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi yang sedang magang di rumah sakit itu.

Hatinya kalut ketika menerima keputusan skorsing itu meski Har juga tahu jika perbuatan asusilanya memang salah dan merupaka kategori pelanggaran berat. Hari-hari skorsing dihabiskan dengan merenung. Selain itu, Har juga beberapa kali mendatangi rumah para petinggi rumah sakit tersebut untuk meminta maaf dan memohon “pengampunan dosa”.

Rasa takut akan adanya PHK begitu terasa pada diri Har. Bukan saja soal tidak adanya tanggapan positif dari para petinggi rumah sakit itu, namun gaji yang diterima hanya 50% dari biasanya sejak skorsing juga menjadikannya semakin kalut.

Apalagi anak pertamanya masuk rumah sakit setelah menderita demam berdarah dan anak keduanya yang baru berumur 10 bulan masih membutuhkan susu yang harganya terus meroket. Memang isterinya juga bekerja. Namun, perhitungan matematika tidak masuk logika sehingga Har begitu khawatir ekonomi keluarganya bakal carut marut.

***

Sebelum berangkat ke rumah sakit memenuhi panggilan dari manajemen, Har sempat menyalami isterinya. “Yang sabar ya mas. Apapun hasilnya nanti, pasti Tuhan memberikan hal yang terbaik untuk kita,” pesan isterinya.

Bayang-bayang menjadi pengangguran terus menggelayuti pikiran. Usianya tak lagi muda, sudah 39 tahun dan Har tahu betul, dengan usianya itu, dirinya tidak akan mudah mencari pekerjaan baru. Jangankan pekerjaan baru, dari berita-berita di koran dan televisi, Har mendengar jika ribuan pekerja di negeri ini terancam kena PHK.

Sepeda motor yang dibeli secara kredit telah distater. Har sudah siap berangkat. Ada kebimbangan yang begitu besar dalam diri Har. Ketakutan akan PHK, kekhawatiran akan nasib anak dan isterinya dan bayang-bayang kesuraman masa depannya.

Roda sepeda motor itu mulai berputar pelan. Namun, hanya beberapa meter motor itu berjalan, Har langsung menghentikannya. Har langsung turun dari motornya dan kembali ke rumah. Dengan ayunan langkah kaki yang cepat, Har menuju dapur. Sebuah parang yang sudah mulai berkarat diambilnya dan dimasukkannya ke dalam tas. Dengan kemantapan hati, Har kembali menaiki sepeda motornya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Kali ini Har sudah mengambil keputusan. Dirinya akan menjadi “hakim” atas kebenaran yang diyakininya sebelum pimpinannya menjadi “hakim” yang akan mengetokkan palu vonis PHK terhadapnya.

Untuk Sebuah Kesalahan

Dikirim Logika dengan kaitan (tags) , , , , , pada 20 Februari 2009 oleh angscript

Wajah Nova Zaenal dan Bernard Mamadou terlihat bersinar-sinar. Jelas wajah itu bertolak belakang beberapa hari sebelumnya. Wajah pasi, muram penuh kepasrahan ketika ruang tahanan menanti dua pemain sepakbola itu.

Pakaian batik dengan motif warna coklat menjadi saksi bisu hari pembebasan mereka. Setelah sempat bersalaman dengan Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo yang secara resmi mengabulkan penangguhan penahanan pemain Persis dan Gresik United tersebut, udara kebebasan yang tertenggut selama satu pekan terakhir kembali mereka dapatkan.

Kamis pekan lalu bisa jadi menjadi hari yang akan terus mereka kenang. Setelah kericuhan di lapangan, polisi yang dipimpin langsung Kapolda akhirnya menangkap dan menahan mereka atas sebuah kesalahan “adu jotos” di lapangan.

Setelah bersalaman, Nova langsung mengucapkan kata maaf atas kekhilafannya. Dalam suratnya yang ditujukan kepada Kapolda, Nova dan Mamadou juga mengaku emosi sehingga akhirnya saling pukul dan mereka meminta maaf atas “kesalahan” itu.

Surat itu mungkin begitu ampuh karena akhirnya mereka berdua untuk sementara bernafas lega bisa keluar dari tahanan. Dengan jawaban diplomatis, Kapolda mengatakan, tak perlu Nova meminta maaf kepadanya. “Jangan meminta maaf kepada saya. Apa yang saya lakukan karena saya mencintai sepakbola. Saya ingin sepakbola Indonesia bisa lebih baik lagi,” jawab Jenderal bintang dua ini.

Di mata polisi, dua pemain sepakbola itu memang patut diduga “dipersalahkan” atas aksi kekerasan di lapangan. Penangkapan dan penahanan pun akhirnya menjadi sebuah “keniscayaan” atas “kesalahan” yang dilakukan. Namun, begitu kata maaf meluncur dan terucap, ada sebuah keringanan akan “kesalahan” yaitu penangguhan penahanan yang akhirnya mereka dapatkan.

***

Lain Nova dan Mamadou, lain pula dengan Briptu Dadang. Oknum anggota Satintelkam Poltabes Solo yang diduga menjadi pelaku perampokan taksi juga harus siap membayar atas sebuah “kesalahan” yang telah diperbuatnya. Bahkan, dengan nada tegas, Kapolda menyatakan, hukuman bisa sampai pada tingkat pemecatan.

Di depan Kapolda, Dadang juga mengakui apa yang telah diperbuatnya merupakan kesalahan. “Siap, salah,” kata dia dengan gaya bicara khas anggota polisi berbicara pada pimpinannya.

Di depan belasan wartawan, Kapolda pun menyatakan komitmennya atas penegakan hukum. Hukum harus menjadi panglima. “Seandainya langit akan runtuh, penegakan hukum tetap harus jalan,” tegasnya.

Bersama seorang mahasiswa di Solo, anggota polisi yang baru dua tahun berdinas tersebut, nekat melakukan aksi perampokan dengan bermodalkan senjata mainan. Dia beralasan ingin membantu temannya, namun bagi aparat penegak hukum, kesalahan harus ada ganjarannya.

***

Terlalu sering kesalahan itu dilakukan dalam keseharian, mulai dari salah melanggar rambu lalu lintas hingga salah saat bekerja. Dan kesalahan itu memang harus ada ganjaran hukuman, entah hukuman langsung ataupun tidak langsung.

Dari kesalahan itu, orang bisa belajar tentang arti kebenaran. Dari perbuatan yang lalai dan khilaf, orang bisa belajar tentang arti dosa. Dari sebuah kesalahan, orang bisa lebih menghargai kata maaf. Namun, kadang pula terdengar kata majelis hakim saat mengambil keputusan terucap kata: “Tidak ditemukan adanya alasan pemaaf.”

Bukan Intel Sukab

Dikirim Logika dengan kaitan (tags) , , , , , , pada 19 Februari 2009 oleh angscript

Ini bukan cerita tentang Intel Sukab yang melegenda setelah dikisahkan Seno Gumira Ajidarma. Bukan sebuah kisah tentang seorang intel polisi yang mencoba mengendus gelagat aksi kejahatan atau intel polisi yang memilih menjadi beking di tempat hiburan malam.

Ini cerita tentang intel yang biasa mengamankan aksi demonstrasi. Intel yang suka memanggul kamera video untuk kepentingan kepolisian. Sosok intel muda yang “salah mengambil langkah”. Intel Dudung namanya.

Baru dua tahun, Intel Dudung bertugas di kota ini. Kota yang sedang menggeliat sebagai penyangga dua ibukota provinsi di Jawa. Tak ada yang terlalu menonjol dari Intel Dudung, dia layaknya polisi pada umumnya, dan anggota intel pada khususnya.

Ketidakmenonjolkan Intel Dudung ini menjadikannya tidak menjadi pusat perhatian. Tak banyak yang mengenalnya. Anggota satu korps yang berlainan satuan saja belum banyak yang mengenalnya.

Namun, kejadian disuatu malam, membalikkan itu semua. Dari yang tidak menonjol, menjadi dicari-cari. Dari yang tidak dikenal menjadi ingin tahu. Pagi itu berhembus kabar, Intel Dudung ditangkap. Kabar yang beredar, dia diduga ikut terlibat kasus perampokan taksi.

Tak ada yang menyangka. Tak ada yang menduga. Semuanya bertanya-tanya. Bahkan, pimpinannya pun dibikin bingung bukan kepalang karena belum bisa mengkonfirmasikan kabar penangkapan itu. Dua buah handphone milik Intel Dudung tak bisa dihubungi. Kecurigaan akan penangkapan itu semakin menguat. Hari itu dan mungkin hari-hari berikutnya Intel Dudung bakal jadi buah bibir di kantor kepolisian kota ini.

Semuanya bertanya-tanya mencoba menelisik akan kepastian kabar itu. Ada yang mencoba menghubungi wartawan yang dianggap lebih tahu tentang kabar itu. Ada yang berbisik-bisik kecil di tengah bekerja sambil mengkisahkan tentang keseharian Intel Dudung. Ada yang merayu jurnalis foto yang mungkin memiliki foto penangkapan itu atau setidaknya foto Intel Dudung.

Ada yang langsung menjadi “hakim” dengan menyalahkan perilakunya. Ada yang mencoba bersikap netral, ada yang melihat dari sudut pandang pendapatan anggota polisi dan ada pula yang acuh tak acuh. Namun, pertanyaan besar akan penangkapan itu belum juga terjawab. Mungkin sore itu, mereka pulang dengan tanda tanya besar di kepala mereka.

Hari itu, mungkin ribuan kali orang-orang di kantor kepolisian itu menyebutkan nama Intel Dudung. Dan pagi harinya, seakan memberikan jawaban, semua koran di kota ini mengkisahkan tentang penangkapan Intel Dudung.

Namanya Mus

Dikirim Logika dengan kaitan (tags) , , , , , , , pada 8 Februari 2009 oleh angscript

Panggil saja dia dengan panggilan Mus. Usianya baru 15 tahun. Untuk anak seukuran dia, tubuhnya tergolong bongsor. Kulit wajahnya hitam, menunjukkan sinar ultraviolet sering membakar kulitnya. Wajahnya tidak memancarkan wajah anak yang tampak tanpa dosa. Namun, wajahnya juga tidak menunjukkan keberingasan anak-anak. Wajah standar anak Indonesia pada umumnya, terlihat takut pada orang yang lebih tua dan malu-malu untuk mengungkapkan perasaannya.
Borgol besi melilit kuat di kedua pergelangan tangannya. Kepalanya tertunduk lesu seakan menyesali perbuatan yang dia lakukan pagi itu. Kalau bisa dan boleh mengungkapkan kata sumpah serapah, Mus ingin berkata-kata, “Mengapa…mengapa harus berakhir seperti ini.”
Di pagi yang buta, kala langit belum sepenuhnya terang, saat kabut pagi masih menyelimuti Kota Solo, tubuh Mus menggigil ketakutan. Ketakutan yang luar biasa besar karena ini menyangkut hidup dan mati. Atap rumah menjadi persembunyiannya selama dua jam. Suara pentungan diseret, gesekan pedang dengan aspal yang bikin telinga miris, semakin menyiutkan nyalinya. Belum lagi, teriakan yang saling bersahutan, menjadikan Mus ingin kencing di celana.
Pilihan hidup memutuskan Mus merampok malam itu. Namun, sial bagi dia dan kawannya Teguh. Korban memberikan perlawanan dan membuat Teguh tak berdaya hingga akhirnya pingsan dipukuli massa. Mus bisa selamat dari kejaran massa setelah naik ke atap rumah dan kini atap rumah sebelah yang habis disatroninya menjadi tempat persembunyiannya.
Kedua kakinya sebenarnya sudah kesemutan dari tadi. Namun, untuk menggerakkan kakinya saja, Mus takutnya bukan kepalang. Satu gerakan bisa menimbulkan suara dan itu merupakan bahaya besar. Sepatu lars polisi beberapa kali terdengar keras. Instruksi dari seseorang yang mungkin komandan polisi terdengar begitu dekat, “Coba dikepung, ada yang dari barat, utara, selatan, timur. Semuanya bergerak.”
Perintah itu diikuti suara sepatu lars seperti orang baris berbaris. Seperti ada ritme-nya, namun bagi Mus itu adalah ritme kematian. Mus terlalu bimbang untuk memutuskan, apakah tetap bertahan terus atau akhirnya mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Mus tidak memiliki sapu tangan putih sebagai tanda dia menyerah kalah, seperti dalam film-film perang yang sering ditontonnya.
Seluruh tubunya sudah terasa pegal. Mus belum ingin menyerah, namun begitu pegalnya tubuhnya sehingga Mus memutuskan untuk memutar badannya. “Itu di atap kelihatan topinya,” teriak seseorang.
Teriakan itu seperti panggilan kematian. Tiba-tiba jantung Mus seperti berhenti. Matanya terpejam kuat seakan tidak berani menghadapi kenyataan yang akan segera terjadi. Suara orang berteriak-teriak semakin terdengar keras. “Ambil tangga..ambil tangga.”
Nyalinya semakin mengkeret. Tak tahu lagi harus berbuat apa, Mus sudah pasrah. “Sudah, semuanya mundur. Semua anggota mendekat, cepat.” Mus mendengar suara itu, seperti suara orang yang tadi memberi perintah untuk mengepung. Tinggal menunggu waktu saja, bagi Mus untuk tertangkap. Namun, ia masih belum tahu, apakah ia akan “habis” pagi itu, atau Tuhan masih memberi kesempatan lain.
Suara anak tangga dinaiki begitu membahana di telinganya. Inilah akhir dari segalanya pikir Mus. Belum sempat Mus mengambil nafas untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk, Mus telah melihat moncong pistol di depannya. Mukannya pucat pasi dan dengan langkah gontai Mus berdiri. “Habisi saja,” teriak orang-orang.
Polisi yang bersiap seperti membuat barikade menenangkan massa yang terlanjur geram dan marah. Satu anak tangga terakhir dan kini Mus kembali menginjak bumi seakan membawa kembali dalam dunia nyata. Polisi tak berseragam yang menodongkan pistol tadi memegang erat lengannya dan tanpa ada komando, Mus diseret lari. Polisi memberikan pengamanan yang super ketat kepada Mus, seperti artis yang diserbu penggemarnya.
Sinar matahari mulai muncul di ufuk timur. Menandakan pagi sebenar-benarnya pagi segera tiba. Di atas truk polisi yang menyelamatkannya dari kejaran massa, Mus melihat matahari yang bersinar cerah.

Mengejar Mimpi

Dikirim Rasa dengan kaitan (tags) , , , pada 6 Februari 2009 oleh angscript

Mataku terbuka yang ada hanyalah gelap. Aku terjaga dari mimpi buruk yang tak kutahu artinya. Bau asap rokok masih terasa di kamar kosku yang teramat sempit. Belum sepenuhnya aku benar-benar “utuh”. Mungkin masih setengah sadar setelah aku tadi tertidur pulang kerja.

Kutarik nafas dalam-dalam dan kucoba memahami kehidupan yang belum “utuh” ini. Butuh beberapa menit untuk aku kembali menjadi manusia yang punya logika dan rasa. Kuangkat kaki dan membuka pintu kamar meski aku tau angin malam yang dingin segera masuk ke kamarku.

Air putih dari gelas plastik ku teguk perlahan. Dalam gelapnya kamarku, tanganku meraba mencari bungkus rokok. Nyala api yang membakar ujung rokok menjadikan kamar sedikit terang meski hanya sesaat. Aku melangkah keluar untuk menghilangkan rasa sumpek di dalam kamar yang terasa semakin sesak saja.

Malam telah benar-benar pekat dan tak ada nyanyian dari binatang malam untuk sekedar menjadi penghibur rasa kesepian. Langit yang tak memberikan bintang dan bulan ku pandang sebentar. Sedikit kecewa karena hanya langit yang hitam pekat meski tidak hujan.

Aku duduk di kursi panjang ada di depan kamar. Asap rokok terus keluar dari mulut dan aku merenung. Entah apa yang kurenungkan. Aku hanya mengingat tentang masa depan. Mungkin hanya khayalan, namun terasa indah ketika alam terlalu sedih karena tidak memberikan cahaya kebahagiaan malam.

Hisapan panjang aku habiskan dan pintu kamar tak lupa aku kunci. Aku langsung rebahan di kasur dan berharap mimpi indah. Mimpi itu harus kukejar mulai malam ini.

Logika & Rasa

Dikirim Logika, Rasa pada 23 Januari 2009 oleh angscript

Hujan petang tadi menyisakan tetes-tetes air di ujung genteng depan rumahku. Butir-butir air itu jatuh ke tanah yang sudah basah. Kemanakah air itu akan mengakhiri perjalanan. Ditelan bumikah? Atau malah larut dalam air got yang baunya menyengat hidung?

Angin malam membelai daun-daun pohon yang masih basah. Daun bergoyang seperti mengikuti nada-nada simphoni malam. Satu, dua, daun berguguran, bukan sebagai pertanda musim semi tiba, namun daun itu terlalu ringkih dan tua. Kemanakah daun tua itu akan berakhir. Melapuk dan tertelan bumi? Atau hilang tersapu oleh petugas kebersihan sudah siap bekerja ketika fajar tiba?

Suasana seperti ini terlalu sentimentil untuk dirasakan. Butir-butir air hujan, angin malam dan daun yang berguguran membawaku dalam dunia sentimentil yang teramat sangat. Aku terlalu sentimentil merasakan itu semua. Merasakan segala sesuatu dengan rasa sehingga aku hidup dalam labirin sentimentil.

Apakah sentimentil itu bisa membunuh logika yang ada. Aku tak tau pasti karena perbedaan antara logika dan rasa juga tak ku ketahui secara pasti batasannya. Apakah rasa lebih berkuasa atas logika atau logika adalah raja atas rasa. Kehidupan ini sepertinya cukup melelahkan sehingga aku lupa bertanya apakah aku berjalan atas nama logika atau rasa.

Dimanakah sebenarnya logika dan rasa itu berada? Apakah logika itu berada di dalam relung rasa yang paling dalam? Apakah rasa itu berada di dalam sistem logika yang kadang begitu rumit dicerna? Aku tak tau pasti. Sepertinya aku berjalan di padang pasir yang bernama logika dan rasa.

Catatan Perjalanan dari Selo

Dikirim Rasa dengan kaitan (tags) , , , , pada 2 Januari 2009 oleh angscript

Jari-jari kakiku terasa sedikit ngilu karena kaus kaki tipisku tak mampu menahan dinginnya hawa pegunungan. Pagi ini, pagi pertama di tahun 2009, telah kubulatkan tekat untuk mencoba melangkahkan kaki meski sinar matahari belum juga berhasil menembus tebalnya kabut.

Keduanya tanganku aku masukkan ke dalam saku celana. Tanpa sarung tangan, saku celana mungkin satu-satunya perlindungan bagi tangan yang kedinginan. Sebenarnya seluruh tubuhku juga kedinginan. Aku hanya menggunakan kaus oblong dirangkapi hem flannel tanpa jaket.

Pintu bungalow tempat aku menginap aku tutup rapat. Segera saja, kulangkahkan kaki menuju jalan beraspal yang tepat berada di samping penginapan yang disewa dengan harga sangat murah meriah. Aku dan enam kawanku hanya membayar Rp 76.000 untuk menginap satu malam. Harga sewa penginapan di Selo, Boyolali yang terletak di antara gunung Merapi dan Merbabu relatif lebih murah jika dibandingkan dengan tarif penginapan di daerah Tawangmangu, Karanganyar ataupun Kaliurang, Jogjakarta.

Kuamati jalan menanjak tepat berada di depanku. Namun, jarak pandangku tak lebih dari 10 meter. Kepekatan kabut membuat jarak pandangku terbatas. Rasa penasaran tiba-tiba muncul. Aku ingin mengetahui ada apa di balik kabut tebal itu. Kakiku melangkah pelan. Selain karena aku kedingian, namun juga karena jalan menanjak yang mengharuskan aku mengatur tenaga agar tidak mudah lelah.

Bayangan warna hitam berbetuk rumah mulai terlihat di kanan kiri jalan. Berjalan di tengah perkampungan yang berada di daerah pegunungan memberikan warna lain dalam perjalanan karena tidak hanya tidak hanya rumah-rumah warga yang terlihat, namun di sekitar rumah juga terdapat kebun sayuran. Sebagian besar rumah yang ada terlihat masih terbuat dari gedhek, namun sebagian memang sudah ada rumah gedongan.

Begitu aku sampai di dekat rumah paling ujung, jalan yang tadinya beraspal kini telah berganti menjadi jalan yang terbuat dari cor-coran semen. Kabut memang masih menyelimuti kawasan Selo, namun tidak setebal saat aku mulai berjalan. Di kanan kiriku kini terhampar kebun-kebun sayuran. Beberapa petani terlihat sedang menggarap kebun mereka. Beberapa kali aku juga sempat berpapasan dengan sejumlah warga. Ada yang membawa rumput yang kemungkinan besar untuk pakan sapi. Beberapa orang membawa sabit menuju kebun mereka.

Kabut yang mulai berkurang juga menjadikan pandanganku lebih luas. Bukit-bukit yang menjulang mulai terlihat jelas. Sebagian besar bukit yang ada telah dimanfaatkan oleh warga untuk lahan pertanian, terutama sayuran. Lahan-lahan pertanian yang ada di bukit membentuk motif-motif berbagai rupa sehingga sangat indah jika dilihat.

Rasa letih mulai terasa di sekujur tubuhku. Aku memang belum berjalan terlalu jauh, kemungkinan baru sekitar satu kilometer. Saat jalan datar aku mencoba menghimpun tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Kawanku sempat menghubungi dan mengabarkan jika enam kawanku yang berada di bawah hendak sarapan pagi. Sudah aku putuskan untuk telat bergabung dan memilih untuk melanjukan perjalanan.

Jalan yang aku lewati lebih banyak menanjak hanya ada beberapa jalan datar yang aku istilahkan sebagai bonus. Bonus untuk menghimpun tenaga lagi. Jalan kecil itu seperti membelah bukit karena di kanan dan kirinya hanya ada bukit dan bukit. Dan aku sangat yakin jika dibalik bukit itu terdapat bukit-bukit lainnya. Beberapa petani yang sedang bercocok tanam di bukit-bukit itu terlihat kecil.

Setelah berjalan cukup jauh, aku putuskan untuk keluar dari jalan utama. Aku menuju jalan setapak yang biasa dilalui petani. Aku menuju salah satu bukit yang tidak jauh dari tempatku berada. Jalan setapak itu cukup licin setelah semalaman hujan terus menguyur kawasan Selo. Ketika tiba di puncak bukit seperti ada kenikmatan tersendiri yang aku rasakan. Pemandangan yang ada juga lebih luas. Kabut semakin tipis sehingga dari puncak bukit itu, aku bisa melihat gunung Merapi dengan cukup jelas. Bisa melihat kota-kota yang ada di bawah, entah itu Boyolali ataupun Solo.

Rasa letih sepertinya langsung hilang ketika alam memberikan keindahan. Apalagi, matahari mulai bisa menembus kabut sehingga rasa hangat langsung terasa. Setelah puas melihat pemandangan, aku melakukan sebuah “ritual suci” yang sudah lama tidak aku lakukan. Di atas bukit itu, aku memejamkan mata dan pikiran dikonsentrasikan atas berbagai kejadian yang beberapa waktu lalu telah terjadi padaku dan baru kemudian dalam hati mengucapkan sebuah make a wish. Ritual itu dulu biasa aku lakukan saat berada di puncak gunung dan sudah lebih dari 3 tahun aku tidak melakukan pendakian gunung. Begitu “ritual suci” selesai, aku kembali turun, kawan-kawanku sudah menunggu untuk sarapan pagi.

Bidadari & Bunga di Telinga Kanannya

Dikirim Rasa dengan kaitan (tags) , , , , , pada 2 Januari 2009 oleh angscript

Dalam gelapnya malam, bidadari itu seperti turun dari langit. Seperti kilat yang muncul begitu tiba-tiba kala hujan, bidadari itu tiba-tiba hadir di tengah nyanyian jangkrik malam. Bintang dan bulan yang tadinya malu-malu menampakkan diri, kini perlahan mulai memancarkan cahayanya begitu bidadari itu menapakkan kakinya di bumi. Dalam temaram lampu petromaks, bidadari itu berjalan pelan menuju arahku.

Bidadari itu tampak siluet karena seperti ada cahaya di belakangnya yang sengaja dipancarkan untuk menembus kabut tebal. Langkah kakinya tampak anggun. Seperti pakaian adat Jawa, selendang yang melingkar di kedua pundaknya berkelebatan terkena angin pegunungan yang berhembus agak kencang.

Aku terpaku dalam diam, seperti menunggu bidadari itu menghampiriku. Seperti ada nuansa lain yang muncul, entah itu magis entah itu malah romantis. Aku sedikit berkeringat karena gugup, meski hawa dingin pegunungan seperti menusuk-nusuk hingga tulang.

Bidadari itu terus mendekat. Jarak kami kini tak lebih dari 10 meter. Aku masih saja belum bisa melihat secara jelas wajahnya. Yang aku lihat hanya bentuk tubuhnya, pakaian kebesarannya dan suara langkah kaki yang kini semakin jelas. Aku hanya menunggu dan menunggu.

Lampu petromaks yang ada di dekatku tiba-tiba meredup dan akhirnya padam. Cahaya terang yang ada di belakang bidadari itu begitu menyilaukan mata hingga aku tak kuasa lagi untuk memejamkan mata. Hanya kegelapan yang ada ketika mataku tertutup rapat. Suara nyanyian jangkrik tak lagi terdengar. Aku merasakan adanya kesunyian yang sebenar-benarnya sunyi.

Kuberanikan diri untuk kembali membuka mata dan bidadari itu telah ada di depanku. Cahaya terang yang menyilaukan mata hilang entah kemana. Bisa ku lihat secara jelas wajah bidadari itu. Wajah yang mencerminkan keanggunan seorang perempuan. Kecantikan sempurna yang memberikan keteduhan bagi siapa saja yang melihatnya.

Pakaian yang dikenakannya begitu serasi dengan tubuh dan wajahnya. Seperti ada mahkota yang melingkar di kepalanya. Dan ada bunga yang terselip di daun telinga kanannya. Bunga yang sangat indah karena mekar dengan sempurna. Begitu indahnya bunga itu hingga aku bisa melihat tekstur dan detail bunga yang seakan menghembuskan wewangian di sekitarnya.

Mata beningnya menatap lurus ke arahku. Senyuman dari bibir indahnya mengembang. Begitu terpukaunya aku hingga aku membatu, tak ku balas juga senyuman itu. Tangan kanannya mengambil bunga yang terselip di daun telinganya. Entah apa maksudnya, dia mencoba membaui bunga yang dipegangannya. Kepalanya tertunduk seperti menikmati wewangian bunga itu.

Senyuman kedua kembali meluncur begitu bidadari itu selesai membaui bunga itu. Diulurkan tangan yang memegang bunga itu ke arahku. Seperti memberikan sandi, bidadari itu menganggukkan kepala. Kulit tangannya terasa begitu lembut ketika tanpa sengaja aku menyentuhnya saat menerima bunga itu.

Tak tahu atas dasar apa, aku tiba-tiba mendekatkan bunga itu ke hidungku. Aku tiba-tiba ingin membaui bunga itu. Begitu wanginya bunga itu hingga aku memejamkan mata saat membauinya. Satu, dua, tiga menit telah berlalu dan aku kembali membuka mata. Bidadari itu tak lagi berada di hadapanku. Aku mencoba melihat ke arah langit dan berhadap menemukannya lagi. Bukan bidadari yang kutemukan, namun butir-butir air yang jatuh dari langit yang datang sebagai pertanda hujan akan segera tiba.