Mata sebelah kirinya masih lebam. Ada warna merah kebiru-biruan di kantong mata kirinya itu. Darah di telinga kirinya sudah mengering. Dia hanya bisa duduk termenung menatap layar televisi sambil lalu.
Panggil saja dia dengan nama Bib. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran laki-laki muda berumur 22 tahun ini. Mungkin Bib sedang memikirkan tentang apa yang telah diperbuatnya dini hari tadi. Mungkin juga kata hatinya sedang berkata-kata tentang arti tobat.
“Dari belakang saya turunkan celananya selutut. Dia sedang tidur jadi tidak tahu, tapi baru sebentar ada yang lihat,” kata Bib lirih.
Perbuatannya itulah yang akhirnya membawa santri pondok pesantren (Ponpes) di Solo ini berada di kantor kepolisiaan. Dalam keremangan malam di sebuah asrama Ponpes di salah satu sudut Solo, Bib belum tidur.
Dia menuju ranjang santri lainnya, santri baru yang masih duduk di bangku SMP. Usia bocah itu terpaut 10 tahun dari usianya. Dengan begitu tenangnya Bib menurunkan celana bocah itu. Dan, semua terjadi begitu cepatnya.
Namun, sepertinya nasib tidak berpihak kepadanya. Santri lainnya mengetahui perbuatan Bib. Ketenangan malam di Ponpes itu terusik. Santri-santri terbangun. Dan Bib hanya bisa pasrah ketika beberapa tangan santri lainnya dengan keras menghujani wajahnya.
“Tidak pernah ada perempuan di pondok, laki-laki semua,” itulah kata meluncur dari mulut Bib berikutnya.
Dia masih tertunduk lesu. Beberapa polisi yang ada dalam ruangan itu juga masih sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Seperti sedang membuat ‘pengakuan dosa’, remaja itu berujar pelan, perbuatannya malam itu bukanlah perbuatan pertamanya. Bib mengaku, beberapa santri lainnya sudah pernah menjadi ‘korban’-nya. Suaranya semakin pelan ketika dia mengaku sudah 10 kali melakukan perbuatan itu.
Seperti membuat pembelaan atas apa yang telah dilakukannya, dia tidak sendirian. Apa yang dilakukannya terhadap santri baru malam itu, juga pernah dilakukan santri-santri lainnya. Bahkan, dia mengaku hanya ikut-ikutan apa yang dilakukan santri lainnya. “Dulu ada yang seperti itu, terutama yang dari luar Jawa, tapi tidak pernah ketahuan.”
Dari masuk SMP hingga lulus SMA dan kini dia bekerja di sebuah percetakan di Solo, kehidupan Bib tidak pernah lepas dari Ponpes itu. Ponpes yang mengajarkan tentang ilmu pengetahuan dan agama. Tempat dimana dogma-dogma agama dan ilmu pengetahuan digali dan dikaji.
Bib sangat paham dan tahu apa yang telah dilakukannya malam itu tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang agama. Dia tahu dalam agama itu disebut dengan dosa. Cukup lama dia terdiam tanpa kata dan tiba-tiba dia beranjak bangkit dari kursi panjang menuju salah seorang polisi. Dia meminta izin agar diberi kesempatan untuk sembahyang menghadap Tuhan. “Saya disuruh tobat,” ucap dia.
Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah obrolan di wedangan depan Yahoo Kalitan seorang kawan mengusulkan adanya sebuah kegiatan dari kawan-kawan jurnalis di Solo untuk mengenang seseorang yang bernama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS).
Katanya