Dialektika kata

Dari kata semuanya bermula. Tawa, duka, cinta, benci, dendam, suka, marah, dibangun dari kata.

Tak terhitung berapa kata yang terlontar dalam sehari. Ada kata-kata bijak, kata-kata caci-maki, kata-kata canda hingga kata hati. Semuanya terucap, menjejali ruang-ruang kosong, memenuhi setiap sudut bumi.

Ada kalanya kata berlalu begitu saja tanpa sempat terdokumentasikan. Ada saatnya pula, kata menancap terlalu dalam dalam pojok-pojok relung hati dan sistem syaraf otak.

Apa jadinya dunia ini tanpa kata? Tanpa kata, dunia ini tak pernah kenal reality show TV Katakan Cintamu yang populer beberapa tahun lalu. Tanpa kata, kita tak bisa tahu makna sebuah kejadian dan yang paling penting tanpa kata, kita tidak bisa merasakan tawa dan duka, cinta dan benci.

Kata memang selalu menawarkan keseimbangan dan dialektika. Dari kata kita bisa tertawa bisa berduka, juga cinta juga murka, jadi dendam jadi senyum. Maka jangan pernah takut untuk berkata demi kesimbangan hidup. Jangan ragu untuk berkata karena kata adalah segalanya.

About angscript

Aku hanyalah jurnalis kecil yang bekerja di media kecil di sebuah kota kecil dan menghadapi masalah-masalah kecil dan orang-orang kecil. Tulisan ini hanyalah tentang hal-hal kecil agar aku bisa belajar berkata-kata, saat kata belum terbungkam dan kata masih bisa menjadi senjata. Jangan dianggap serius!!! Lihat semua pos milik angscript

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: